Kehabisan Uang, Pemudik Riau Tumbang di Karawang, Cuma Modal Dengkul Demi Lihat Ibu Sakit di Surabaya!
Kehabisan uang, Arifin, buruh sawit di Riau, nekad mudik berjalan kaki dari Bekasi ke Surabaya demi melihat ibunya yang sakit. (ist)
SABANGMERAUKE NEWS, Karawang - Langkah Arifin tampak lunglai saat menyusuri aspal panas jalur Pantura wilayah Karawang, Kamis 19 Maret 2026. Tas lusuh yang menggantung di pundaknya seolah memikul beban hidup yang sangat berat sekali. Pria berusia empat puluh lima tahun ini nekat berjalan kaki demi pulang ke Surabaya.
Pria asal Riau ini menempuh perjalanan ribuan kilometer dengan modal keberanian yang nyeleneh. Ia bekerja sebagai buruh kelapa sawit di Riau dan berharap bisa Lebaran bersama keluarga. Tujuannya cuma satu, ingin segera memeluk ibunya yang dikabarkan sedang sakit keras di kampung.
Nasib malang menimpa Arifin saat kakinya baru saja menginjak riuhnya hiruk-pikuk ibu kota Jakarta. Uang di dompetnya ludes tak bersisa hingga ia terjebak dalam situasi yang sangat mencekam. Tanpa ongkos sepeser pun, ia sempat menumpang kendaraan apa saja hingga sampai ke wilayah Bekasi.
Terjepit di Bekasi, Roboh di Karawang
Perjalanan dari Bekasi menuju Karawang ia tempuh dengan cara berjalan kaki di bawah terik matahari. Arifin tidak punya pilihan lain karena rasa rindu pada sang ibu jauh lebih besar. Kondisi fisiknya yang mulai goyah menarik perhatian petugas kepolisian yang sedang berjaga di pos pengamanan.
Petugas melihat Arifin berjalan dengan tatapan kosong dan napas yang sudah tersengal-sengal di pinggir jalan. Polisi langsung bergerak cepat menghentikan langkahnya dan mengajak pria malang ini untuk segera beristirahat sejenak. Arifin pun terduduk lemas sambil memegang kakinya yang mungkin sudah mati rasa karena berjalan jauh.
"Petugas melihatnya dengan kondisi kelelahan di pinggir jalan," ujar Kasi Humas Polres Karawang, Ipda Cep Wildan. Setelah diajak berdialog, barulah terungkap drama pilu yang dialami oleh buruh sawit asal Riau tersebut. Ia mengaku sudah berjalan kaki cukup jauh dari Bekasi hingga memasuki wilayah hukum Karawang.
Arifin bercerita bahwa ia sempat singgah ke Medan sebelum akhirnya mendarat di Jakarta untuk melanjutkan mudik. Namun, kenyataan pahit menghantamnya saat uang saku hasil memeras keringat di kebun sawit tiba-tiba habis. Ia tak berani meminta-minta karena merasa masih memiliki tenaga untuk melangkah meski jaraknya ratusan kilometer.
Keajaiban di Terminal dan Tiket Surga
Mendengar cerita haru tersebut, Kapolres Karawang AKBP Fiki N. Ardiansyah segera menginstruksikan jajaran untuk memberikan bantuan. Arifin diberikan makanan layak dan tempat istirahat yang nyaman untuk memulihkan tenaganya yang terkuras habis. Polisi tidak membiarkan warga Riau ini melanjutkan perjalanan mautnya dengan berjalan kaki ke Jawa Timur.
Petugas kemudian mengantar Arifin menuju terminal bus terdekat dengan pengawalan yang sangat humanis dan hangat. Tidak hanya mengantar, polisi juga membelikan tiket bus eksekutif tujuan Surabaya agar ia nyaman selama perjalanan. Arifin juga dibekali uang saku tambahan agar perutnya tidak keroncongan selama berada di dalam bus.
"Kami sudah titipkan yang bersangkutan kepada kru bus agar dipastikan aman," tegas Ipda Cep Wildan kembali. Koordinasi khusus dilakukan dengan kru bus supaya Arifin benar-benar turun tepat di alamat tujuan dengan selamat. Langkah ini merupakan bentuk pelayanan prima dalam Operasi Ketupat 2026 yang mengedepankan sisi kemanusiaan Polri.
Wajah Arifin yang semula kusam dan penuh debu jalanan mendadak berubah menjadi sangat semringah sekali. Ia berkali-kali menyeka air mata haru saat menerima bantuan yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Baginya, petugas polisi di Karawang adalah malaikat penolong yang dikirim tuhan untuk mempertemukannya dengan sang ibu.
"Makasih Pak, terima kasih banyak Bapak," ucap Arifin dengan suara bergetar saat hendak naik ke bus. Ia tampak sangat bahagia karena impiannya untuk mencium tangan ibu di hari Idul Fitri kembali terbuka lebar. Kejadian ini menjadi pengingat bagi para pemudik lain agar tidak memaksakan diri jika kendala datang.
Polres Karawang mengimbau masyarakat agar selalu memanfaatkan pos polisi jika mengalami kesulitan teknis maupun finansial di jalan. Jangan ragu meminta pertolongan demi keselamatan nyawa selama perjalanan menuju kampung halaman tercinta di musim Lebaran. Semangat kebersamaan harus tetap dijaga agar semua lapisan masyarakat bisa merayakan kemenangan dengan penuh suka cita.
Kisah Arifin menjadi bukti bahwa solidaritas di jalur mudik masih sangat kental dan menyentuh hati sanubari. Perjalanan ribuan kilometer dari Riau mungkin melelahkan, tapi kebaikan orang asing di jalan menjadikannya sangat bermakna. Kini Arifin sedang dalam perjalanan menuju Surabaya dengan hati yang jauh lebih tenang dan damai.
Semoga perjalanan sisa ratusan kilometer ini berjalan lancar tanpa ada hambatan lagi bagi pemudik asal Riau tersebut. Doa terbaik mengiringi langkah bus yang membawa Arifin menuju pelukan hangat ibunya yang sedang menanti di rumah. Lebaran 2026 ini pastinya akan menjadi kenangan paling tak terlupakan dalam hidup seorang buruh sawit bernama Arifin. R-02

