Kolaborasi Merawat Merbau: FKKD Bangun Komunikasi, PT ITA Perbaiki Jalan Sepanjang 12 Kilometer
Monitor progres pengerjaan greder jalan lintas Teluk Belitung - Meranti Bunting. Foto: SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Riau - Di tengah badai efisiensi anggaran yang kini menjadi istilah paling sering terdengar, kebijakan pembangunan seolah berjalan tertatih. Pemotongan anggaran terjadi berlapis, dari pusat ke daerah, hingga menyentuh desa-desa. Di saat yang sama, kebutuhan perbaikan infrastruktur justru semakin mendesak. Jalan-jalan yang setiap hari dilalui masyarakat perlahan kehilangan kualitasnya, tergerus usia dan minim perawatan.
Salah satu potret nyata terlihat pada ruas jalan poros Meranti Bunting–Teluk Belitung di Kecamatan Merbau. Jalur ini merupakan urat nadi mobilitas warga, menghubungkan aktivitas ekonomi, pendidikan, hingga layanan kesehatan. Sebelumnya, kondisi jalan ini sempat mengalami kerusakan dan hingga kini belum tersentuh perbaikan lanjutan.
Secara kewenangan, jalan tersebut merupakan tanggung jawab Pemerintah Provinsi Riau. Namun hingga waktu berjalan, belum tampak adanya sentuhan signifikan. Padahal, jalan yang masih berstatus base atau pengerasan wajib mendapat pemeliharaan rutin agar tetap berfungsi sebagaimana mestinya.
Tanpa perawatan, fungsi jalan perlahan menurun. Lubang-lubang kecil mulai bermunculan di tengah badan jalan, permukaan bergelombang kian terasa, debu beterbangan saat musim panas, dan pada titik tertentu, semak belukar mulai mengambil alih sisi-sisi jalan. Kondisi inilah yang kini menjadi pemandangan di sejumlah ruas jalan poros penghubung antar kecamatan di Kepulauan Meranti.
Bagi masyarakat, jalan bukan sekadar lintasan. Ia adalah penghubung kehidupan. Ketika akses melemah, maka aktivitas ikut terhambat. Di tengah keterbatasan anggaran dan proses birokrasi yang panjang, harapan warga pun sederhana agar jalan yang ada setidaknya dirawat, dijaga fungsinya, dan tidak dibiarkan rusak sebelum waktunya.
Menjelang penghujung tahun 2025 lalu, sekaligus bersiap menyambut datangnya Hari Raya Idul Fitri, intensitas lalu lintas di Kecamatan Merbau mengalami peningkatan signifikan. Jalan-jalan poros yang selama ini menjadi jalur utama mobilitas warga semakin padat dilalui, baik oleh masyarakat yang bepergian maupun kendaraan pengangkut barang kebutuhan sehari-hari.
Dalam situasi tersebut, kondisi jalan yang rusak menjadi perhatian serius. Demi menunjang pelayanan dan keselamatan masyarakat, perbaikan serta rehabilitasi ruas jalan dinilai mendesak, khususnya di wilayah Kecamatan Merbau yang menjadi salah satu simpul pergerakan ekonomi dan sosial masyarakat.
Namun, hingga waktu terus berjalan, belum terlihat tanda-tanda perbaikan dari Pemerintah Provinsi Riau, meskipun jalan-jalan tersebut berada dalam kewenangannya. Tidak ingin akses vital masyarakat semakin terpuruk, Forum Komunikasi Kepala Desa (FKKD) Kecamatan Merbau, Kabupaten Kepulauan Meranti, akhirnya mengambil langkah inisiatif.
Melalui FKKD, para kepala desa mengajukan permohonan bantuan rehabilitasi sejumlah ruas jalan poros di Kecamatan Merbau. Salah satunya adalah rehabilitasi jalan lintas dari perbatasan Kelurahan Teluk Belitung, Desa Mekar Sari hingga Desa Meranti Bunting dengan panjang bentangan mencapai 17 kilometer. Jalur ini merupakan akses utama penghubung antarwilayah yang setiap hari dilalui warga.
Tak hanya itu, FKKD Kecamatan Merbau juga mengusulkan rehabilitasi jalan penghubung Desa Lukit menuju Desa Sungai Tengah sepanjang kurang lebih 3 kilometer, yang selama ini menjadi jalur penting bagi aktivitas masyarakat desa.
Upaya tersebut kemudian berbuah hasil. FKKD Kecamatan Merbau berhasil membangun komunikasi dengan PT EMP Imbang Tata Alam (ITA), perusahaan migas yang beroperasi di wilayah tersebut. Keberadaan perusahaan ini dinilai memberi dampak positif bagi masyarakat sekitar, tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga melalui kontribusi sosial.
Tanpa menunggu waktu lama, perusahaan yang berada di bawah naungan Bakrie Group itu langsung mengakomodir permintaan para kepala desa yang disampaikan melalui FKKD. Kolaborasi pun terbangun sebagai bentuk kepedulian terhadap kebutuhan dasar masyarakat.
Ketua FKKD Kecamatan Merbau, Isnadi Esman, mengungkapkan rasa syukurnya atas terjalinnya komunikasi yang baik antara pihak kecamatan, pemerintah desa, dan perusahaan.
“Kami bersyukur kolaborasi antara FKKD Merbau, Camat Merbau, bersama PT ITA dapat terbangun dengan baik dan permintaan kami untuk berkolaborasi dalam memelihara jalan ini langsung diakomodir,” ujar Isnadi.
Langkah kolaboratif ini menjadi secercah harapan di tengah keterbatasan anggaran dan panjangnya proses birokrasi. Bagi masyarakat Merbau, jalan yang terawat bukan hanya soal infrastruktur, melainkan tentang keselamatan, kelancaran aktivitas, dan keberlanjutan kehidupan sehari-hari.
Isnadi Esman tak menutupi keprihatinannya saat menggambarkan kondisi jalan poros yang melintasi sejumlah desa di Kecamatan Merbau. Mulai dari Kelurahan Teluk Belitung, Desa Mekar Sari, Sungai Anak Kamal, Pelantai, hingga Desa Meranti Bunting, ruas jalan tersebut kini berada dalam kondisi yang memprihatinkan.
Di banyak titik, cekungan jalan membentuk genangan air setiap kali hujan turun. Permukaan jalan yang labil, dengan susunan batu kerikil yang tidak rata, semakin memperparah keadaan. Kondisi ini bukan hanya menghambat aktivitas warga, tetapi juga meningkatkan risiko kecelakaan bagi para pengguna jalan, terutama pengendara roda dua.
Padahal, jalan lintas ini merupakan urat nadi utama yang menghubungkan dua kecamatan, yakni Kecamatan Merbau dan Kecamatan Tasik Putri Puyu. Lebih dari itu, jalur ini juga menjadi akses penting menuju Kabupaten Siak dan Bengkalis, menjadikannya salah satu jalur strategis bagi mobilitas orang dan distribusi barang.
Kondisi inilah yang mendorong FKKD Kecamatan Merbau bersama Camat Merbau untuk tidak tinggal diam. Di tengah keterbatasan anggaran dan kondisi keuangan daerah yang belum memungkinkan, harapan untuk bergantung sepenuhnya pada pemerintah daerah dinilai sulit direalisasikan dalam waktu dekat.
“Dengan kondisi jalan yang rusak seperti ini, kami dari FKKD Kecamatan Merbau bersama Camat Merbau berupaya mencarikan solusi. Melihat kondisi keuangan daerah saat ini, sepertinya tidak memungkinkan jika harus bertumpu sepenuhnya kepada Pemda,” ujar Isnadi.
Berangkat dari kesadaran itu, FKKD Kecamatan Merbau membangun komunikasi dan koordinasi dengan manajemen PT ITA. Melalui pendekatan tersebut, mereka mengajukan permohonan bantuan rehabilitasi jalan poros yang selama ini menjadi tumpuan hidup masyarakat.
Upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil. Permohonan bantuan rehabilitasi jalan disetujui oleh pihak perusahaan. Bagi para kepala desa, keputusan ini menjadi angin segar di tengah keterbatasan yang ada.
“Alhamdulillah permohonan kami disetujui. Kami sangat berterima kasih kepada pihak PT ITA atas kepeduliannya,” tutur Isnadi.
Meski demikian, Isnadi menegaskan bahwa rehabilitasi ini merupakan langkah awal. Ia berharap ke depan jalan lintas yang menjadi kewenangan pemerintah daerah tersebut dapat memperoleh perhatian lebih serius, hingga ditingkatkan kualitasnya melalui semenisasi atau pengaspalan.
Harapan itu bukan semata soal kenyamanan, melainkan tentang keselamatan dan keberlanjutan aktivitas masyarakat yang setiap hari menggantungkan hidup pada jalan tersebut.
Tanpa harus menunggu waktu lama, PT ITA segera merespons permohonan yang disampaikan FKKD Kecamatan Merbau. Rehabilitasi ruas jalan poros sepanjang 17 kilometer langsung dikebut, sebagai langkah nyata menjawab kebutuhan mendesak masyarakat.
Pekerjaan dilakukan dengan metode penimbunan pada titik-titik jalan yang memiliki elevasi rendah dan rawan tergenang air. Material yang tersedia dimanfaatkan secara optimal untuk memperkuat badan jalan, sehingga daya tahannya meningkat saat musim hujan tiba. Proses perataan permukaan jalan menggunakan motor grader, kemudian dilanjutkan dengan pemadatan menggunakan roller agar struktur jalan menjadi lebih kokoh dan stabil.
Sedikit demi sedikit, wajah jalan yang sebelumnya rusak dan menyulitkan aktivitas warga kini berubah. Permukaan jalan kembali rata, lubang-lubang yang selama ini menjadi ancaman keselamatan telah tertutup, dan genangan air tak lagi mudah terbentuk.
Kini, masyarakat dapat kembali melintas dengan lebih nyaman dan aman. Kendaraan roda dua maupun roda empat melaju tanpa hambatan, distribusi hasil kebun berjalan lancar, dan mobilitas antar desa di Kecamatan Merbau kembali berdenyut normal. Rehabilitasi ini tak sekadar memperbaiki jalan, tetapi juga menghidupkan kembali nadi aktivitas dan harapan masyarakat di sepanjang jalur tersebut.
PT ITA yang mengambil langkah konkret menurunkan alat berat untuk membantu perbaikan jalan poros sepanjang 17 kilometer. Jalan ini bukan sekadar hamparan pasir dan batu, melainkan jalur vital yang menghubungkan aktivitas ekonomi, sosial, hingga akses pelayanan masyarakat. Dari total panjang tersebut, penanganan difokuskan sepanjang 11.950 meter atau hampir 12 kilometer dengan lebar jalan mencapai 6 meter.
Pekerjaan perbaikan dimulai pada 26 Desember 2025 dan rampung pada awal tahun 2026. Dalam kurun waktu tersebut, PT ITA tidak hanya menyediakan alat berat, tetapi juga mendukung penuh operasional di lapangan, termasuk penyediaan bahan bakar diesel. Total anggaran yang digelontorkan mencapai lebih dari Rp 132 juta, mencakup biaya sewa alat berat serta kebutuhan operasional selama proses perbaikan berlangsung.
Langkah ini bukan hadir tanpa makna. Area Manager PT ITA, Bonar Ari Nindito, menegaskan bahwa keterlibatan perusahaan merupakan bagian dari tanggung jawab sosial sekaligus komitmen untuk tumbuh bersama masyarakat di wilayah operasional.
“Melalui kolaborasi dengan Pemerintah Kecamatan Merbau dan Forum Komunikasi Kepala Desa (FKKD), PT ITA mengambil peran aktif membantu perbaikan jalan umum. Infrastruktur yang baik tidak hanya mendukung mobilitas, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap keselamatan, aktivitas ekonomi, dan kualitas hidup masyarakat,” ujarnya, Senin (5/1/2016).
Apa yang dilakukan PT ITA ini sejalan dengan semangat Kolaborasi Merawat Merbau—sebuah ikhtiar bersama antara dunia usaha, pemerintah, dan masyarakat untuk menjaga serta memperbaiki fasilitas umum. Terlebih, perbaikan ini dilakukan menjelang meningkatnya mobilitas warga dalam menyongsong Idul Fitri, saat jalan-jalan desa menjadi jalur utama pergerakan barang dan orang.
Di tengah keterbatasan anggaran dan tantangan pembangunan, kisah perbaikan jalan di Merbau menjadi contoh bahwa ketika kepedulian dan kolaborasi berjalan seiring, harapan tidak sekadar wacana, tetapi benar-benar hadir di atas tanah yang dipijak masyarakat setiap hari. (R-01)

