42 Hari Janji di Tepian Sungai Itu Kini Ditunaikan: Kapolda Riau Serahkan Mesin untuk Nelayan Desa Bokor
Irjen Herry Heryawan, Kapolda Riau, kembali menjejakkan kaki di Kabupaten Kepulauan Meranti. Foto : SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Selatpanjang - Setelah 42 hari berlalu sejak 17 Februari 2026. Kini, menjelang penghujung bulan 31 Maret 2026, janji itu kembali diingat dan langsung ditepati.
Irjen Herry Heryawan, Kapolda Riau, kembali menjejakkan kaki di Kabupaten Kepulauan Meranti. Kehadirannya bukan sekadar kunjungan kerja biasa. Ia datang membawa ingatan tentang janji yang pernah diucapkan di hadapan masyarakat pesisir dan janji yang hari ini kembali ia tunaikan.
Saat kunjungan sebelumnya, Kapolda Riau bersama Hengki Haryadi selaku Wakapolda Riau serta sejumlah perwira lainnya menyusuri alur sungai yang menjadi nadi kehidupan masyarakat Kepulauan Meranti. Perjalanan itu dimulai dari muara Sungai Suir, melintasi bentangan Selat Air Hitam, hingga akhirnya memasuki hulu Sungai Bokor.
Perjalanan air tersebut bukan sekadar mobilitas geografis. Ia adalah perjalanan simbolik menyusuri denyut kehidupan masyarakat pesisir yang selama ini hidup berdampingan dengan alam.
Kegiatan Susur Sungai Jelajah Kampung yang digagas oleh Polres Kepulauan Meranti bersama Lembaga Adat Melayu Riau bukan hanya agenda seremonial. Kegiatan itu menjadi penanda hadirnya pendekatan baru kepolisian lebih dekat, lebih mendengar, dan lebih membumi.
Dalam perjalanan tersebut, Kapolda Riau memperkenalkan sebuah konsep yang menjadi arah baru pendekatan institusi kepolisian di wilayah Riau yakni Green Policing.
Konsep ini menempatkan kepolisian bukan hanya sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai penjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan budaya. Pendekatan yang mengajak masyarakat menjadi bagian dari solusi dalam menjaga lingkungan, sekaligus memperkuat identitas lokal yang selama ini menjadi kekuatan daerah pesisir.
Di tengah dialog hangat bersama masyarakat Desa Bokor saat itu, Kapolda Riau juga menyampaikan sebuah komitmen nyata—bahwa kehadiran kepolisian tidak berhenti pada simbol dan wacana.
Sebagai bentuk dukungan terhadap perekonomian masyarakat pesisir, ia berjanji akan menyerahkan 20 unit mesin ketinting kepada para nelayan Desa Bokor.
Janji itu bukan sekadar ucapan di atas perahu yang mengarungi sungai. Hari ini, janji tersebut benar-benar ditepati.
Bantuan mesin ketinting itu menjadi harapan baru bagi para nelayan yang selama ini menggantungkan hidup dari hasil laut dan alur sungai yang mereka kenal sejak kecil.
“Bantuan ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas hasil tangkapan sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi warga,” katanya kala itu.
Kini, ketika bantuan tersebut benar-benar tiba di tangan masyarakat, yang hadir bukan hanya mesin untuk melaut tetapi juga rasa percaya.
Bahwa janji yang diucapkan di tepian sungai ternyata tidak hanyut bersama arus air. Bahwa negara, melalui institusi kepolisian, tetap mengingat masyarakat di ujung pesisir.
Dan di Desa Bokor, di antara riak sungai yang tenang dan semangat nelayan yang kembali tumbuh, sebuah komitmen sederhana kembali diteguhkan: hadirnya aparat bukan hanya menjaga keamanan tetapi juga menjaga harapan.
Penyerahan bantuan mesin ketinting kepada para nelayan Desa Bokor bukan sekadar seremoni penyaluran bantuan. Lebih dari itu, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya konkret mendorong produktivitas nelayan sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat pesisir yang selama ini menggantungkan hidup dari laut dan alur sungai.
Kehadiran kepolisian melalui program bantuan tersebut juga menjadi bentuk pendekatan langsung kepada masyarakat—hadir untuk mendengar, memahami kebutuhan, serta membangun sinergi bersama dalam menjaga keamanan sekaligus mendorong kebangkitan ekonomi lokal.
Bantuan yang diserahkan di Aula Tantya Sudhirajati Polres Kepulauan Meranti itu terdiri dari 20 unit mesin ketinting, masing-masing 10 unit merek Motoya dan 10 unit merek Pro-Quip, yang diberikan kepada 20 nelayan sebagai penguat produktivitas sekaligus penggerak ekonomi masyarakat pesisir.
Herry Heryawan menegaskan bahwa penyerahan bantuan tersebut merupakan bentuk komitmen yang sebelumnya telah disampaikan kepada masyarakat.
“Saya kembali lagi menepati janji saya untuk menyerahkan bantuan mesin ini kepada masyarakat nelayan,” katanya.
Menurutnya, peran kepolisian tidak berhenti pada fungsi menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat semata. Lebih dari itu, institusi kepolisian juga memiliki tanggung jawab moral untuk hadir membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara nyata.
“Kami menyadari bahwa tugas Polri tidak hanya menjaga kamtibmas, tetapi juga sebagai pelayan, pelindung, dan pengayom masyarakat. Karena itu, kami harus mampu memberikan kontribusi nyata dalam membantu meningkatkan taraf hidup masyarakat,” ujarnya.
Kapolda Riau juga melihat masyarakat pesisir sebagai kekuatan ekonomi yang memiliki potensi besar untuk terus berkembang, selama didukung oleh sarana yang memadai dan akses yang lebih terbuka.
“Bantuan ini diharapkan menjadi pengungkit produktivitas nelayan, sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat. Kita ingin masyarakat terus bergerak maju, mandiri, dan mampu memanfaatkan setiap peluang yang ada,” ujar lulusan Akpol 1996 tersebut.
Dalam pandangannya, pembangunan yang berkelanjutan tidak hanya ditentukan oleh program-program formal pemerintah, tetapi juga oleh semangat kebersamaan yang tumbuh dari kepedulian sosial berbagai pihak.
“Kita tidak bisa bekerja sendiri. Dengan kebersamaan dan semangat human solidarity, kita bisa membuka akses yang lebih luas bagi masyarakat, baik di bidang ekonomi, pendidikan, maupun kesejahteraan sosial,” tambahnya.
Sebagai bagian dari pendekatan pembangunan berkelanjutan yang terus didorong melalui konsep Green Policing , kegiatan penyerahan bantuan tersebut juga dirangkaikan dengan aksi simbolis penanaman delapan bibit pohon jenis jambu madu dan mangga.
Penanaman pohon itu menjadi pengingat sederhana namun bermakna bahwa pertumbuhan ekonomi masyarakat pesisir tidak boleh berjalan sendiri. Ia harus tumbuh berdampingan dengan kepedulian terhadap lingkungan, agar kesejahteraan hari ini tetap memberi ruang kehidupan bagi generasi yang akan datang.
Di tengah semangat kebersamaan yang terasa dalam kegiatan penyerahan bantuan kepada nelayan pesisir Desa Bokor, apresiasi juga datang dari unsur pemerintah kecamatan yang merasakan langsung dampak nyata dari kehadiran program tersebut.
Camat Rangsang Barat, Jefri, menyampaikan rasa terima kasih atas langkah konkret yang dilakukan Kapolda Riau beserta jajaran yang dinilai membawa manfaat langsung bagi masyarakat pesisir di wilayahnya.
“Kami mengucapkan terima kasih atas kehadiran Bapak Kapolda Riau beserta rombongan. Bantuan ini sangat bermanfaat bagi nelayan kami karena dapat meningkatkan aktivitas dan produktivitas mereka, yang pada akhirnya berdampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, bantuan tersebut bukan hanya menjawab kebutuhan teknis para nelayan dalam meningkatkan hasil tangkapan, tetapi juga menghadirkan rasa kedekatan negara dengan masyarakat yang selama ini tinggal di wilayah pesisir yang berhadapan langsung dengan dinamika laut dan keterbatasan akses.
Bagi masyarakat pesisir, kehadiran bantuan seperti ini bukan sekadar fasilitas tambahan—melainkan bentuk perhatian yang nyata.
Apresiasi serupa juga disampaikan Kapolres Kepulauan Meranti, Aldi Alfa Faroqi, yang menilai kegiatan tersebut sebagai langkah strategis dengan dampak langsung sekaligus berkelanjutan bagi masyarakat.
Menurutnya, bantuan mesin ketinting yang diserahkan kepada nelayan merupakan program yang tepat sasaran karena menyentuh langsung kebutuhan dasar masyarakat pesisir yang menggantungkan hidup dari aktivitas melaut.
“Bantuan ini tepat sasaran dan berpotensi meningkatkan produktivitas nelayan serta memperkuat ekonomi lokal. Kehadiran Bapak Kapolda juga memberikan dampak positif terhadap kepercayaan masyarakat kepada Polri, yang terlihat dari antusiasme masyarakat serta situasi kegiatan yang berlangsung aman dan kondusif,” kata Aldi.
Lebih jauh, ia menilai bahwa sinergi yang terbangun antara kepolisian, pemerintah daerah, serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas wilayah sekaligus memastikan setiap program yang dilaksanakan benar-benar memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Kolaborasi seperti inilah yang perlahan memperkuat jembatan kepercayaan antara aparat dan masyarakat—bahwa pembangunan tidak hanya hadir dalam bentuk program di atas kertas, tetapi juga melalui sentuhan nyata yang dirasakan langsung oleh warga di tepian sungai dan pesisir.
Di Desa Bokor dan wilayah pesisir Rangsang Barat, bantuan mesin ketinting itu kini bukan sekadar alat untuk melaut. Ia telah menjadi simbol hadirnya perhatian, kerja bersama, dan harapan baru bagi masyarakat yang selama ini menjaga laut sebagai ruang hidup mereka. (R-01)

