Copa del Rey 2026
Sejarah Berulang 1987! Real Sociedad Resmi Jadi Raja Spanyol Usai Tekuk Atletico Madrid!
Pablo Marin merayakan kemenangan bersama rekan satu timnya setelah memenangi laga final Copa del Rey antara Atletico Madrid vs Real Sociedad di Estadio de la Cartuja, Minggu dini hari, 19 April 2026. (AP Photo)
SPANYOL, SabangMerauke News - Final Copa del Rey menghadirkan drama panjang penuh ketegangan tinggi. Real Sociedad memastikan gelar juara usai mengalahkan Atlético Madrid lewat adu penalti, Minggu dini hari, 19 April 2026. Skor 2-2 selama 120 menit berubah menjadi kemenangan 4-3 dari titik putih yang menegangkan.
Pertandingan berlangsung dengan intensitas tinggi sejak menit pertama tanpa jeda tekanan berarti. Kedua tim tampil agresif dengan tempo cepat dan saling menekan sepanjang laga berlangsung. Final ini terasa seperti pertarungan mental sekaligus fisik yang tidak memberi ruang bernapas.
Gol cepat langsung tercipta hanya beberapa detik setelah peluit awal dibunyikan wasit pertandingan. Ander Barrenetxea menyambut umpan silang dengan sundulan tajam ke sudut gawang lawan. Gol tersebut menjadi salah satu pembuka tercepat dalam sejarah final kompetisi bergengsi ini.
Keunggulan awal memberi dorongan besar bagi Real Sociedad untuk terus menekan lawan. Permainan cepat dan agresif membuat lini pertahanan Atletico sempat kehilangan keseimbangan awal. Namun, respons cepat datang dari tim lawan yang tidak ingin tertinggal terlalu lama.
Atletico Madrid menyamakan kedudukan melalui serangan terorganisir pada menit ke-19. Ademola Lookman mencetak gol lewat tembakan keras setelah menerima umpan matang rekannya. Gol tersebut mengembalikan keseimbangan permainan sekaligus meningkatkan intensitas duel di lapangan.
Momentum sempat berpindah ke Atletico dengan tekanan bertubi-tubi ke lini pertahanan lawan. Namun, situasi kembali berubah menjelang akhir babak pertama melalui insiden di kotak penalti. Keputusan wasit menunjuk titik putih menjadi momen krusial yang mengubah jalannya pertandingan.
Mikel Oyarzabal menjalankan tugas penalti dengan tenang dan penuh kepercayaan diri tinggi. Bola meluncur mulus ke gawang tanpa mampu dihentikan penjaga gawang lawan. Skor berubah menjadi 2-1 dan bertahan hingga babak pertama berakhir dengan tensi tinggi.
Memasuki babak kedua, Atletico Madrid meningkatkan tekanan demi mengejar ketertinggalan. Serangan dibangun dari berbagai sisi dengan tempo tinggi dan intensitas yang semakin meningkat. Upaya tersebut menunjukkan determinasi kuat dalam upaya menghindari kekalahan di final penting ini.
Gol penyeimbang akhirnya datang pada menit ke-83 melalui momen krusial. Julián Álvarez melepaskan tembakan keras ke sudut atas gawang tanpa bisa dihentikan. Gol itu menghidupkan kembali harapan dan memaksa pertandingan berlanjut ke babak tambahan.
Waktu normal berakhir dengan skor imbang dan laga berlanjut ke perpanjangan waktu penuh ketegangan. Kedua tim tetap saling menekan meski kelelahan mulai terlihat dalam setiap gerakan pemain. Namun tidak ada gol tambahan tercipta hingga 120 menit permainan berakhir dramatis.
Peluang besar sempat dimiliki Atletico sebelum adu penalti dimulai di momen krusial. Beberapa peluang gagal dimaksimalkan, membuat penentuan harus dilakukan dari titik putih. Situasi ini membuka babak baru yang menguji mental serta ketenangan setiap pemain di lapangan.
Adu penalti berlangsung menegangkan dengan tekanan besar di setiap tendangan yang diambil. Unai Marrero tampil sebagai sosok kunci dengan penyelamatan penting di momen krusial. Ia menggagalkan dua eksekusi awal lawan yang menjadi penentu arah kemenangan timnya.
Real Sociedad tampil lebih tenang dalam mengeksekusi setiap tendangan penalti. Meski satu tendangan sempat digagalkan, eksekutor lain berhasil menjalankan tugas dengan baik. Keunggulan tersebut cukup untuk memastikan kemenangan dan mengunci gelar juara musim ini.
“Tim menunjukkan ketenangan luar biasa dalam momen paling menentukan sepanjang pertandingan,” ujar Pellegrino Matarazzo, pelatih Real Sociedad. Ia menilai mental pemain menjadi faktor utama dalam keberhasilan menaklukkan tekanan besar. Komentar tersebut menegaskan pentingnya kesiapan mental dalam pertandingan dengan tensi tinggi.
Dari kubu lawan, Diego Simeone mengakui pertandingan berjalan sangat ketat sepanjang waktu. “Kami bertarung keras hingga akhir, hasil ditentukan detail kecil di momen krusial,” ujarnya. Pernyataan itu mencerminkan kekecewaan setelah perjuangan panjang tidak berbuah gelar juara.
Gonçalo Guedes tampil sebagai motor serangan sepanjang pertandingan berlangsung. Ia mencatat assist penting, memenangkan penalti, serta aktif dalam fase menyerang dan bertahan. Performa lengkap tersebut membuatnya layak dinobatkan sebagai pemain terbaik di laga final ini.
Keberhasilan ini menjadi gelar keempat dalam sejarah Real Sociedad di ajang tersebut. Momen ini juga mengulang kenangan lama saat mengalahkan lawan yang sama melalui adu penalti. Bedanya, kali ini kemenangan dirayakan langsung bersama pendukung yang memadati stadion.
Pertandingan ini menjadi gambaran jelas betapa sepak bola sering ditentukan momen kecil krusial. Empat gol, ratusan duel, dan tekanan panjang akhirnya berujung pada adu mental di titik putih. Akhir cerita berpihak kepada tim yang lebih tenang dalam menghadapi tekanan terbesar pertandingan. R-02
BERITA TERKAIT :
-
UEFA Europa League
Freiburg Hancurkan Rekor 11 Laga Celta Vigo Sampai Menangis di Balaidos!
-
UEFA Champions League
Gol Cepat Tak Cukup! Barcelona Tumbang Tragis dari Atletico Madrid

