Brent Tembus US$88, Konflik AS-Iran Picu Kepanikan Pasar Minyak Global
Harga minyak mentah dunia melesat tajam pada akhir pekan setelah konflik Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat. Foto : Istimewa
SabangMerauke News - Harga minyak mentah dunia melesat tajam pada akhir pekan setelah konflik Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat. Penutupan Selat Hormuz memicu kekhawatiran besar terhadap pasokan energi global. Kondisi tersebut mendorong reli harga minyak terkuat sepanjang pekan ini.
Harga minyak Brent ditutup mencapai US$88,10 per barel pada perdagangan Jumat, melonjak 4,59 persen. Minyak West Texas Intermediate mencapai US$82,49 per barel setelah naik 4,48 persen. Penguatan harian tersebut memperpanjang reli komoditas energi sepanjang pekan perdagangan.
Sepanjang pekan, minyak Brent melonjak 15,91 persen secara point-to-point dibandingkan pekan sebelumnya. Minyak WTI juga terbang 15,52 persen selama periode perdagangan sama. Kenaikan tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas pasokan global.
Ketegangan meningkat setelah Amerika Serikat menyerang jembatan serta bandara strategis milik Iran kemarin. Iran membalas serangan menuju fasilitas listrik dan instalasi desalinasi air di Kuwait. Teheran juga menyerang fasilitas militer Amerika Serikat tersebar kawasan Timur Tengah.
Iran mengklaim meluncurkan serangan langsung menuju fasilitas Amerika Serikat berada wilayah Suriah untuk pertama kalinya. Serangan tersebut berlangsung setelah enam malam berturut-turut operasi militer Amerika Serikat menghantam fasilitas pertahanan Iran. Eskalasi terbaru memicu lonjakan premi risiko perdagangan minyak internasional.
Presiden Lipow Oil Associates, Andrew Lipow, menilai pasar langsung merespons meningkatnya eskalasi konflik tersebut. Lipow mengatakan, “Pasar bereaksi terhadap meningkatnya permusuhan antara Iran dan Amerika Serikat.” Pernyataan tersebut dikutip Reuters, Sabtu, 18 Juli 2026.
Lipow memperingatkan ancaman lebih besar muncul apabila kapal tanker kembali menjadi sasaran serangan bersenjata. Ia menegaskan, “Jika lebih banyak kapal tanker mendapat tembakan dan rusak, harga minyak terus naik.” Risiko tersebut meningkatkan biaya pengiriman minyak lintas kawasan Teluk.
Gagalnya gencatan senjata memperburuk arus distribusi minyak melalui Selat Hormuz selama beberapa hari terakhir. Jalur tersebut sebelumnya menyalurkan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia setiap harinya. Gangguan distribusi segera memicu kekhawatiran kekurangan pasokan energi global.
Iran juga disebut mendorong kelompok Houthi menutup jalur Laut Merah apabila serangan Amerika Serikat berlanjut. Langkah tersebut berpotensi memperluas gangguan distribusi energi menuju pasar internasional. Risiko geopolitik semakin membebani sentimen perdagangan komoditas dunia.
Analis PVM Oil Associates, Tamas Varga, menilai situasi terbaru tetap menghadirkan ancaman serius bagi pasar. Varga mengatakan, “Perkembangan semacam itu memang merupakan ancaman.” Pernyataan tersebut mengacu perpindahan ekspor minyak Arab Saudi menuju Laut Merah.
Arab Saudi mengalihkan lebih dari 70 persen ekspor minyak hariannya menuju pelabuhan Yanbu beberapa pekan terakhir. Pengiriman dari Yanbu rata-rata mencapai empat juta barel setiap hari. Volume tersebut meningkat tajam dibandingkan sekitar 973 ribu barel pada periode sama tahun lalu.
Sementara itu, Kementerian Pertahanan Qatar mengumumkan berhasil menggagalkan serangan rudal Iran pada Jumat pagi. Kementerian Dalam Negeri melaporkan seorang anak mengalami luka akibat pecahan peluru intersepsi rudal. Situasi keamanan kawasan tetap menjadi perhatian utama pelaku pasar energi.
Konflik juga berkembang menuju kawasan Eropa Timur setelah Ukraina menyerang kilang minyak Rusia wilayah Yaroslavl. Perang pada dua kawasan strategis tersebut memperbesar ketidakpastian pasokan energi dunia. Pelaku pasar kini menunggu perkembangan konflik sebelum menentukan arah perdagangan berikutnya.(R-04)

