Lima Menit Lagi Sampai Rumah, Mobil Pasutri Ini Malah Terjun ke Jurang Maut!
Tim Basarnas melakukan proses pencaharian korban laka tunggal yang jatuh ke aliran Sungai Lae Kombih.(Basarnas Sumut)
Sumut, SABANGMERAUKE NEWS - Perjalanan singkat berubah menjadi kisah yang menggantung di Lae Kombih. Mobil yang ditumpangi pasangan suami istri terjun ke jurang lalu hilang di arus sungai, Senin, 30 Maret 2026. Hingga Sabtu, 4 April 2026, pencarian masih berlangsung tanpa hasil yang menenangkan keluarga.
Rudi Simanjuntak dan Risma Tumangger berangkat pulang usai menghadiri pesta malam itu. Keduanya melintas di Jalur Lintas Sumatera yang dikenal sempit dan minim penerangan. Jalan berliku dan gelap sering menjadi cerita yang berulang di kawasan tersebut.
Sekitar pukul 23.00 WIB, Rudi sempat menghubungi anaknya, Yogi Simanjuntak. Ia meminta pintu rumah dibuka karena perjalanan tinggal beberapa menit lagi. Percakapan singkat itu menjadi momen terakhir sebelum semuanya berubah menjadi teka-teki panjang.
Kanit Patroli Sat Lantas Polres Pakpak Bharat, Ipda Lesmana, mengungkap kejanggalan setelah telepon itu. “Hingga tengah malam, korban tidak tiba, padahal jarak tinggal sekitar dua kilometer,” ujarnya. Ponsel korban masih aktif, namun tidak memberi respons saat dihubungi kembali.
Pagi harinya, keluarga mulai menyadari ada yang tidak beres dalam perjalanan tersebut. Mereka melaporkan kejadian itu kepada kepala desa dan bersama warga melakukan penyisiran sepanjang jalur. Upaya sederhana berubah menjadi pencarian serius setelah ditemukan tanda mencurigakan di lokasi.
Di tepi jurang Sungai Lae Kombih, warga menemukan pelat nomor kendaraan dan serpihan kaca. Jejak roda yang mengarah ke tebing memperkuat dugaan bahwa mobil terjun ke aliran sungai. Dari titik itu, pencarian mulai difokuskan pada jalur air yang dikenal ganas.
Kapolres Pakpak Bharat, AKBP Muhammad Agustiawan, memastikan tim langsung bergerak melakukan pengecekan. “Drone digunakan untuk melihat area jatuh dan ditemukan serpihan kendaraan di sekitar lokasi,” katanya. Koordinasi dilakukan dengan Basarnas dan BPBD untuk memperluas pencarian secara cepat.
Tim gabungan mulai menyisir sungai menggunakan perahu karet dan pemantauan udara. Penyisiran dilakukan dari titik jatuh hingga ke wilayah hilir yang memungkinkan korban terbawa arus. Setiap titik diperiksa dengan harapan menemukan petunjuk baru di tengah arus deras.
Namun, medan di Sungai Lae Kombih tidak mudah ditaklukkan oleh tim pencarian. Arus kuat, batu besar, serta tebing curam menjadi tantangan serius bagi setiap langkah penyisiran. Risiko keselamatan selalu menjadi pertimbangan dalam setiap pergerakan tim di lapangan.
Kepala Desa Sikelang, Ismail Anak Ampun, menyampaikan kondisi alat yang terbatas di lokasi. “Perahu karet milik lokal tidak bisa digunakan sehingga harus mengandalkan bantuan dari luar,” katanya. Keterbatasan ini membuat proses pencarian berjalan lebih lambat dari yang diharapkan.
Serpihan kendaraan kembali ditemukan di beberapa titik sepanjang aliran sungai selama penyisiran. Temuan itu menguatkan dugaan mobil terbawa arus setelah jatuh dari ketinggian. Namun, keberadaan korban masih belum terlihat meski pencarian terus diperluas hingga beberapa kilometer.
Di tepian sungai, keluarga korban menunggu dengan perasaan campur aduk antara harapan dan cemas. Doa terus dipanjatkan sambil menatap arus yang mengalir tanpa henti setiap waktu. Pos pemantauan didirikan untuk memastikan setiap tanda dapat segera dilaporkan ke tim utama.
Wali Kota Subulussalam, M Rasyid Bancin, menyampaikan bahwa upaya koordinasi lintas wilayah terus berjalan. “Beberapa titik pencarian sudah ditentukan agar penyisiran lebih efektif,” ujarnya. Ia juga menyoroti jalur tersebut sebagai kawasan rawan kecelakaan yang sering berulang.
Menurutnya, jalur Lae Kombih memiliki sejarah panjang kecelakaan dengan korban tidak sedikit. Tikungan tajam, minimnya penerangan, serta pengaman jalan terbatas menjadi faktor utama risiko. Kondisi ini terus menjadi perhatian, namun belum mendapat penanganan menyeluruh.
Ia berharap perbaikan jalur dapat menjadi prioritas pembangunan dalam waktu dekat. Usulan peningkatan infrastruktur sudah lama disampaikan, namun belum terealisasi sepenuhnya. Harapan muncul agar kejadian serupa tidak kembali terulang di masa mendatang.
Petugas mengimbau pengemudi meningkatkan kewaspadaan saat melintasi jalur tersebut, terutama malam hari. Kecepatan kendaraan, kondisi jalan, serta jarak pandang menjadi faktor penting keselamatan. Jalur ini menuntut konsentrasi penuh dalam setiap perjalanan yang melintas.
Pencarian akan terus dilanjutkan dengan memperluas jangkauan hingga perbatasan wilayah sekitar. Tim berharap arus tidak membawa korban terlalu jauh dari titik awal kejadian. Setiap petunjuk kecil akan menjadi kunci untuk membuka akhir dari kisah ini.
Tragedi ini kembali menyisakan pesan tentang pentingnya keselamatan di jalur rawan kecelakaan. Infrastruktur, alat evakuasi, serta kesiapan tim menjadi elemen penting dalam setiap penanganan. Lae Kombih kembali menjadi pengingat sunyi tentang risiko yang sering datang tanpa tanda. R-02

