Akhirnya Harapan Itu Datang, Layanan Cuci Darah di RSUD Kepulauan Meranti akan Beroperasi Tahun Ini
Di sebuah kabupaten yang terletak jauh di perbatasan negeri, kabar baik berembus dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Kepulauan Meranti. Foto : SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Selatpanjang - Di sebuah kabupaten yang terletak jauh di perbatasan negeri, kabar baik berembus dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Kepulauan Meranti. Harapan baru itu datang dalam bentuk sebuah mesin, yakni kehadiran alat hemodialisis (mesin pencuci darah).
Alat yang selama ini hanya bisa ditemukan di rumah sakit besar di luar kabupaten, kini hadir di tanah sendiri. Dalam waktu dekat, RSUD Meranti akan membuka layanan khusus instalasi Hemodialisa, terapi cuci darah bagi pasien dengan gangguan ginjal kronis.
Bagi pasien gagal ginjal, alat ini bukan sekadar mesin—melainkan penyelamat hidup. Sebab selama ini, mereka harus menempuh perjalanan panjang ke Pekanbaru atau ke Batam, demi mendapat terapi yang sangat bergantung pada waktu dan jadwal.
Dengan hadirnya alat hemodialisis dan unit khusus ini, pasien tidak perlu lagi dirujuk ke luar daerah. RSUD Meranti yang berstatus tipe C, kini mengambil langkah maju untuk memberikan pelayanan yang lebih lengkap dan manusiawi.
Pemerintah kabupaten berharap, fasilitas ini menjadi tonggak baru dalam pelayanan kesehatan Meranti. Sebuah terobosan kecil, tapi berdampak besar—terutama bagi mereka yang selama ini harus bertaruh nyawa melintasi laut dan waktu demi bertahan hidup.
Kini, hembusan harapan itu sudah terasa. Dalam waktu dekat, pasien cuci darah bisa tersenyum lega—karena mereka tak lagi harus pergi jauh untuk sekadar hidup lebih lama.
Direktur UPT RSUD Kepulauan Meranti, Muhammad Sardi, menyampaikan bahwa layanan hemodialisa sangat dibutuhkan oleh masyarakat setempat. Sebelumnya, RSUD Kepulauan Meranti belum mampu menyediakan layanan tersebut, sehingga banyak pasien terpaksa bolak-balik ke Pekanbaru untuk menjalani cuci darah. Kondisi ini tidak hanya menyulitkan secara fisik tetapi juga membebani finansial pasien, terutama mereka yang harus menetap di Pekanbaru dalam jangka waktu lama.
"Pasien hemodialisa harus cuci darah seminggu 2 hingga 3 kali. Kadang, mereka harus pindah dan menetap di Pekanbaru dalam waktu yang lama, sehingga biayanya membengkak. Ini menjadi keprihatinan kita bersama," kata Sardi.
Kalau jadwalnya tertunda, kata Sardi kondisi pasien bisa memburuk.
"Karena itu, kami ingin layanan ini ada di sini, dekat dengan rumah mereka. Ini bentuk komitmen kami dalam menghadirkan layanan yang mudah diakses, terutama bagi pasien kronis yang membutuhkan perhatian khusus secara rutin,” jelasnya.
Selama ini, bagi puluhan warga Kepulauan Meranti yang hidup dengan gangguan ginjal kronis, cuci darah bukan hanya pengobatan—tapi perjuangan. Perjuangan menantang laut, waktu, dan biaya demi sekali terapi yang bisa memperpanjang hidup mereka.
Namun kini, kabar baik datang dari jantung layanan kesehatan daerah itu. Dalam waktu dekat, RSUD Kepulauan Meranti akan membuka layanan Hemodialisa, layanan cuci darah yang selama ini hanya bisa diakses di luar daerah.
“Pasiennya cukup banyak. Ada sekitar 30 orang yang rutin ke luar Meranti untuk cuci darah. Bahkan terakhir, ada yang meninggal dunia karena tak sempat ditangani tepat waktu. Rencananya tahun ini kita sudah mulai mengoperasikan alat tersebut di RSUD kita," ujarnya.
Namun menghadirkan layanan ini bukan perkara mudah. Butuh anggaran besar, kesiapan sumber daya manusia, dan kelengkapan peralatan yang canggih. Menyadari tantangan itu, RSUD Kepulauan Meranti memilih langkah kolaboratif.
Solusinya datang melalui kerja sama operasional (KSO) dengan RS Awal Bros, salah satu rumah sakit swasta ternama di Indonesia. Dalam skema ini, RSUD menyediakan tempat dan tenaga medis, sementara RS Awal Bros menyediakan peralatan Hemodialisa yang dibutuhkan.
Langkah ini secara resmi dimulai sejak 21 Agustus 2024, ketika Bupati Kepulauan Meranti, AKBP (Purn) H. Asmar, menandatangani nota kesepahaman bersama CEO Awal Bros Group, Arfan Awaloeddin. Sebuah momen penting yang membuka jalan bagi pelayanan kesehatan lebih adil dan terjangkau.
“Setelah KSO disepakati, kami langsung bergerak. Tempatnya sudah siap, SDM-nya sudah disiapkan, dan peralatan juga segera datang,” kata Sardi optimis.
Bagi masyarakat Meranti, ini bukan sekadar hadirnya alat baru di rumah sakit. Ini adalah hadirnya harapan, agar mereka yang sakit tak perlu lagi jauh-jauh untuk hidup. Ini tentang bagaimana pelayanan dasar bisa menjangkau pelosok, dan bagaimana sebuah kabupaten kecil menolak untuk menyerah terhadap keterbatasan.
Saat ini persiapan lainnya yang dilakukan salah satunya mengirim dokter RSUD ke
Rumah Sakit Umum Pusat Dr. M. Djamil, Padang di Sumatera Barat untuk mengikuti program fellowship agar mendapatkan sertifikat yang bisa digunakan untuk membuka instalasi Hemodialisa.
“Nanti akan ada dokter konsulen yang bertanggungjawab di RSUD Kepulauan Meranti. Insya Allah pertengahan tahun ini akan kami mulai buka pelayanan tersebut. Dimana kita sudah menugaskan Dokter Internis yakni dr. Nuzki Yofanda, Sp.PD untuk mengikuti program fellowship selama enam bulan di Padang sejak Februari lalu sejalan dengan itu kita juga segera menginstalasi alat tersebut," ucapnya.
Layanan cuci darah di RSUD Kepulauan Meranti juga akan di-cover BPJS. Menurutnya pihak BPJS sudah juga dilakukan penjajakan.
"Insya Allah, kita pastikan layanan cuci darah ini ditanggung oleh BPJS. Sehingga kita bisa memberikan pelayanan kepada masyarakat," pungkasnya.
Sebelumnya pada tahun 2020, di bawah kepemimpinan Bupati Irwan Nasir, RSUD Kepulauan Meranti telah merencanakan untuk menyediakan layanan hemodialisa bagi warga yang membutuhkan. Namun, entah mengapa, hingga akhir masa jabatannya, rencana tersebut belum terwujud.
Upaya serupa kembali dirintis oleh eks Bupati Muhamad Adil pada tahun 2022, dengan menggandeng pihak ketiga yang difasilitasi oleh Amsori Thohir, menantu Wakil Presiden Ma'ruf Amin. Kerjasama yang dijajaki saat itu menggunakan skema revenue sharing dengan perusahaan pihak ketiga untuk pengadaan laboratorium hemodialisa. Namun, rencana tersebut kembali terhenti setelah Muhamad Adil tertangkap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi. (R-03)

