Harga Nikel Dunia Melejit Usai Restu Prabowo Subianto, Pajak Ekspor Jadi Senjata Baru RI!
Ilustrasi Nikel. Foto : Istimewa
SABANGMERAUKE NEWS, Jakarta — Harga nikel global melonjak tajam setelah Presiden Prabowo Subianto menyetujui kebijakan pajak ekspor komoditas strategis tersebut. Langkah yang dinilai bernuansa populis ini langsung mengguncang pasar dan memperkuat posisi tawar Indonesia sebagai produsen nikel terbesar dunia.
Mengacu pada perdagangan di London Metal Exchange, harga kontrak berjangka nikel sempat melonjak hingga 2,7% pada Rabu (25/3/2026), sebelum ditutup naik 2,1% ke level US$ 17.310 per ton.
Kenaikan ini terjadi setelah Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengonfirmasi bahwa pemerintah akan mengenakan tarif ekspor untuk nikel dan batu bara. Meski demikian, besaran tarif masih dalam tahap pembahasan.
Secara jangka pendek, kebijakan ini dipandang sebagai upaya cepat pemerintah untuk menjaga penerimaan negara di tengah tekanan fiskal yang meningkat. Indonesia, sebagai net importir energi, menghadapi lonjakan biaya akibat konflik geopolitik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak global.
Kondisi tersebut berisiko memperlebar defisit anggaran serta meningkatkan beban subsidi energi. Dalam konteks ini, pajak ekspor menjadi instrumen instan untuk menambah penerimaan langkah yang dianggap nyata karena langsung menyasar komoditas unggulan nasional.
Di sisi lain, kebijakan ini juga memperkuat strategi jangka panjang hilirisasi industri. Dengan membatasi ekspor bahan mentah melalui instrumen pajak, pemerintah mendorong investor untuk membangun fasilitas pengolahan (smelter) di dalam negeri.
Saat ini, Indonesia menguasai lebih dari 50% pasokan nikel global memberikan kekuatan besar dalam menentukan arah harga pasar. Kenaikan biaya akibat pajak ekspor otomatis akan mendorong harga nikel dunia lebih tinggi, terutama di tengah permintaan kuat dari industri baterai dan kendaraan listrik (EV).
Analis pasar menilai kebijakan ini meningkatkan kepercayaan investor terhadap konsistensi strategi hilirisasi Indonesia, meskipun di sisi lain berpotensi memicu volatilitas harga dalam jangka pendek.
Langkah ini juga menegaskan perubahan pendekatan pemerintah: dari sekadar eksportir bahan mentah menjadi pemain utama dalam rantai pasok industri energi hijau global. Dengan kombinasi tekanan fiskal dan ambisi industrialisasi, pajak ekspor nikel kini menjadi instrumen ganda penyelamat anggaran sekaligus pengungkit transformasi ekonomi.(R-04)

