IHSG Tersentak, Mundurnya Perry Warjiyo Bikin Investor Langsung Ubah Arah
Ilustrasi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia. (sumber: istimewa)
JAKARTA, SabangMerauke News – Bursa saham membuka pekan dengan langkah pincang. Sentimen mendadak datang dari jantung kebijakan moneter nasional. Pengunduran diri Perry Warjiyo langsung mengubah suasana perdagangan pagi.
Indeks Harga Saham Gabungan dibuka melemah pada Senin pagi, 27 Juli 2026. Hingga pukul 09.05 WIB, IHSG turun 33,61 poin. Penurunan membawa indeks ke level 6.162.
Volume transaksi mencapai 2,16 miliar saham. Nilai perdagangan menyentuh Rp1,22 triliun. Frekuensi transaksi tercatat lebih dari 152 ribu kali.
Sebanyak 354 saham berada di zona merah. Hanya 157 saham menguat. Sementara 186 saham bergerak mendatar.
Pelemahan tersebut muncul sesaat setelah pemerintah mengumumkan pengunduran diri Perry Warjiyo. Pemerintah kemudian menunjuk Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, sebagai Pelaksana Tugas Gubernur Bank Indonesia. Langkah itu diambil demi menjaga kesinambungan kebijakan moneter.
Namun pasar rupanya belum sepenuhnya tenang. Investor masih menunggu kepastian mengenai gubernur definitif. Kekosongan kepemimpinan dinilai membuka ruang spekulasi.
Head of Research RHB Sekuritas, Andrey Wijaya, melihat tekanan pasar masih bersifat jangka pendek. Menurutnya, faktor global memperbesar efek berita tersebut. Situasi geopolitik dan agenda bank sentral Amerika turut memperkeruh sentimen.
"Kami memperkirakan pergantian kepemimpinan memicu ketidakpastian jangka pendek," ujar Andrey.
Ia menilai pengalaman Destry Damayanti menjadi modal penting. Rekam jejaknya dinilai memberi harapan terhadap kesinambungan kebijakan. Pasar membutuhkan sosok yang mampu menjaga kepercayaan investor.
"Yang paling dibutuhkan pasar adalah konsistensi kebijakan, bukan sekadar pergantian jabatan," katanya.
Andrey menilai perhatian investor kini bergeser. Fokus tidak lagi hanya kepada pejabat sementara. Pasar kini mengawasi proses penunjukan gubernur definitif.
Menurutnya, transisi yang berjalan mulus akan meredam gejolak. Sebaliknya, perubahan arah kebijakan berpotensi memunculkan tekanan baru. Rupiah, obligasi, hingga saham perbankan menjadi aset paling sensitif.
"Independensi bank sentral tetap menjadi fondasi utama kepercayaan pasar," kata Andrey.
Pandangan serupa datang dari Mirae Asset Sekuritas Indonesia. Lembaga itu memperkirakan tekanan jual masih membayangi pasar. Saham perbankan berkapitalisasi besar diperkirakan menjadi sasaran utama aksi jual.
Mirae juga memproyeksikan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah. Kondisi tersebut dapat mendorong naiknya tingkat suku bunga bebas risiko. Akibatnya, valuasi saham berpotensi ikut tertekan.
Meski demikian, Mirae masih memperkirakan BI menaikkan suku bunga acuan. Besarannya diperkirakan mencapai 25 basis poin. Suku bunga diproyeksikan menuju level enam persen.
"Kebijakan yang terlalu berorientasi pertumbuhan dapat meningkatkan risiko stabilitas," tulis riset Mirae.
BRI Danareksa Sekuritas melihat tekanan pasar berasal dari dua arah. Faktor domestik berpadu dengan sentimen global. Investor asing juga masih cenderung menghindari aset berisiko.
Menurut riset tersebut, IHSG diperkirakan bergerak terbatas. Level support berada di kisaran 6.137. Sementara resistance diperkirakan berada pada 6.268.
"Selama bertahan di atas support, peluang rebound tetap terbuka," tulis BRI Danareksa.
Meski peluang pemulihan masih ada, volatilitas diperkirakan belum mereda. Konflik geopolitik internasional masih menjadi ancaman. Agenda kebijakan moneter global juga terus diawasi investor.
Phintraco Sekuritas bahkan memperkirakan IHSG dapat menguji area 6.000 hingga 6.100. Tekanan datang dari konflik Amerika Serikat dan Iran. Harga minyak yang menguat memperbesar kekhawatiran inflasi.
Tambahan tarif perdagangan dari Amerika Serikat ikut menjadi perhatian. Investor juga menunggu laporan keuangan emiten kuartal kedua. Sejumlah aksi korporasi diperkirakan memengaruhi arah perdagangan.
"Iklim investasi saat ini dipenuhi sentimen yang saling bertabrakan," tulis Phintraco.
Pasar sebenarnya tidak hanya bereaksi terhadap satu nama. Investor sedang membaca arah kebijakan Bank Indonesia. Pergantian pemimpin dianggap berpotensi mengubah strategi moneter.
Selama beberapa tahun terakhir, Bank Indonesia menjadi jangkar stabilitas. Kebijakan suku bunga dan pengendalian inflasi menjadi acuan pelaku pasar. Karena itu, perubahan kepemimpinan langsung diterjemahkan sebagai risiko baru.
Kini perhatian pasar tertuju pada pemerintah. Siapa yang dipilih sebagai gubernur definitif akan menentukan arah ekspektasi investor. Kepastian dinilai lebih berharga dibanding spekulasi.
Bagi pelaku pasar, transisi bukan sekadar pergantian kursi. Transisi adalah ujian terhadap kredibilitas bank sentral. Selama kepastian belum muncul, ruang volatilitas diperkirakan tetap terbuka. R-02

