Warga 3 Desa di Kampar Heboh, Ribuan Ikan Mati Mendadak di Sungai Tapung Kanan
Ribuan ikan mati mendadak di Sungai Tapung Kanan, Kampar pada Rabu (1/4/2026). Foto: Istimewa
RIAU, SabangMerauke News - Warga tiga desa di Kecamatan Tapung Hilir, Kampar dihebohkan oleh kematian ribuan ikan yang mengambang di sepanjang Sungai Tapung Kanan, Rabu (1/4/2026). Tewasnya ikan diduga karena air sungai tersebut tercemar oleh zat berbahaya. Investigasi telah dilakukan untuk mengusut diduga korporasi yang bertanggung jawab atas pencemaran sungai tersebut.
Tokoh setempat yang juga pemerhati lingkungan, Zepri Padela menyatakan, kematian ikan secara massal diketahui pada Selasa (31/3/2026) oleh nelayan yang sedang mencari ikan di Sungai Tapung Kanan. Warga yang pencari ikan kaget manakala ikan di dalam Sungai tersebut berserak mengambang tak bernyawa lagi.
Kematian ikan terjadi di sepanjang Sungai Tapung Hilir, secara khusus di wilayah Desa Sekijang, Desa Koto Garo dan Desa Koto Aman, Kecamatan Tapung Hilir, Kampar.
"Ikan-ikan sudah mati mengambang. Sebagian dalam kondisi megap-megap di air," kata Zepri Padela pada Rabu (1/4/2026).
Kematian satwa air di Sungai Tapung Kanan ini tidak saja terjadi pada beragam jenis ikan seperti baung dan selais. Namun juga jenis udang dan kepiting air tawar ikut mati mendadak.
Kabar kematian ribuan ikan di Sungai Tapung Kanan kemudian dilaporkan ke Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kampar. Bersama tim kepolisian dan DLH Kampar, masyarakat kemudian menyusuri tiga anak sungai kecil yang bermuara ke Sungai Tapung Kanan.
Menurut Zepri, ditemukan terjadi perubahan warna air yang mengalir dari tiga anak sungai. Tim DLH sempat melakukan uji sampel singkat untuk mengukur parameter air. Hasilnya, pada sejumlah titik uji sampel, kadar Dissolved Oxygen (DO) air berada jauh dari baku mutu untuk Sungai Tapung Hulu yang masuk golongan sungai kelas 2.
Sesuai penggolongannya, air sungai kelas 2 peruntukannya dapat digunakan untuk prasarana/ sarana rekreasi air, pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman, dan/atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.
Zepri menerangkan, parameter DO yang diambil dari sejumlah titik berada pada kisaran 1,5 mg/liter dan 2,6 mg/liter. Padahal, berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 22 Tahun 2021 tentang Peyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, parameter DO pada Sungai kelas 2 yakni di atas 4 mg/liter.
"Dengan hasil uji sampel parameter DO tersebut, maka bisa disebut kalau air Sungai Tapung Kanan telah tercemar oleh zat berbahaya," kata Zepri.
DO dalam konteks air diartikan sebagai oksigen terlarut. Ini merujuk pada jumlah oksigen bebas yang terkandung di dalam air dan sangat krusial untuk pernapasan organisme akuatik seperti ikan, udang, dan mikroorganisme.
Dugaan Awal Dampak Chipping Peremajaan Sawit
Zepri menganalisis dugaan awal pemicu terjadinya penurunan signifikan DO air Sungai Tapung yang menyebabkan ikan mati mendadak. Pihaknya telah melakukan penelusuran adanya aktivitas chipping kelapa sawit yang dilakukan perusahaan PT Buana Wiralestari Mas (Sinarmas Grup) di daerah tersebut.
Chipping dalam peremajaan kelapa sawit adalah metode tumbang-cacah batang sawit tua menggunakan alat berat untuk mempercepat pembusukan. Batang sawit tua yang dicacah kemudian ditimbun hingga busuk.
Menurut Zepri, kematian ikan secara mendadak terjadi pada saat hujan mengguyur wilayah Tapung Hilir pada Selasa (31/3/2026) malam. Ia menganalisis, kemungkinan timbunan chipping kelapa sawit tersebut meluber karena curah hujan tinggi, kemudian masuk ke anak sungai dan mengalir ke Sungai Tapung Kanan.
"Dugaan ini bisa diamati secara kasat mata, yakni dari perubahan warna air yang terdapat pada anak sungai," kata Zepri.
Meski demikian, Zepri meminta agar investigasi independen dan ilmiah segera dilakukan oleh pihak DLH, untuk mengetahui sumber dan penyebab pasti matinya ikan di Sungai Tapung Kanan.
"Kita minta agar penelitian ilmiah dan independen segera dapat menguak misteri kematian ikan secara mendadak di Sungai Tapung Kanan. Kematian ikan ini sangat berdampak pada mata pencarian masyarakat setempat," pungkas Zepri.
Media ini belum dapat mengonfirmasi pihak PT Buana Wiralestari Mas terkait kematian ikan di Sungai Tapung Kanan ini. (R-03)

