Riau Dikepung 57 Titik Panas, Petugas Berjibaku Padamkan Api Hingga Bertemu Harimau
Tim gabungan berjibaku memadamkan kebakaran lahan di Riau. (ist)
SABANGMERAUKE NEWS, Pekanbaru - Langit Riau kembali tercemar kabut asap tipis. Data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menunjukkan angka yang mengkhawatirkan dengan deteksi 57 titik panas (hotspot) tersebar di berbagai kabupaten dan kota. Riau kini kembali memuncaki daftar daerah dengan jumlah titik panas terbanyak di seluruh Pulau Sumatera.
Kondisi cuaca panas yang ekstrem menjadi pemicu utama lahan gambut menjadi sangat kering dan mudah terbakar. Forecaster On Duty BMKG, Mari Frystine, memberikan peringatan keras terkait minimnya curah hujan dalam beberapa hari terakhir. Ia meminta warga tidak melakukan aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar karena risiko penyebaran api sangat tinggi saat ini.
Di lapangan, tim gabungan yang terdiri dari TNI, Polri, Manggala Agni, BPBD, serta Masyarakat Peduli Api (MPA) bekerja ekstra keras tanpa kenal lelah. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Damkar Riau, Jim Gafur, mengungkapkan bahwa fokus pemadaman saat ini tertuju pada lima titik api utama yang tersebar di beberapa wilayah. Titik kebakaran tersebut berada di Kabupaten Indragiri Hilir, Bengkalis, dan Kampar.
"Petugas di lapangan masih melakukan pemadaman sekaligus pendinginan di lokasi. Seluruh tim gabungan terus bekerja untuk mengendalikan api agar tidak meluas," ujar Jim Gafur. Upaya pemadaman sepenuhnya masih mengandalkan kekuatan personel darat karena bantuan helikopter water bombing dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) belum tiba di Riau.
Kisah di balik proses pemadaman ini ternyata penuh dengan drama yang mencekam. Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, menuturkan sebuah pengalaman menegangkan saat timnya bertugas di Pulau Muda, Pelalawan. Di tengah upaya menjinakkan api yang melahap lahan, para anggota Manggala Agni justru berhadapan langsung dengan seekor Harimau Sumatera.
Situasi ini memaksa seluruh tim untuk ekstra waspada demi menjaga keselamatan diri dan satwa langka tersebut. Protokol standar operasional keselamatan kerja diterapkan dengan disiplin ketat agar tidak ada korban jiwa, baik dari pihak petugas maupun satwa. Koordinasi cepat segera dilakukan bersama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau untuk memastikan penanganan harimau berjalan tepat.
Selain tantangan fisik dan ancaman satwa, mayoritas petugas di lapangan juga harus tetap berjuang menjalankan ibadah puasa di bawah suhu udara yang sangat panas. Ferdian Krisnanto mengakui bahwa menjaga kondisi fisik tetap fit di tengah asap dan api adalah tugas yang sangat berat bagi anak buahnya. Mereka tetap berjibaku di lapangan demi meminimalisir dampak lingkungan yang ditimbulkan.
Data analisis citra satelit Kementerian Kehutanan mencatat angka yang cukup kelam untuk periode Januari hingga Februari 2026. Luas karhutla di Riau telah mencapai 4.400 hektare, di mana 94 persen dari total lahan yang terbakar merupakan lahan gambut. Kabupaten Pelalawan dan Bengkalis kini menjadi fokus utama karena memiliki sebaran luasan kebakaran paling masif di wilayah Riau.
Bukan hanya di Riau, provinsi tetangga yakni Kepulauan Riau juga mengalami nasib serupa dengan luas kebakaran mencapai 1.162,52 hektare. Tim Manggala Agni terus melakukan pemadaman terpadu di berbagai titik mulai dari Kampar, Bengkalis, Indragiri Hilir, hingga Kota Batam. Langkah intensif ini menjadi benteng terakhir sebelum api benar-benar sulit dijinakkan akibat musim kemarau yang diprediksi akan terus berlangsung.
Pemerintah kembali menegaskan imbauan kepada masyarakat untuk tidak membersihkan lahan dengan metode pembakaran. Potensi bahaya kebakaran hutan dan lahan akan terus menghantui jika kesadaran kolektif tidak ditingkatkan. Kerja sama lintas sektoral menjadi kunci krusial dalam menghadapi musim kering tahun ini agar bencana asap tidak kembali merenggut kesehatan dan aktivitas warga.R-02

