Gol Sah Dihapus, Messi Lolos Hukuman: Ini Fakta Gelap VAR Piala Dunia 2026
Pemain Argentina, Lionel Messi, berdebat dengan wasit. (sumber: istimewa)
JAKARTA, SabangMerauke News – Piala Dunia 2026 menjadi edisi ketiga yang menggunakan teknologi VAR. Sistem ini diklaim mampu meningkatkan akurasi setiap keputusan wasit. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan hal yang sangat berbeda.
FIFA memperluas wewenang VAR jauh melampaui edisi sebelumnya. Teknologi kini juga memeriksa kesalahan identitas pemberian kartu. Pengawasan mencakup setiap detik jalannya pertandingan tanpa terkecuali. Harapannya, tak ada lagi ketidakadilan yang terjadi di lapangan hijau.
Namun, hasilnya justru menuai ribuan tanda tanya besar. Sejumlah keputusan memecah belah opini pemain, pelatih, dan jutaan suporter. Ada yang sesuai aturan, namun banyak pula yang terasa ganjil.
Salah satu kontroversi muncul saat Argentina melawan Mesir di babak 16 besar. Mostafa Zico sempat mencetak gol penyeimbang untuk tim Mesir. Gol itu kemudian dihapus setelah VAR menemukan pelanggaran jauh sebelumnya.
Pelanggaran terjadi pada Lisandro Martinez di tengah lapangan. Insiden itu berlangsung sebelum serangan berlanjut hingga gawang Mesir. Kubu Mesir merasa penelusuran tersebut terlalu jauh dari kejadian utama.
Pelatih Mesir Hossam Hassan mengungkapkan kekecewaan yang mendalam. "Kami melihat bola masuk gawang, kami berpikir menang. Tiba-tiba keputusan datang dari masa lalu," ujarnya. Federasi sepak bola Mesir pun mengajukan protes resmi kepada FIFA.
Kontroversi berlanjut pada laga Jerman melawan Paraguay di babak 32 besar. Sundulan Jonathan Tah sempat membuat suporter Jerman bersorak gembira. Namun, VAR meminta wasit meninjau ulang proses gol tersebut.
Sistem mendeteksi kontak ringan antara Waldemar Anton dan kiper. Kontak itu dianggap menghalangi kiper melakukan antisipasi bola. Gol tersebut akhirnya dibatalkan secara sepihak oleh tim peninjau.
Banyak pengamat menilai kontak itu terlalu ringan untuk dihukum. Kiper Paraguay juga sudah siap kembali saat bola disundul masuk. "Keputusan ini merusak semangat bermain kami," kata pelatih Jerman.
Kasus berikutnya terjadi saat Portugal berhadapan dengan Kroasia. Josko Gvardiol mencetak gol di detik-detik akhir waktu tambahan. Sorak sorai tim Kroasia berhenti mendadak setelah pesan masuk ke telinga wasit.
Teknologi semi otomatis mendeteksi posisi Igor Matanovic terlebih dahulu. Bola menyentuh pemain Kroasia sebelum dialirkan ke Mario Pasalic. Pasalic berada dalam posisi offside saat menerima umpan bola.
Bola sempat menyentuh kaki pemain bertahan Portugal di tengah jalan. Banyak yang mengira sentuhan itu mengubah status fase serangan. Namun, IFAB menegaskan sentuhan harus disengaja untuk membatalkan offside.
Pertandingan antara Prancis dan Senegal juga menyimpan cerita pelik. Kylian Mbappe terjatuh di kotak penalti setelah dihadang Sadio Mane. Wasit awalnya hanya memberikan tendangan sudut untuk tim Prancis.
Masyarakat menduga VAR akan mengubah keputusan menjadi penalti. Tayangan ulang memperlihatkan Mane sama sekali tidak menyentuh bola. Namun, wasit tetap mempertahankan keputusan awal yang sangat mengejutkan.
Alasan yang diberikan terasa sulit diterima oleh akal sehat. "Mbappe memulai kontak dengan kaki lawan lebih dulu," ujar wasit dalam laporannya. Tendangan sudut yang diberikan pun akhirnya dibatalkan sepenuhnya.
Kasus paling besar muncul saat Argentina berhadapan dengan Aljazair. Lionel Messi tampil luar biasa dengan mencetak tiga gol dalam satu laga. Namun, ia juga melakukan tekel keras ke arah Aissa Mandi.
Sepatu Messi terlihat jelas menghantam betis pemain Aljazair itu. Banyak yang menilai tindakan itu layak menerima kartu merah. Namun, VAR sama sekali tidak memberi sinyal kepada wasit utama.
Wasit hanya memberikan tendangan bebas tanpa hukuman disiplin tambahan. Insiden ini menjadi perdebatan paling panas sepanjang turnamen berlangsung. Pengamat sepak bola Luis Garcia memberikan pandangan yang tajam.
"Jika pemain lain melakukan hal sama, kartu merah pasti keluar. Mengapa ada ukuran berbeda untuk bintang besar? Aturan harus sama untuk semua orang di lapangan," tuturnya tegas.
Pihak pembela keputusan menilai ruang interpretasi masih ada. Mereka menyebutkan tekel itu tidak dilakukan dengan kekuatan penuh. Namun, kesan perlakuan berbeda sulit dihapus dari benak banyak orang.
Sampai saat ini FIFA belum memberikan tanggapan resmi secara menyeluruh. Teknologi yang seharusnya membawa keadilan kini justru menimbulkan keraguan. Masyarakat sepak bola menunggu perbaikan mendasar pada edisi selanjutnya. R-02
BERITA TERKAIT :
-
Piala Dunia 2026
Mbappe Tempel Messi, Sepatu Emas Piala Dunia Kini Memanas!

