Perebutan Kursi Sekjen PBB Memanas, Nama Rafael Grossi Muncul Jadi Favorit
Perserikatan Bangsa-Bangsa segera memilih pengganti Antonio Guterres di tengah krisis global yang semakin kompleks. Foto : Istimewa
SabangMerauke News - Perserikatan Bangsa-Bangsa segera memilih pengganti Antonio Guterres di tengah krisis global yang semakin kompleks. Enam kandidat mulai bersaing mendapatkan dukungan negara anggota Dewan Keamanan PBB. Proses pemilihan berlangsung ketika konflik internasional serta tekanan anggaran membayangi organisasi dunia tersebut.
Persaingan menghadirkan empat kandidat perempuan serta dua kandidat laki-laki dari Amerika Latin dan Afrika. Banyak pengamat menilai belum terdapat kandidat dengan keunggulan mutlak menjelang pemungutan suara. Perpecahan kepentingan negara besar membuat hasil akhir masih sulit diprediksi.
Diplomat Argentina Rafael Grossi menjadi salah satu nama paling sering disebut memiliki peluang besar. Grossi memimpin Badan Energi Atom Internasional atau IAEA sejak 2019. Pengalamannya menangani isu nuklir dunia memperkuat posisinya dalam bursa calon Sekretaris Jenderal PBB.
Grossi menangani berbagai persoalan strategis, termasuk program nuklir Iran serta konflik PLTN Zaporizhzhia di Ukraina. Ia memilih tetap menjalankan tugas sebagai Direktur Jenderal IAEA selama proses pencalonan berlangsung. “Meninggalkan tugas saat ini merupakan bentuk pelepasan tanggung jawab,” ujar Grossi.
Selain Grossi, mantan Presiden Cile Michelle Bachelet juga masuk daftar kandidat kuat. Bachelet pernah memimpin Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia. Pengalaman tersebut membuatnya dikenal luas dalam isu demokrasi dan perlindungan hak asasi manusia.
Bachelet menegaskan pemimpin PBB harus memiliki keberanian menghadapi tekanan politik negara besar. Ia pernah berselisih dengan China terkait laporan dugaan pelanggaran hak kelompok Uyghur. “Sekretaris Jenderal harus memiliki moral memimpin di bawah tekanan,” tegas Bachelet.
Nama lain berasal dari Ekuador, yaitu Maria Fernanda Espinosa, mantan Presiden Majelis Umum PBB. Espinosa mendorong reformasi menyeluruh terhadap sistem kerja organisasi internasional tersebut. Ia juga mengusulkan mekanisme peringatan dini untuk mendeteksi potensi konflik antarnegara.
Mantan Wakil Presiden Kosta Rika Rebeca Grynspan turut bersaing memperebutkan jabatan tertinggi PBB. Saat ini Grynspan memimpin Konferensi PBB untuk Perdagangan dan Pembangunan atau UNCTAD. Ia dikenal berperan dalam mediasi Inisiatif Gandum Laut Hitam antara Rusia dan Ukraina.
Grynspan menilai PBB harus lebih berani menghadapi tantangan global yang terus berkembang. “PBB terlalu berhati-hati terhadap berbagai risiko,” ujar Grynspan dalam berbagai kesempatan. Pandangan tersebut mencerminkan dorongan reformasi kelembagaan yang lebih progresif.
Guyana mengusung Carolyn Rodrigues-Birkett sebagai kandidat berikutnya dalam pemilihan tersebut. Diplomat berusia 52 tahun itu kini menjabat Duta Besar Guyana untuk PBB. Ia menilai organisasi dunia harus memulihkan kembali kredibilitas di mata masyarakat internasional.
“PBB memiliki peran jauh lebih luas dibanding isu perdamaian semata,” kata Rodrigues-Birkett. Menurutnya, pembangunan, hak asasi manusia, serta kerja sama internasional memerlukan perhatian seimbang. Pendekatan tersebut menjadi bagian utama visi kepemimpinannya.
Mantan Presiden Senegal Macky Sall menjadi satu-satunya kandidat berasal dari luar kawasan Amerika Latin. Sall menekankan hubungan erat antara perdamaian, pembangunan, dan stabilitas dunia. Namun pencalonannya dibayangi kritik mengenai penanganan demonstrasi politik selama masa pemerintahannya.
Pemilihan Sekretaris Jenderal PBB membutuhkan sedikitnya sembilan suara dari lima belas anggota Dewan Keamanan. Kandidat juga wajib terhindar dari hak veto lima anggota tetap Dewan Keamanan. Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Rusia, serta China tetap menjadi penentu akhir pemilihan tersebut.(R-04)

