Dolar AS Tersungkur, Rupiah Belum Bernapas Lega Usai Bos BI Mundur
Ilustrasi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS. (sumber: istimewa)
JAKARTA, SabangMerauke News – Angin dari pasar global mulai berubah arah. Dolar Amerika Serikat kehilangan tenaga. Harga minyak dunia juga turun setelah ketegangan Amerika Serikat dan Iran mereda.
Kondisi itu biasanya menjadi kabar baik bagi rupiah. Beban impor energi berpotensi berkurang. Tekanan inflasi pun bisa ikut mereda.
Namun, kenyataan di pasar berbeda. Rupiah belum mampu memanfaatkan momentum global tersebut. Investor justru menahan langkah sambil mencermati perubahan besar di Bank Indonesia.
Pada perdagangan Non-Deliverable Forward (NDF), Senin pagi, 27 Juli 2026, rupiah berada di kisaran Rp17.987 per dolar Amerika Serikat. Nilai itu melemah sekitar 0,13 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Pelemahan terjadi setelah rupiah sempat menguat pada akhir pekan.
Di saat bersamaan, indeks dolar AS turun menuju level 101,29. Penurunan mencapai sekitar 0,17 persen. Harga minyak dunia juga bergerak turun ke sekitar 92,16 dolar Amerika Serikat per barel.
Meredanya konflik Timur Tengah menjadi pemicu utama perubahan tersebut. Amerika Serikat dan Iran sama-sama menahan aksi balasan. Kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi pun mulai mereda.
Situasi global sebenarnya membuka ruang penguatan mata uang Asia. Yen Jepang memimpin penguatan kawasan. Dolar Singapura, yuan offshore, dan won Korea Selatan ikut bergerak positif.
Namun, Indonesia menghadapi tantangan berbeda. Pasar tidak hanya membaca faktor eksternal. Dinamika politik ekonomi domestik juga menjadi perhatian utama.
Perhatian itu muncul setelah Presiden Prabowo Subianto menerima pengunduran diri Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia. Pergantian pucuk pimpinan bank sentral langsung menjadi sorotan investor. Pasar menunggu kepastian arah kebijakan moneter berikutnya.
Sesuai Undang-Undang Bank Indonesia, Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti menjalankan tugas sebagai Pejabat Sementara Gubernur BI. Proses tersebut berlangsung otomatis. Pemerintah menegaskan seluruh mekanisme berjalan sesuai aturan.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan pemerintah menghormati keputusan Perry Warjiyo. Presiden juga memberikan apresiasi atas pengabdiannya selama hampir tujuh tahun. Proses administrasi kini memasuki tahap penerbitan Keputusan Presiden.
"Presiden menyampaikan penghargaan atas dedikasi Perry Warjiyo selama memimpin Bank Indonesia," kata Prasetyo Hadi.
Meski terjadi pergantian pimpinan, pemerintah meminta masyarakat tetap tenang. Koordinasi fiskal dan moneter dipastikan tetap berjalan. Stabilitas ekonomi nasional menjadi prioritas utama.
Pelaku pasar tetap mencermati langkah pertama Destry Damayanti. Mereka ingin melihat arah kebijakan suku bunga. Intervensi terhadap nilai tukar juga menjadi perhatian.
Destry memastikan perubahan pimpinan tidak mengganggu tugas bank sentral. Sistem kelembagaan telah dibangun secara kolektif. Seluruh keputusan tetap mengikuti mekanisme yang berlaku.
"Bank Indonesia tidak bergantung kepada satu individu dalam menjalankan amanatnya," ujar Destry Damayanti.
Ia menegaskan seluruh instrumen moneter tetap berjalan. Stabilitas nilai tukar menjadi fokus utama. Sistem keuangan nasional juga terus dijaga.
Di sisi lain, perhatian investor belum sepenuhnya bergeser dari faktor global. Pekan ini, pasar menunggu hasil rapat Federal Reserve Amerika Serikat. Keputusan suku bunga akan menentukan arah dolar berikutnya.
Apabila The Fed mempertahankan suku bunga tinggi, tekanan terhadap mata uang negara berkembang dapat kembali meningkat. Rupiah berpotensi menghadapi tekanan baru. Arus modal asing juga bisa berubah arah.
Ekonom senior Ferry Latuhihin menilai tantangan Bank Indonesia belum berakhir. Tekanan berasal dari dalam maupun luar negeri. Menurutnya, menjaga kurs di bawah Rp18.000 bukan pekerjaan ringan.
"Tekanan eksternal dan domestik masih sangat besar terhadap rupiah," kata Ferry Latuhihin.
Ia menilai volatilitas rupiah masih tinggi. Pergerakan kurs dinilai belum sepenuhnya mencerminkan mekanisme pasar. Investor tetap menunggu kepastian arah kebijakan moneter berikutnya.
Meski begitu, sebagian analis melihat peluang tetap terbuka. Pelemahan dolar memberi ruang napas bagi rupiah. Penurunan harga minyak juga mengurangi tekanan terhadap neraca perdagangan energi.
Kini, perhatian pasar tertuju kepada dua panggung sekaligus. Panggung pertama berada di Washington melalui keputusan Federal Reserve. Panggung kedua berada di Jakarta melalui langkah awal Destry Damayanti.
Kedua faktor itu akan menentukan perjalanan rupiah dalam beberapa pekan mendatang. Pasar tidak hanya mencari angka. Mereka mencari kepastian, konsistensi, dan kepercayaan terhadap kebijakan ekonomi Indonesia. R-02

