BNPB Konfirmasi Fenomena Banjir di Tengah Musim Kemarau
Ilustrasi dan infografis anomali iklim di Indonesia, banjir bandang di musim kemarau. Foto: SM News/Created by AI
JAKARTA, SabangMerauke News – Indonesia kini memasuki musim kemarau resmi. Namun fenomena banjir bandang justru melanda sejumlah daerah. Kejadian ini menjadi anomali cuaca yang cukup mengkhawatirkan.
Banjir terjadi di Tapanuli Tengah Sumatera Utara, Agam Sumatera Barat, dan Sinjai Sulawesi Selatan. Ratusan keluarga terpaksa mengungsi demi keselamatan nyawa. Air bah datang tanpa diduga di tengah cuaca kering.
"Terdapat anomali kejadian yaitu banjir bandang di Kabupaten Agam," kata Kepala Pusat Data BNPB Abdul Muhari. "Peristiwa ini bertolak belakang dengan kondisi musim kemarau saat ini," tambahnya.
Di Agam, banjir dipicu hujan deras yang turun tiba-tiba. Pendangkalan aliran Sungai Batang Tumayo memperparah luapan air. Air berwarna cokelat pekat merendam pekarangan hingga bagian dalam rumah.
Sebanyak 90 kepala keluarga di wilayah Agam terkena dampak langsung. Saat kejadian berlangsung, 450 warga mengungsi ke tempat aman. Air mulai surut menjelang dini hari, warga perlahan pulang.
"Kami memantau perkembangan situasi secara berkala. Warga diminta tetap waspada terhadap kemungkinan susulan," tegas Muhari. "Selalu gunakan informasi resmi dari lembaga berwenang," imbaunya.
Banjir serupa melanda Kelurahan Sipange, Tapanuli Tengah pada Jumat 17 Juli pukul 17.00 WIB. Hujan deras mengguyur wilayah Kecamatan Tukka dalam waktu lama. Tanggul darurat Sungai Aek Silaga Laga akhirnya jebol total.
Air sungai meluap deras dan merendam pemukiman warga sekitar. Tercatat 200 kepala keluarga terdampak kejadian ini secara keseluruhan. Banjir mulai surut sepenuhnya pada Minggu 19 Juli.
Wilayah terdampak mencakup tujuh kelurahan di empat kecamatan berbeda. Kecamatan Tukka, Badiri, Pinangsori, dan Sarudik terendam air. Sebagian warga mengungsi ke Gedung Gereja HKBP Sipange.
Dapur umum telah didirikan guna memenuhi kebutuhan makan pengungsi. Tim gabungan terus memantau kondisi tanggul dan aliran sungai. Belum ada laporan kerusakan fatal maupun korban jiwa.
Di Sulawesi Selatan, banjir melanda Kabupaten Sinjai pada Minggu 19 Juli sekitar pukul 03.00 Wita. Hujan deras turun sejak Sabtu malam pukul 23.00 Wita. Air Sungai Tangka dan Sungai Bontompare akhirnya meluap ke daratan.
Ketinggian air di wilayah terdampak mencapai 40 sentimeter hingga 1 meter. Kantor instansi pemerintah dan rumah jabatan Bupati ikut tergenang. Ruas jalan, sekolah, masjid, dan fasilitas umum tak luput.
"Aliran sungai membelah pusat Kota Sinjai. Kerusakan pada fasilitas umum sedang kami hitung," ujar Analis Bencana BPBD Sinjai Andi Octave Amier. "Kami prioritaskan pemulihan akses jalan utama dulu," tambahnya.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika telah mengeluarkan peringatan cuaca ekstrem. Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan masuk kategori siaga hujan sangat lebat. Peringatan berlaku hingga tiga hari ke depan.
Daerah lain yang diwaspadai antara lain Sumatera Barat, Riau, dan Sumatera Selatan. Kalimantan, Jawa Barat, serta wilayah Nusa Tenggara juga berisiko. BMKG memantau perkembangan cuaca setiap jam secara berkelanjutan.
Pemerintah daerah diminta menyiapkan posko dan logistik darurat lebih dini. Warga di bantaran sungai disarankan siaga jika hujan turun lama. Fenomena perubahan iklim membuat pola cuaca sulit diprediksi.
Bencana ini mengingatkan pentingnya pemeliharaan sungai dan tanggul berkala. Warga diajak menjaga lingkungan agar tidak memperburuk luapan air. Keselamatan bersama menjadi prioritas utama di tengah anomali ini. R-02

