Rekaman Rahasia di Toilet Kampus Terbongkar, Publik Desak Hukuman Tegas
Ilustrasi mahasiswa di cabuli. Foto : Istimewa
Serang, SABANGMERAUKE NEWS - Peristiwa mengejutkan terjadi di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa pada siang hari. Seorang mahasiswa berinisial MZ tertangkap merekam dosen saat berada di toilet kampus. Kejadian berlangsung Selasa siang sekitar pukul 13.00 WIB di Gedung B Pakupatan, Serang.
Insiden ini terbongkar cepat saat korban merasa gerak-geriknya diawasi dari balik sekat kamar mandi.
Korban langsung menyadari ada ponsel mengarah merekam dari sela pembatas toilet sempit.
Situasi berubah tegang ketika korban spontan keluar dan menghadang pelaku di lokasi kejadian.
Presiden mahasiswa, Muhammad Ridham, membenarkan kronologi tersebut saat dihubungi wartawan.
Ia mengatakan aksi pelaku berlangsung singkat namun langsung terdeteksi korban di tempat.
“Korban melihat lalu langsung mencegat dan mengamankan pelaku di lokasi kejadian,” ujarnya.
Ketegangan meningkat saat pelaku berusaha mengelak dan mengaku bukan bagian dari kampus tersebut.
Pelaku bahkan sempat memberontak saat diamankan sebelum petugas keamanan datang membantu situasi.
Korban berteriak meminta pertolongan hingga perhatian sekitar langsung tertuju pada kejadian tersebut.
Setelah pelaku diamankan, pemeriksaan terhadap ponsel mengungkap temuan yang jauh lebih serius.
Di dalam galeri perangkat ditemukan sejumlah foto dan video dengan pola tindakan serupa sebelumnya.
Temuan ini memunculkan dugaan aksi tersebut tidak terjadi sekali melainkan berulang kali dilakukan.
Ridham menjelaskan hasil pemeriksaan awal menunjukkan adanya banyak dokumen dengan konten serupa.
“Setelah ponsel dibuka, ditemukan banyak dokumen yang mirip dengan aksi dilakukan pelaku,” katanya.
Pernyataan tersebut langsung memicu kekhawatiran luas terkait keamanan ruang privat di kampus.
Kasus ini kini bergerak menuju proses hukum setelah rencana pelaporan ke pihak kepolisian mencuat.
Pihak mahasiswa mendesak penanganan transparan, serius, dan tidak berhenti pada sanksi administratif semata.
Dorongan kuat juga muncul agar korban mendapatkan perlindungan maksimal selama proses berjalan.
Ridham menegaskan pentingnya investigasi tuntas agar kejadian serupa tidak terulang kembali di lingkungan kampus.
Ia juga menyoroti perlunya evaluasi sistem pencegahan pelecehan seksual di area pendidikan tinggi.
“Kasus ini harus diusut tuntas dan pelaku diberi sanksi adil serta tegas,” ucapnya.
Sementara itu, pihak fakultas di lingkungan kampus langsung mengeluarkan pernyataan resmi terkait insiden tersebut.
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik mengecam keras segala bentuk pelecehan seksual di area kampus.
Pernyataan itu menegaskan komitmen menjaga lingkungan akademik tetap aman dan bermartabat.
Dalam pernyataan resmi, pihak fakultas menegaskan dukungan penuh kepada korban dalam menghadapi situasi ini.
Pelaku disebut harus diproses sesuai aturan berlaku tanpa kompromi demi keadilan bersama.
“Kampus harus menjadi ruang aman, inklusif, dan bermartabat bagi seluruh civitas akademika,” tulis pernyataan tersebut.
Kasus ini menambah daftar panjang kekhawatiran terkait keamanan ruang privat di lingkungan pendidikan tinggi.
Publik kini menyoroti sejauh mana sistem pengawasan kampus mampu mencegah tindakan serupa terjadi lagi.
Sorotan tajam juga mengarah pada perlunya regulasi lebih tegas terkait perlindungan korban pelecehan seksual.
Di tengah sorotan tersebut, harapan muncul agar penanganan kasus berjalan terbuka dan memberi efek jera nyata.
Kampus sebagai ruang belajar diharapkan kembali menjadi tempat aman tanpa rasa takut tersembunyi.
Peristiwa ini menjadi pengingat keras bahwa keamanan ruang privat tetap harus dijaga tanpa kompromi.(R-04)

