Gigi Dicopot, Ancam Jual Organ: Teror Sindikat Perdagangan Manusia pada Warga Agam
Ilustrasi dan infografis kasus perdagangan orang asal Sumatera Barat di Myanmar. Foto: SM News/Created by AI
SUMBAR, SabangMerauke News – Kasus dugaan perdagangan orang kembali menimpa warga negara Indonesia. Kali ini menyasar perempuan asal Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Ia terjebak setelah tergiur tawaran kerja palsu di luar negeri.
Korban bernama Ayu Elsih, warga Garagahan, Kecamatan Lubuk Basung. Kini ia diduga disekap di kamp penipuan daring wilayah Myawaddy, Myanmar. Lokasi penyekapan terletak jauh di tengah kawasan hutan lebat.
Yuliza adalah adik kandung seayah korban yang kini tinggal di Yogyakarta. Ia menceritakan kronologi bermula saat kakaknya merantau di Batam. Ayu menerima tawaran bekerja sebagai karyawan restoran di Thailand.
"Kak Ayu bersama temannya Susi berangkat terbang ke Thailand karena dijebak calo dengan modus tawaran kerja resmi di restoran," ujar Yuliza pada Minggu 19 Juli 2026.
Keluarga tak mengetahui detail perpindahan korban ke negara tetangga. Informasi yang diterima menyebut korban tiba-tiba sudah berada di Myanmar. Sindikat langsung mengurungnya tanpa akses komunikasi bebas.
Ayu merupakan anak yatim piatu yang sudah lama berjuang sendiri. Ia memiliki kerabat dekat di Bukittinggi serta adik di Kayu Tanam. Kini seluruh keluarga cemas menanti kabar keselamatan.
Kondisi fisik korban terlihat sangat memprihatinkan dalam rekaman video terakhir. Kedua tangannya diikat erat menggunakan ikat kabel plastik. Ia juga dilarang makan dalam waktu yang cukup lama.
Seluruh bagian kaki korban tertutup luka cambuk berwarna gelap. Bagian gigi depan atas dan bawah dicopot secara paksa oleh pelaku. Penyiksaan dilakukan karena korban gagal capai target dan berusaha melawan.
"Kedua tangannya diikat kabel, ditahan makan, kaki penuh luka cambuk, gigi depan dicopot paksa," jelas Yuliza.
Komunikasi terakhir berjalan pada Kamis 16 Juli pukul 18.27 WIB. Ayu mengirim pesan suara darurat kepada bibi yang merupakan adik ibu tirinya. Pesan itu berisi gambaran situasi yang makin mengancam nyawa.
Korban menyampaikan setiap jalan keluar dari kamp dijaga ketat. Pos penjagaan dipasang milisi yang membawa senjata api lengkap. Upaya melarikan diri sendiri berarti menghadapi bahaya maut.
Sehari sebelumnya, tepatnya 15 Juli, korban sempat melakukan panggilan video. Ia memperlihatkan langsung kondisi tubuh yang penuh luka segar. Sindikat juga menyampaikan ancaman tegas lewat sambungan itu.
Pihak sindikat menuntut pembayaran sisa uang tebusan sebesar Rp80 juta. Dana harus dikirim ke rekening atas nama Mohammad Egi Setiawan di Bank BRI. Rekening itu diduga milik penampung keuntungan sindikat di dalam negeri.
Jika keluarga menunda atau menolak membayar, ada ancaman mengerikan. Korban dikabarkan akan dikubur hidup-hidup di lokasi hutan. Atau lebih parah lagi, organ tubuhnya akan dijual secara terpisah.
Keluarga tak memiliki kemampuan finansial untuk memenuhi tuntutan tersebut. Mereka berharap campur tangan pemerintah segera menyelamatkan nyawa korban. Waktu yang tersedia terasa sangat singkat dan menekan.
Pihak keluarga memohon bantuan Kementerian Luar Negeri. Mereka juga meminta peran aktif BP2MI dan Bareskrim Polri. Semua instansi diharap berkoordinasi lewat jalur diplomasi internasional.
"Kami mohon segera evakuasi sebelum terlambat, selamatkan kakak saya dan temannya," tambah Yuliza.
Kepolisian diminta menindak tegas sindikat yang beroperasi di Indonesia. Rekening penampung uang tebusan harus segera dibekukan. Calo yang menjebak korban juga harus dilacak dan diproses hukum.
Kasus ini menjadi bukti nyata bahaya modus tawaran kerja palsu. Banyak pencari kerja tergiur janji gaji besar dan fasilitas layak. Padahal di baliknya tersembunyi jaringan perdagangan orang yang kejam.
Kamp penipuan daring di perbatasan Myanmar kerap menjadi tujuan korban. Korban dipaksa menipu orang lain lewat pesan dan telepon. Penolakan sedikit saja berujung pada penyiksaan berat hingga pembunuhan.
Pemerintah daerah Agam juga diminta turut membantu pemantauan kasus. Banyak warga setempat yang merantau ke luar negeri. Perlindungan dan informasi aman kerja sangat dibutuhkan.
Keluarga berharap tak ada lagi korban baru dari kalangan warga Sumatera Barat. Setiap tawaran kerja luar negeri harus diperiksa keabsahannya. Jangan tergiur janji manis tanpa bukti resmi yang jelas.
Saat ini keluarga masih berusaha menjalin komunikasi sesekali. Mereka berharap kabar evakuasi segera tiba dari pihak berwenang. Nyawa Ayu Elsih tergantung di ujung benang tipis. R-02

