Hotspot Riau Naik Drastis, Rokan Hilir Kembali Jadi Wilayah Terbanyak
Ilustrasi sebaran titik api di Riau. Foto: SM News/Created by AI
RIAU, SabangMerauke News – Jumlah titik panas di Provinsi Riau kembali bertambah. BMKG mencatat 14 hotspot terpantau pada Kamis. Kondisi itu memperkuat kewaspadaan menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan.
Sebaran titik panas muncul di lima kabupaten dan kota. Kabupaten Rokan Hilir mencatat jumlah terbanyak. Wilayah tersebut menyumbang tujuh hotspot sekaligus.
Kabupaten Bengkalis berada di urutan berikutnya. Daerah itu mencatat tiga titik panas. Kabupaten Rokan Hulu menyusul dengan dua hotspot.
Dua titik lainnya tersebar di wilayah berbeda. Kabupaten Pelalawan mencatat satu hotspot. Kota Pekanbaru juga terpantau memiliki satu titik panas.
Forecaster BMKG Stasiun Meteorologi Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, Mari Frystine, meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan. Ia mengingatkan pembukaan lahan dengan cara membakar sangat berbahaya. Langkah pencegahan harus dilakukan sejak dini.
"Kami mengimbau masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar," kata Mari Frystine.
Ia juga meminta warga aktif melaporkan indikasi kebakaran. Informasi cepat akan memudahkan penanganan awal. Upaya tersebut penting mencegah api meluas.
"Kami berharap masyarakat segera melapor jika menemukan indikasi kebakaran," ujarnya.
Data satelit menunjukkan peningkatan hotspot tidak hanya terjadi di Riau. Pulau Sumatera secara keseluruhan mencatat 293 titik panas. Angka itu menggambarkan tingginya potensi karhutla.
Sumatera Utara menjadi penyumbang hotspot terbanyak. Provinsi tersebut mencatat 107 titik panas. Posisi berikutnya ditempati Sumatera Selatan dengan 58 titik.
Aceh berada di urutan ketiga. Wilayah itu mencatat 33 hotspot. Kepulauan Bangka Belitung menyusul dengan 30 titik panas.
Lampung mencatat 24 hotspot. Sumatera Barat memiliki 14 titik panas. Jambi dan Bengkulu masing-masing mencatat delapan serta lima titik.
Meski hujan masih berpeluang turun di sebagian wilayah Riau, ancaman karhutla belum berakhir. Lahan gambut tetap rentan terbakar ketika mengering. Kondisi itu membutuhkan pengawasan berkelanjutan.
Pengalaman tahun-tahun sebelumnya menunjukkan api mudah membesar di lahan gambut. Asap juga dapat menyebar lintas daerah. Dampaknya mengganggu kesehatan hingga aktivitas ekonomi.
Karena itu, pencegahan tetap menjadi langkah paling efektif. Pemerintah, aparat, dan masyarakat perlu bergerak bersama. Satu percikan kecil dapat berubah menjadi bencana besar jika diabaikan.
Peningkatan hotspot menjadi pengingat penting bagi seluruh daerah. Musim kering masih menyimpan banyak risiko. Kesiapsiagaan semua pihak menjadi kunci melindungi hutan dan lingkungan Riau. R-02

