Tak Mau Tertinggal dari India, Prabowo Perintahkan Bangun Hingga 50 Pabrik Bioetanol
Presiden Prabowo Subianto mempercepat transformasi energi nasional melalui pengembangan bioetanol berbasis bahan baku lokal. Foto : Istimewa
MALANG, SabangMerauke News - Presiden Prabowo Subianto mempercepat transformasi energi nasional melalui pengembangan bioetanol berbasis bahan baku lokal. Target pembangunan hingga 50 pabrik bioetanol diumumkan untuk mengejar pencampuran bensin E20 seperti India. Langkah tersebut diproyeksikan mengurangi impor bahan bakar sekaligus memperkuat perputaran ekonomi nasional.
Presiden Prabowo menilai Indonesia memiliki sumber daya melimpah untuk memproduksi bioetanol dalam skala besar. Bahan baku tersedia dari tebu, molase, singkong, sorgum, jagung, aren, serta komoditas lokal lainnya. Potensi tersebut dinilai cukup menopang kebutuhan energi nasional dalam jangka panjang.
Prabowo membandingkan capaian Indonesia dengan negara lain yang telah lebih maju mengembangkan bioetanol nasional. India telah menerapkan campuran bioetanol sebesar 20 persen atau E20 pada bensin. Brasil bahkan berhasil menggunakan bioetanol murni E100 sebagai bahan bakar kendaraan.
“India sudah E20. Brasil sudah E100. Masa Indonesia enggak bisa. Indonesia bisa kan?” ujar Prabowo saat Panen Raya Serentak Bersama TNI di Malang, Jumat, 17 Juli 2026.
Presiden optimistis Indonesia mampu mengejar ketertinggalan melalui pembangunan infrastruktur industri bioetanol secara besar-besaran. Pemerintah segera mempercepat investasi fasilitas produksi bioetanol di berbagai daerah penghasil bahan baku. Target minimal mencapai 30 pabrik dengan peluang diperluas hingga 50 pabrik baru.
“Butuh pabrik. Sekarang baru satu pabrik. Saya putuskan bangun minimal 30 pabrik. Kalau perlu sampai 50 pabrik,” tegas Prabowo.
Prabowo mengaitkan program bioetanol dengan keberhasilan Indonesia mengembangkan biodiesel berbahan baku kelapa sawit. Program tersebut berhasil mengurangi ketergantungan terhadap impor solar sejak pertengahan Juli 2026. Dampak ekonomi juga dirasakan petani sawit melalui peningkatan permintaan bahan baku domestik.
“Sekarang hasilkan solar dari kelapa sawit. Mulai Juli tidak impor solar lagi. Uangnya dinikmati petani sawit seluruh Indonesia,” kata Prabowo.
Presiden berharap keberhasilan biodiesel dapat diulang melalui pengembangan bioetanol berbasis pertanian nasional. Nilai tambah komoditas petani diproyeksikan meningkat seiring bertambahnya kebutuhan industri bioenergi. Perputaran devisa juga tetap berada dalam negeri sehingga memperkuat ekonomi nasional.
Prabowo turut menanggapi pandangan pesimistis terhadap kemampuan Indonesia membangun kedaulatan energi secara mandiri. Menurutnya, bangsa ini memiliki kekuatan sumber daya alam sangat besar untuk memenuhi kebutuhan energi. Optimisme tersebut harus menjadi modal utama menghadapi persaingan global.
“Bisa. Yang enggak mau enggak apa-apa. Duduk saja nonton. Jangan membebek kekuatan asing terus,” ujar Prabowo.
Dalam kesempatan sama, CEO Pertamina New and Renewable Energy, John Anis, memaparkan perkembangan program bioetanol nasional. Indonesia saat ini baru menerapkan campuran bioetanol lima persen atau E5. Implementasi tersebut masih terbatas pada sejumlah SPBU di Jakarta serta Jawa Timur.
“India sudah E20. Kita baru E5. Program E5 tersedia di 170 outlet kami di Jawa Timur dan Jakarta,” jelas John Anis.
John menilai Indonesia memiliki peluang besar mengejar negara lain melalui pemanfaatan potensi bahan baku lokal. Produksi bioetanol tidak bergantung pada satu komoditas sehingga bisa disesuaikan kondisi masing-masing daerah. Pendekatan tersebut membuka kesempatan pemerataan pembangunan industri energi terbarukan.
Menurut John, konsep bioetanol berbeda dengan pembangunan kilang minyak konvensional yang terpusat pada wilayah tertentu. Industri bioetanol dapat dibangun lebih dekat menuju sentra produksi bahan baku pertanian. Dampaknya diperkirakan mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus menciptakan lapangan kerja baru.
“Bioetanol bisa didesentralisasi di semua tempat tergantung kearifan lokal,” ujar John.
Pertamina juga menegaskan pengembangan bioetanol memiliki manfaat langsung terhadap pengurangan impor bahan bakar minyak. Dana impor dapat dialihkan menjadi pendapatan petani melalui penyerapan bahan baku domestik. Strategi tersebut dinilai memperkuat ketahanan energi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Daripada uangnya ke luar, kasih petani,” tegas John.
Meski optimistis, Pertamina mengingatkan percepatan program E20 membutuhkan dukungan regulasi pemerintah secara menyeluruh. Kepastian kebijakan mandatori pencampuran bioetanol menjadi faktor utama menarik investasi industri. Kepastian harga bahan baku juga diperlukan agar produksi berlangsung berkelanjutan.
“Ada dua. Mandatori serta kepastian feedstock dan harganya,” kata John.
Saat ini Indonesia baru memiliki satu pabrik bioetanol yang mendukung program pencampuran bensin nasional. Target pembangunan puluhan pabrik baru menjadi langkah strategis mempercepat transisi energi berbasis sumber daya domestik. Jika terealisasi, Indonesia berpeluang mengejar India menuju E20 sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional.(R-03)

