BNN Sita 2 Ton Narkoba Sepanjang 2024-2026, Menkopolkam: Ukuran Keberhasilan Bukan Banyaknya Penyitaan atau Penangkapan!
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Djamari Chaniago mengubah perspektif pemberantasan narkotika nasional secara tegas. Foto : Istimewa
JAKARTA, SabangMerauke News - Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Djamari Chaniago mengubah perspektif pemberantasan narkotika nasional secara tegas. Keberhasilan pencegahan tidak lagi diukur melalui banyaknya pelaku tertangkap maupun besarnya barang bukti sitaan. Target utama pemerintah menghentikan seluruh jalur masuk narkoba sekaligus memperkuat penolakan masyarakat terhadap peredarannya.
Djamari menyampaikan penegasan tersebut saat menghadiri peringatan Hari Anti Narkotika Internasional 2026 di Kabupaten Bogor. Menurutnya, keberhasilan sejati hadir ketika narkotika gagal memasuki wilayah Indonesia sepenuhnya. Masyarakat juga harus memiliki kesadaran kolektif menolak segala bentuk penyalahgunaan narkotika.
“Semua unsur bangsa harus peduli pada masalah-masalah yang berkaitan dengan antinarkotika,” ujar Djamari. Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor menghadapi ancaman narkotika nasional. Perlawanan tidak cukup mengandalkan aparat penegak hukum semata.
Djamari menilai Badan Narkotika Nasional terus memperkuat strategi pemberantasan melalui berbagai program berkelanjutan. Seluruh tahapan operasi membutuhkan dukungan masyarakat agar hasilnya semakin efektif setiap waktu. Sinergi nasional menjadi fondasi menghadapi jaringan narkotika lintas negara.
Menurutnya, pemberantasan narkoba memiliki nilai kemanusiaan sekaligus tanggung jawab moral menjaga masa depan bangsa Indonesia. Ancaman narkotika merusak generasi muda sekaligus menghambat pembangunan sumber daya manusia berkualitas nasional. Karena itu, pencegahan harus menjadi gerakan bersama seluruh elemen masyarakat.
“Memberantas narkoba merupakan tugas dunia-akhirat demi menyelamatkan manusia dan bangsa,” tegas Djamari. Pernyataan tersebut menggambarkan besarnya tanggung jawab menghadapi kejahatan narkotika terorganisasi. Pemerintah terus mendorong langkah pencegahan semakin masif.
Indonesia menghadapi tantangan geografis sangat kompleks sebagai negara kepulauan dengan ribuan titik masuk potensial. Jalur laut, udara, maupun perbatasan darat tetap menjadi perhatian aparat keamanan nasional. Kondisi tersebut menuntut pengawasan terpadu selama dua puluh empat jam.
“Lewat laut, udara, dari titik barat, utara, selatan, masih bisa masuk,” kata Djamari. Pernyataan tersebut menggambarkan luasnya tantangan menjaga seluruh wilayah Indonesia dari penyelundupan narkotika. Penguatan pengawasan lintas wilayah terus diprioritaskan pemerintah.
Djamari mengajak seluruh komponen masyarakat membantu tugas Badan Narkotika Nasional menghadang peredaran narkoba sejak tingkat daerah. Peran keluarga, sekolah, organisasi sosial, hingga pemerintah daerah dinilai sangat menentukan keberhasilan pencegahan. Kesadaran kolektif menjadi benteng pertama menghadapi ancaman narkotika.
Data BNN menunjukkan penyitaan lebih dari 12,3 ton narkotika sepanjang Oktober 2024 hingga Juli 2026. Operasi tersebut diperkirakan menyelamatkan sekitar 48,3 juta jiwa dari ancaman penyalahgunaan narkotika nasional. Nilai ekonomi jaringan kejahatan sebesar Rp16,5 triliun berhasil dihentikan.
BNN juga mengamankan aset tindak pidana pencucian uang senilai Rp165 miliar selama operasi berlangsung. Pengungkapan tersebut memperlihatkan besarnya keuntungan jaringan narkotika internasional memasok pasar Indonesia. Penindakan finansial menjadi strategi memutus kekuatan sindikat.
Operasi kawasan rawan narkotika dilaksanakan serentak pada 34 provinsi menghadapi jaringan peredaran narkotika nasional. Petugas menangkap 1.259 tersangka beserta sabu, ganja, pil ekstasi, uang tunai, logam mulia, senjata tajam, serta senjata api. Pemerintah memastikan perang melawan narkoba terus diperkuat melalui pencegahan, penindakan, serta dukungan penuh masyarakat.(R-04)

