Korban Nelayan Hilang di Perairan Bungur Ditemukan Meninggal Dunia Setelah Dua Hari Pencarian
Setelah dua hari dilakukan pencarian intensif, tim SAR gabungan akhirnya menemukan nelayan bernama Parno (55), warga Desa Batang Meranti, Kecamatan Pulau Merbau, dalam keadaan meninggal dunia. Foto : Istimewa
SABANGMERAUKE NEWS, Selatpanjang - Setelah dua hari dilakukan pencarian intensif, tim SAR gabungan akhirnya menemukan nelayan bernama Parno (55), warga Desa Batang Meranti, Kecamatan Pulau Merbau, dalam keadaan meninggal dunia. Ia sebelumnya dilaporkan terjatuh dari kapal saat melaut di Perairan Bungur, Kecamatan Rangsang Pesisir, Kabupaten Kepulauan Meranti, pada Jumat (24/10/2025) malam.
Peristiwa nahas itu berawal pada Jumat (24/10/2025) malam saat korban bersama seorang rekannya, Atat, sedang memperbaiki gumbang di perairan Desa Telesung, sekitar tiga mil dari pantai. Angin kencang dan gelombang tinggi menyebabkan air laut masuk ke kapal. Ketika keduanya berusaha membuang air untuk menyeimbangkan kapal, korban tiba-tiba hilang setelah sempat berteriak meminta tolong dua kali.
Informasi mengenai insiden tersebut diterima oleh Pekanbaru SAR Mission Coordinator (SMC) pada Sabtu (25/10/2025) pukul 14.00 WIB. Berdasarkan laporan awal, korban bersama rekannya, Atat, tengah memperbaiki gumbang atau alat tangkap ikan di sekitar Perairan Desa Telesung, ketika angin kencang dan gelombang tinggi menghantam kapal mereka.
“Saksi mendengar korban berteriak minta tolong sebanyak dua kali, namun tidak lagi melihatnya karena kondisi malam gelap dan cuaca buruk,” demikian laporan dari SMC Pekanbaru. Upaya pencarian oleh saksi dan pemilik gumbang tak membuahkan hasil, hingga akhirnya kejadian dilaporkan ke pihak berwenang.
Menindaklanjuti laporan tersebut, Tim Rescue Unit Siaga SAR Kepulauan Meranti yang berjumlah empat orang segera diberangkatkan menuju lokasi kejadian dengan jarak sekitar 32 nautical mile (NM) dari pos SAR. Tim tiba di lokasi pada pukul 16.30 WIB dan langsung berkoordinasi dengan unsur terkait serta masyarakat setempat untuk melakukan pencarian dan penyisiran di sekitar titik koordinat 01°09'58"N 102°55'23"E.
Kepala Unit Siaga SAR Kepulauan Meranti, Prima Harrie Saputra, mengungkapkan bahwa sejak menerima laporan pada Sabtu (25/10/2025) pukul 14.00 WIB, pihaknya langsung mengerahkan Tim Rescue Basarnas Meranti untuk melakukan pencarian bersama unsur terkait.
Pencarian hari pertama belum membuahkan hasil akibat cuaca berawan dan gelombang setinggi 0,5 hingga 1,25 meter. Operasi kemudian dilanjutkan pada Minggu (26/10/2025) pukul 07.00 WIB menggunakan peralatan Aqua Eye dan RIB 03, menyisir area seluas ±4 NM² dengan pola pencarian creeping line search.
“Kami bergerak cepat setelah menerima informasi. Pencarian dilakukan dengan pola penyisiran menggunakan RIB 03 dan alat pendeteksi bawah air Aqua Eye,” jelasnya.
Dalam operasi SAR ini, banyak pihak turut terlibat, di antaranya Basarnas sebanyak 4 orang, BPBD 8 orang, Polair Selatpanjang 1 orang, Polair Direktorat 1 orang, TNI AL 1 orang, Babinsa Telesung 1 orang, dan Polsek Rangsang 4 orang. Selain itu, masyarakat setempat juga membantu pencarian di sekitar lokasi kejadian.
Pada hari kedua itu, operasi kembali ditunda sore hari setelah hasil masih nihil. Pencarian dilanjutkan Senin (27/10/2025) dengan memperluas area penyisiran menjadi ±6 NM². Upaya bersama itu terus dilakukan oleh Tim SAR gabungan bersama aparat TNI AL, Polairud, dan masyarakat nelayan setempat.
Kerja keras itu akhirnya membuahkan hasil. Pada Senin sore pukul 17.06 WIB. Saat ditemukan, kondisi jenazah masih tampak utuh, hanya saja bagian kepala sudah berbentuk tengkorak dan perut korban terlihat kembung. Diduga karena sudah tiga hari di laut dan banyak terminum air laut, tubuh korban mengapung saat ditemukan.
Kepala Unit Siaga SAR Kepulauan Meranti, Prima Harrie Saputra, menyebutkan bahwa korban ditemukan sekitar 2,7 mil laut dari titik lokasi kejadian (LKP) dengan koordinat 1°12'28"N 102°56'30"E. “Korban ditemukan dalam keadaan meninggal dunia, posisi mengapung di permukaan air. Setelah dievakuasi, jenazah langsung dibawa ke Desa Telesung untuk diserahkan kepada pihak keluarga,” jelas Prima.
“Dengan ditemukannya korban, operasi SAR resmi dinyatakan selesai dan seluruh unsur yang terlibat telah kembali ke instansi masing-masing,” tulis laporan resmi Pekanbaru SAR Mission Coordinator (SMC).
Kepala Kantor SAR Pekanbaru menyampaikan belasungkawa atas musibah tersebut dan mengimbau nelayan agar selalu memperhatikan faktor keselamatan saat melaut, terutama ketika kondisi cuaca tidak bersahabat.
“Seluruh unsur yang terlibat telah kembali ke instansi masing-masing setelah operasi SAR dinyatakan selesai pada pukul 17.30 WIB,” tutur Prima Harrie Saputra.
Pihak SAR mengimbau para nelayan agar selalu memperhatikan kondisi cuaca sebelum melaut dan memastikan kapal dilengkapi alat keselamatan diri. (R-04)

