Handphone Dokter Alex Simpan Petunjuk Penting, Polisi Libatkan Psikologi Forensik
Dokter Alex Cristo Loris. (sumber: istimewa)
RIAU, SabangMerauke News – Misteri kematian dokter muda di Kabupaten Siak belum menemukan ujungnya. Penyidik kini menelusuri jejak digital korban. Setiap data diperiksa menggunakan pendekatan ilmiah.
Korban diketahui bernama Alex Cristo Loris, 30 tahun. Ia menjalani Program Pendidikan Dokter Spesialis atau PPDS. Alex bertugas sebagai residen anestesi di RSUD Tengku Rafian Siak.
Hingga kini penyebab kematian belum dipastikan. Polisi masih mengumpulkan bukti. Seluruh proses dilakukan secara bertahap.
Satuan Reserse Kriminal Polres Siak membuka telepon genggam korban. Proses itu dilakukan bersama keluarga. Istri, orang tua, dan abang korban turut menyaksikan.
Kasatreskrim Polres Siak AKP Raja Kosmos Parmulais mengatakan pemeriksaan berlangsung hati-hati. Tidak seluruh isi telepon dapat diakses. Sebagian data masih terkunci sandi. "Beberapa data belum bisa dibuka karena menggunakan kata sandi," ujar Kosmos, Kamis, 23 Juli 2026.
Telepon genggam kemudian dikirim ke Laboratorium Forensik. Penyidik berharap seluruh data dapat diakses. Pemeriksaan digital terus berlangsung.
Dari hasil awal, penyidik menemukan petunjuk baru. Informasi tersebut mengarahkan penyelidikan. Dua saksi tambahan akhirnya dimintai keterangan.
Satu saksi merupakan seorang bidan. Saksi lainnya seorang dokter di Maluku. Keduanya telah dikonfirmasi langsung penyidik. "Keterangan mereka membantu memperluas arah penyelidikan," kata Kosmos.
Temuan itu belum mengubah kesimpulan perkara. Polisi tetap berhati-hati. Semua fakta harus saling menguatkan.
Penyidik kemudian mengambil langkah berbeda. Pendekatan psikologi forensik mulai digunakan. Metode ini dinilai penting dalam penyelidikan.
Polres Siak menggandeng akademisi Universitas Islam Riau. Surat permohonan telah dikirimkan. Rapat koordinasi dengan ahli segera digelar.
Pendekatan tersebut dipakai untuk membaca kondisi psikologis korban. Analisis dilakukan berdasarkan data. Seluruh informasi akan dipadukan. "Semua fakta harus diuji sebelum kesimpulan diambil," ujar Kosmos.
Selain memeriksa telepon genggam, polisi masih menunggu hasil autopsi. Pemeriksaan dilakukan di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Riau. Hasil resmi belum diterima penyidik.
Barang bukti lain juga sedang diuji. Alat medis milik korban diperiksa. Sejumlah obat turut dikirim ke laboratorium.
Pemeriksaan laboratorium diharapkan memberi jawaban baru. Polisi belum mengungkap hasil sementara. Seluruh proses masih berjalan.
Penyidik juga telah memeriksa banyak saksi. Mereka berasal dari lingkungan RSUD Tengku Rafian. Pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh.
Karyawan rumah sakit sudah dimintai keterangan. Dokter pembimbing residen ikut diperiksa. Istri korban juga telah memberikan kesaksian.
Seluruh pemeriksaan dilakukan memakai metode ilmiah. Polisi menggabungkan bukti fisik dan digital. Pendekatan hukum tetap dijalankan. "Seluruh penyelidikan mengikuti standar scientific crime investigation," kata Kosmos.
Kasus ini bermula pada pertengahan Juli. Alex dilaporkan tidak dapat dihubungi. Istrinya mulai mencari keberadaannya.
Korban terakhir terlihat melalui kamera pengawas rumah sakit. Ia berjalan keluar seorang diri. Rekaman itu menjadi petunjuk penting.
Sebelum menghilang, korban melepas jas kerja. Lokasi terakhir berada di sekitar ICU. Setelah itu jejaknya hilang.
Pencarian berlangsung hingga keesokan hari. Petugas keamanan menyisir area sekitar rumah sakit. Sopir ambulans ikut membantu pencarian.
Korban akhirnya ditemukan di semak belukar. Lokasinya berada di luar pagar rumah sakit. Jaraknya sekitar lima meter dari pagar.
Jasad ditemukan dalam posisi terlentang. Lokasi itu berada sekitar 30 meter dari Jalan Raja Kecik. Polisi segera memasang garis pengaman.
Tas sandang korban ditemukan di lokasi. Di dalamnya terdapat alat medis. Dompet dan kartu identitas juga diamankan.
Telepon genggam korban ikut ditemukan. Barang itulah yang kini menjadi perhatian utama. Jejak digital diharapkan membuka fakta baru.
Hasil autopsi sementara sebelumnya mencatat adanya memar. Polisi belum menyimpulkan penyebabnya. Analisis forensik masih berlanjut.
Kasus tersebut menyita perhatian dunia kesehatan. Rekan sejawat menunggu kepastian penyebab kematian. Keluarga juga masih menantikan jawaban.
Polisi menegaskan penyelidikan belum selesai. Semua bukti akan diuji. Setiap kesimpulan harus berdiri di atas fakta.
Jejak digital, hasil autopsi, barang bukti laboratorium, dan psikologi forensik kini menjadi empat kunci utama. Penyidik berharap seluruh kepingan itu saling melengkapi. Misteri kematian dokter PPDS di Siak masih menunggu jawaban akhir. R-02

