PT Mayawana dan IFP Jadi Pemasok Kayu, FSC Perpanjang Penangguhan Terhadap APRIL Group
Forest Stewardship Council (FSC) melanjutkan penangguhan nota kesepahaman APRIL Group menyusul perubahan kebijakan pengadaan kayu. Foto : Istimewa
RIAU, SabangMerauke News - Forest Stewardship Council (FSC) melanjutkan penangguhan nota kesepahaman APRIL Group menyusul perubahan kebijakan pengadaan kayu. Keputusan muncul setelah APRIL memasukkan PT Mayawana dan PT IFP sebagai pemasok pasar terbuka. FSC menilai langkah tersebut memerlukan evaluasi lanjutan terhadap komitmen penghentian deforestasi.
Forest Stewardship Council mengumumkan keputusan melalui situs resminya pada 23 Juni 2026. Penilaian muncul setelah APRIL memperbarui kebijakan pengadaan kayu pasar terbuka. Perubahan itu menggeser batas deforestasi pemasok menjadi 31 Desember 2020.
FSC menilai perubahan batas tersebut memunculkan keraguan terhadap komitmen proses perbaikan APRIL. “Perubahan tanggal ini menimbulkan pertanyaan tentang komitmen keseluruhan APRIL,” tulis FSC. Lembaga tersebut melanjutkan penangguhan nota kesepahaman perbaikan bersama APRIL.
Selama masa penangguhan, FSC mengevaluasi pembuktian komitmen APRIL terhadap deforestasi pasca-2020. Penilaian juga mencakup rencana pemulihan dampak aktivitas PT Mayawana dan PT IFP. Kedua perusahaan menjadi perhatian akibat dugaan konversi hutan berkelanjutan.
FSC menilai laporan mengenai kedua pemasok tersebut sangat mengkhawatirkan. “Kedua perusahaan melakukan konversi hutan bahkan setelah tanggal batas 2020,” tulis keputusan FSC. Temuan itu menjadi dasar evaluasi lanjutan terhadap APRIL.
Kasus APRIL bersama FSC berlangsung sejak pengaduan Greenpeace, WWF Indonesia, dan Rainforest Action Network pada 2013. Pengaduan menyoroti dugaan deforestasi besar serta dampak sosial dan lingkungan. APRIL kemudian keluar dari asosiasi FSC pada Agustus 2013.
APRIL kembali menandatangani nota kesepahaman perbaikan bersama FSC pada November 2023. Proses tersebut tertunda setelah muncul dugaan kekerasan masyarakat adat melibatkan PT Toba Pulp Lestari. Penangguhan pertama diumumkan FSC pada September 2025.
FSC menyatakan penanganan kasus PT Toba Pulp Lestari berbeda dengan persoalan pemasok baru. APRIL telah menyerahkan laporan investigasi independen beserta rencana kerja selama 2026. FSC menyebut seluruh persyaratan kasus tersebut telah dipenuhi.
“Pada 3 Juni 2026, APRIL telah memenuhi persyaratan tersebut,” tulis pengumuman FSC. Penilaian itu hanya berlaku untuk kasus PT Toba Pulp Lestari. Evaluasi pemasok baru tetap berlanjut sesuai keputusan terbaru.
APRIL menyatakan perubahan pemasok dipicu gangguan pasokan akibat pencabutan izin operasi sejumlah perusahaan. Kondisi tersebut memengaruhi sekitar 15 persen pasokan kayu perusahaan. APRIL kemudian menambah pemasok pasar terbuka untuk menjaga kontinuitas produksi.
APRIL menegaskan seluruh pemasok menjalani uji tuntas sesuai standar ketertelusuran EUDR. “Kami bertindak mengamankan kontinuitas pasokan dengan membawa pemasok pasar terbuka tambahan,” tulis APRIL. Perusahaan juga menyebut PT Mayawana dan PT IFP telah mengadopsi kebijakan tanpa deforestasi.
APRIL mengaku menghormati keputusan FSC meski menyampaikan keprihatinan terhadap dampaknya. “Keputusan ini akan semakin menunda penyampaian solusi lingkungan dan sosial,” tulis APRIL. Perusahaan berharap implementasi program pemulihan tetap berjalan.
Sementara itu, koalisi masyarakat sipil menuding PT Mayawana dan PT IFP tetap melakukan deforestasi pasca-2020. Aktivitas tersebut disebut merusak habitat orang utan Kalimantan serta hutan gambut. Koalisi juga menyoroti konflik masyarakat dan dugaan kriminalisasi di sekitar konsesi.(R-04)

