Rupiah Nyaris Bangkit, Tiba-Tiba Loyo Lagi! Ini Penyebabnya
Ilustrasi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS. (ist)
SABANGMERAUKE NEWS, Jakarta - Rupiah sempat menanjak pada pembukaan Selasa pagi, 17 Maret 2026. Harapan muncul sejenak. Namun sore datang dengan cerita berbeda. Nilai tukar kembali melemah dan berakhir datar.
Penutupan perdagangan menunjukkan angka Rp16.997 per dolar AS. Pergerakan ini nyaris tidak berubah dari hari sebelumnya. Pasar terlihat ragu. Arah belum jelas. Sejak awal perdagangan, rupiah sempat menguat. Nilai sempat menyentuh Rp16.968 per dolar AS. Kenaikan ini dipicu sentimen global yang mulai mereda.
Harga minyak dunia turun. Harapan stabilitas di Selat Hormuz ikut mendorong optimisme. Pernyataan Presiden Amerika Serikat juga memberi dorongan awal. Namun momentum itu tidak bertahan lama. Rupiah kehilangan tenaga. Tekanan kembali muncul menjelang penutupan.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, memberi penjelasan singkat. “Rupiah gagal mempertahankan penguatan,” ucapnya. Kalimat ini menggambarkan kondisi pasar.
Sinyal BI Bikin Pasar Ragu
Keputusan Bank Indonesia jadi sorotan utama. Rapat Dewan Gubernur menetapkan suku bunga tetap. BI-Rate berada di level 4,75 persen. Suku bunga deposit facility bertahan di 3,75 persen. Lending facility tetap di 5,50 persen. Kebijakan ini fokus pada stabilitas.
Langkah ini diambil untuk menjaga inflasi. Target inflasi berada di kisaran 2,5 persen. Rentangnya plus minus satu persen. Namun pasar menangkap sinyal berbeda. Pernyataan gubernur dinilai terlalu lunak. Ruang pelonggaran kebijakan masih terbuka.
Lukman kembali menegaskan pandangannya. “Sinyal ini membuat rupiah kehilangan tenaga,” ujarnya. Reaksi pasar langsung terlihat. Pelaku pasar menunggu langkah lebih tegas. Ketidakpastian global masih tinggi. Konflik di Timur Tengah jadi faktor utama.
Tekanan ini membuat dolar AS tetap dominan. Rupiah sulit bergerak naik. Kondisi ini membuat investor lebih berhati-hati.
Tekanan Global dan Kebijakan Baru
Bank Indonesia juga mengeluarkan kebijakan tambahan. Batas pembelian valas diturunkan. Nilainya menjadi 50.000 dolar AS per bulan. Kebijakan ini mulai berlaku April 2026. Tujuannya menjaga stabilitas nilai tukar. Arus devisa diatur lebih ketat.
Selain itu, aturan transaksi juga disesuaikan. Batas DNDF dinaikkan menjadi 10 juta dolar AS. Swap valas juga mengalami kenaikan batas. Langkah ini diharapkan memperkuat pasar domestik. Namun dampaknya belum terasa langsung. Pasar masih menunggu respons lanjutan.
Di sisi lain, mata uang Asia bergerak beragam. Dolar Taiwan mencatat penguatan tertinggi. Ringgit Malaysia dan won Korea Selatan ikut naik. Peso Filipina dan yuan China juga menguat tipis. Rupee India bergerak stabil. Kondisi ini menunjukkan tekanan tidak merata.
Namun ada juga yang melemah. Baht Thailand turun paling dalam. Yen Jepang dan dolar Singapura ikut terkoreksi. Rupiah berada di tengah tekanan ini. Posisi masih rentan. Pergerakan sangat dipengaruhi kondisi global.
Lukman memberi peringatan lanjutan. “Rupiah masih didikte dolar AS,” ucapnya. Pernyataan ini memperjelas situasi. Konflik geopolitik belum mereda. Ketegangan di Timur Tengah terus membayangi. Pasar global bergerak penuh ketidakpastian.
Kurs JISDOR Bank Indonesia mencatat angka Rp16.982. Nilai ini sedikit lebih kuat. Namun selisihnya tipis. Situasi ini membuat pelaku pasar tetap waspada. Tidak ada euforia berlebihan. Semua menunggu arah berikutnya.
Rupiah hari ini memberi pelajaran penting. Kenaikan cepat bisa hilang dalam sekejap. Pasar bergerak cepat dan tidak terduga. Selasa ini ditutup tanpa kepastian. Rupiah tidak jatuh dalam. Namun juga gagal bangkit penuh. Jalan masih panjang.R-02

