Isi Video Call Terakhir Bripda Simanungkalit dan Ayahnya Jadi Pertanda Sebelum Nyawa Melayang!
Keluarga Bripda Natanael Simanungkalit menunggu di depan ruang Forensik RS Bhayangkara Polda Kepri. (ist)
KEPRI, SabangMerauke News - Suasana duka menyelimuti RS Bhayangkara Polda Kepulauan Riau sejak Selasa dini hari, 14 April 2026. Tangisan keluarga Bripda Natanael Simanungkalit pecah di depan ruang forensik rumah sakit. Mereka menunggu autopsi sambil memeluk harapan kecil atas kejelasan kematian anggota muda tersebut.
Seorang ibu berdiri lemah dengan tubuh gemetar di depan pintu ruang forensik tertutup. Suara lirihnya memanggil nama anaknya terdengar berulang kali memecah suasana sunyi sekitar. Namun, pintu tetap tertutup rapat tanpa jawaban dari dalam ruangan yang terasa begitu dingin.
Air mata terus mengalir di wajah sang ibu yang sulit menerima kenyataan pahit. Ia sesekali bersandar pada keluarga lain sambil mencoba menahan kesedihan mendalam. Suasana itu menghadirkan luka nyata yang terasa berat bagi seluruh anggota keluarga hadir.
Ayah korban terlihat lebih banyak diam dengan pandangan kosong ke arah lantai rumah sakit. Tangannya sesekali mengepal menahan emosi yang tidak mudah diungkapkan dengan kata sederhana. Kerabat lain duduk berdekatan, mencoba saling menguatkan dalam suasana kehilangan yang sunyi.
Bripda Natanael Simanungkalit merupakan anak kedua dari empat bersaudara dalam keluarga sederhana tersebut. Putra pasangan Royamser Simanungkalit dan Rosdewi br Napitupulu dikenal ramah dan penuh semangat.
Kesedihan itu semakin terasa lantaran hanya satu jam sebelum dinyatakan meninggal dunia, Natanael masih sempat berkomunikasi dengan sang ayah melalui panggilan video. Percakapan terakhir itu terjadi pada Senin, 13 April 2026, sekitar pukul 23.00 WIB.
Royamser mengaku memiliki firasat tidak enak sehingga memutuskan untuk menghubungi putranya. “Saya telepon jam 11 malam, tanya kabarnya. Dia bilang baik-baik saja,” ujar Royamser saat menceritakan momen tersebut kepada kerabat.
Saat dihubungi, Natanael mengaku sedang bersama teman-temannya. Natanael juga sempat menenangkan ayahnya. Namun, Royamser memberikan pesan khusus kepada anaknya. Ia meminta Natanael tidak diam jika menghadapi masalah di lingkungan tempatnya bertugas.
“Saya bilang, kalau ada masalah lapor ke Propam, jangan didiamkan. Saya hanya feeling saja waktu itu. Tapi dia bilang aman,” lanjut Royamser.
Firasat itu ternyata menjadi kenyataan pahit. Sekitar pukul 02.00 WIB dini hari, Selasa, 14 April 2026, Royamser mendapat kabar bahwa anaknya telah meninggal dunia di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Kepri. Kabar tersebut sontak membuat Royamser dan istrinya syok.
Keduanya bahkan sempat tak sadarkan diri saat menerima informasi duka tersebut. “Kami sempat tidak sadarkan diri. Dapat kabar anak saya meninggal sekitar jam 12 malam,” ungkapnya dengan suara bergetar.
Natanael Simanungkalit baru memulai karier sebagai bintara angkatan 2025. Ia merupakan harapan besar bagi keluarganya. Namun, harapan itu kini terhenti setelah kabar tragis datang pada dini hari tadi. Mereka segera menuju rumah sakit dengan perasaan cemas bercampur harapan yang belum pasti. Sejak pagi, keluarga bertahan di lokasi menunggu kabar dari proses medis berjalan perlahan.
Kuasa hukum keluarga, Sudirman Situmeang, menyampaikan kondisi emosional keluarga saat ditemui di lokasi. Ia menjelaskan keluarga masih berusaha menerima kenyataan yang datang begitu tiba-tiba. “Keluarga masih sangat terpukul dan terus menunggu hasil autopsi untuk mendapatkan kejelasan,” ujarnya.
Ia juga menegaskan keluarga berharap proses hukum berjalan terbuka tanpa menimbulkan kecurigaan. Menurutnya, kejelasan menjadi kebutuhan utama keluarga dalam menghadapi kehilangan tersebut. “Semua harus dibuka terang agar keluarga memahami apa yang sebenarnya terjadi,” tegas Sudirman.
Di ruang tunggu, waktu terasa berjalan lambat di tengah suasana duka mendalam. Setiap langkah petugas keluar ruangan membuat keluarga langsung menoleh dengan harapan besar. Namun kabar pasti belum juga datang hingga siang mulai mendekat perlahan.
Kabid Propam Polda Kepri, Kombes Pol Eddwi Kurniyanto, menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban. Ia menegaskan penyelidikan berjalan untuk mengungkap peristiwa yang menimpa anggota muda tersebut. “Kami turut berduka dan memastikan penanganan kasus ini berjalan serius hingga tuntas,” katanya.
Kabid Humas Polda Kepri, Kombes Pol Nona Pricilia Ohei, menyampaikan proses berjalan profesional. Ia memastikan autopsi dilakukan untuk mengetahui penyebab kematian secara ilmiah dan menyeluruh. “Hasil pemeriksaan akan menjadi dasar penting dalam mengungkap peristiwa ini,” ujarnya.
Bagi keluarga, proses itu terasa panjang karena setiap detik dipenuhi rasa kehilangan mendalam. Mereka hanya ingin mengetahui penyebab pasti kematian yang datang secara tiba-tiba tersebut. Harapan sederhana itu menjadi penopang di tengah kesedihan yang belum mereda hingga kini.
Keluarga juga mengenang Natanael sebagai sosok yang ringan tangan membantu orang tua. Ia dikenal memiliki semangat tinggi serta selalu berusaha memberikan yang terbaik dalam tugas. Kenangan itu kini menjadi cerita yang terus diingat dalam suasana kehilangan penuh luka.
Di sudut ruang tunggu, beberapa kerabat terlihat menenangkan ibu korban yang kembali menangis. Suasana hening sesekali pecah oleh isak yang sulit ditahan dalam situasi tersebut. Kehilangan ini terasa begitu dekat dan nyata bagi keluarga yang hadir di lokasi.
Hingga Selasa sore, keluarga masih bertahan menunggu hasil autopsi dari tim dokter forensik. Mereka berharap hasil tersebut mampu menjawab semua pertanyaan yang terus menghantui pikiran. Di balik tangisan, tersimpan harapan agar keadilan hadir bagi Bripda Natanael Simanungkalit. R-02

