Harga Minyak Dunia Turun Lima Persen Setelah Ketegangan AS dan Iran Mereda
Harga minyak dunia melemah tajam pada perdagangan Senin setelah Amerika Serikat dan Iran menghentikan aksi militer. Foto : Istimewa
SabangMerauke News - Harga minyak dunia melemah tajam pada perdagangan Senin setelah Amerika Serikat dan Iran menghentikan aksi militer. Perkembangan tersebut memicu optimisme pasar terhadap penyelesaian diplomatik konflik Timur Tengah. Pelaku pasar juga menantikan normalisasi pelayaran minyak melalui Selat Hormuz sebagai jalur energi terpenting dunia.
Harga minyak mentah dunia anjlok lebih dari lima persen pada awal perdagangan Senin akibat meredanya konflik. Sentimen pasar langsung berubah setelah Washington dan Teheran menghentikan saling serang untuk sementara. Langkah tersebut meningkatkan optimisme pemulihan distribusi energi global menuju kawasan Asia.
Data perdagangan menunjukkan kontrak minyak mentah Brent turun sebesar US$4,89 selama awal transaksi perdagangan dunia. Harga Brent kini berada pada posisi US$91,89 per barel setelah sempat menembus bawah US$90. Koreksi tersebut menghapus sebagian kenaikan tajam selama tiga pekan perdagangan sebelumnya.
Minyak mentah West Texas Intermediate atau WTI mengalami penurunan sebesar US$4,67 sepanjang perdagangan Senin pagi. Harga WTI turun menjadi US$84,64 per barel setelah tekanan jual meningkat cukup signifikan. Kedua kontrak mencapai posisi terendah hampir satu pekan terakhir akibat perubahan sentimen pasar.
Sebelumnya, harga Brent sempat melampaui US$100 per barel saat konflik Timur Tengah terus memburuk. Gangguan distribusi minyak melalui Selat Hormuz mendorong kekhawatiran terhadap pasokan energi dunia semakin besar. Ketegangan juga meluas menuju Laut Merah sehingga menghambat jalur ekspor minyak menuju Asia.
Arab Saudi ikut merasakan dampak gangguan distribusi akibat meningkatnya risiko keamanan jalur pelayaran regional. Pengiriman minyak melalui Selat Bab el-Mandeb menghadapi tekanan setelah serangkaian serangan bersenjata terjadi. Kondisi tersebut sempat memperkuat kekhawatiran pelaku pasar terhadap pasokan minyak internasional.
Duta Besar Amerika Serikat untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Mike Waltz, menjelaskan keputusan terbaru Presiden Donald Trump. Pemerintah Amerika Serikat memilih menghentikan sementara operasi militer demi membuka peluang penyelesaian diplomatik. Langkah tersebut disambut positif pelaku pasar energi internasional sepanjang perdagangan awal pekan.
Analis pasar IG, Tony Sycamore, menilai peluang penyelesaian konflik kini semakin terbuka melalui jalur diplomasi. “Harapan semakin besar bahwa jalur diplomatik yang nyata mulai terbuka,” ujar Tony Sycamore. Pernyataan tersebut memperkuat keyakinan investor terhadap stabilitas pasokan minyak dalam beberapa waktu mendatang.
Tony Sycamore juga menilai implementasi kesepakatan empat belas poin menjadi awal penting menjaga stabilitas kawasan. Kejelasan pengaturan keamanan Selat Hormuz dipandang mampu mengurangi risiko gangguan distribusi energi internasional secara berkelanjutan. Pelaku pasar menunggu perkembangan diplomasi berikutnya sebagai penentu arah harga minyak.
Meski serangan berhenti sementara, aktivitas pelayaran belum kembali berlangsung seperti kondisi normal sebelumnya. Data perusahaan pelacakan kapal Kpler memperlihatkan jumlah kapal melintasi Selat Hormuz masih sangat terbatas. Rata-rata kurang dari sepuluh kapal komoditas melintas setiap hari sepanjang akhir pekan.
Lalu lintas kapal pada Selat Bab el-Mandeb juga mengalami penurunan setelah serangan kelompok Houthi berlangsung. Serangan tersebut menyasar fasilitas minyak Arab Saudi di kawasan pesisir Laut Merah beberapa waktu lalu. Meski demikian, sebuah supertanker milik China berhasil melewati jalur tersebut dengan aman.
Pelaku pasar energi global kini memusatkan perhatian terhadap perkembangan diplomasi Amerika Serikat dan Iran selanjutnya. Stabilitas keamanan Selat Hormuz tetap menjadi faktor utama penentu harga minyak dunia dalam jangka pendek. Perubahan situasi kawasan diperkirakan kembali memengaruhi pergerakan Brent serta WTI pada perdagangan berikutnya.(R-04)

