Harga Minyak Tersungkur! Pasar Dunia Cemas, Lalu Lintas Kapal di Selat Hormuz Jadi Sorotan
Ikustrasi
JAKARTA, SabangMerauke News – Harga minyak dunia kembali tertekan pada perdagangan Selasa (23/6/2026) atau Rabu pagi waktu Indonesia. Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya perhatian pelaku pasar terhadap kondisi lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi urat nadi distribusi minyak dunia.
Alih-alih melonjak akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah, harga minyak justru bergerak turun. Investor mulai menaruh harapan bahwa ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran akan mereda, sementara aktivitas pelayaran di Selat Hormuz masih tetap berlangsung sehingga kekhawatiran gangguan pasokan global perlahan menyusut.
Data perdagangan menunjukkan harga minyak Brent berjangka turun 82 sen atau sekitar 1 persen ke level US$ 77,08 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah 65 sen dan ditutup pada posisi US$ 73,21 per barel.
Penurunan harga tersebut terjadi ketika pasar terus memantau perkembangan di Selat Hormuz, sebuah jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab. Jalur ini menjadi titik penting bagi perdagangan energi dunia karena sekitar seperlima pasokan minyak global melewati kawasan tersebut.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan bahwa sebanyak 19 juta barel minyak mengalir melalui Selat Hormuz pada Senin (22/6/2026). Angka tersebut disebut sebagai volume yang sangat besar, bahkan mendekati rekor tertinggi.
Meski demikian, pernyataan itu belum dapat diverifikasi secara independen. Sebelum konflik memanas, rata-rata sekitar 20 juta barel minyak mentah dan produk turunannya diekspor setiap hari melalui Selat Hormuz.
Situasi di lapangan sempat memunculkan kebingungan. Iran sebelumnya menyatakan Selat Hormuz ditutup pada akhir pekan lalu. Namun, Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM menegaskan bahwa jalur tersebut tetap terbuka dan kapal-kapal masih dapat melintas.
Perbedaan informasi itu sempat memicu kekhawatiran pasar mengenai kemungkinan terganggunya pasokan energi global. Akan tetapi, hingga saat ini lalu lintas kapal tanker dilaporkan masih berjalan, sehingga tekanan terhadap harga minyak justru berkurang.
Di sisi lain, langkah pemerintah Amerika Serikat yang memberikan izin terbatas terhadap penjualan minyak Iran turut menjadi sentimen penting yang mempengaruhi pasar.
Departemen Keuangan AS mengeluarkan lisensi selama 60 hari yang mengizinkan produksi, pengiriman, dan penjualan minyak Iran. Kebijakan ini juga membuka jalan bagi impor minyak mentah Iran ke Amerika Serikat dengan transaksi menggunakan dolar AS.
Lisensi tersebut berlaku hingga 21 Agustus 2026 dan diperkirakan dapat menambah pasokan minyak di pasar internasional. Bertambahnya suplai menjadi salah satu faktor yang mendorong harga minyak bergerak turun dalam beberapa hari terakhir.
Meski demikian, kebijakan tersebut tidak lepas dari kontroversi. Sejumlah pihak khawatir bahwa dana hasil penjualan minyak akan digunakan Iran untuk memperkuat kembali kemampuan militernya setelah konflik yang berlangsung selama beberapa waktu.
Menanggapi hal itu, Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Iran seharusnya menggunakan pendapatan dari minyak untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya.
"Seharusnya mereka tidak melakukan itu. Kita lihat saja nanti," kata Trump saat menghadiri acara penandatanganan perintah eksekutif di Gedung Putih.
Trump menambahkan bahwa Iran seharusnya memanfaatkan pendapatan tersebut untuk membeli kebutuhan pangan bagi masyarakatnya.
"Mereka seharusnya menggunakan uang itu untuk membeli makanan bagi rakyat mereka, karena saat ini rakyat mereka sangat lapar," ujarnya.
Sementara itu, optimisme pasar semakin meningkat setelah adanya perkembangan positif dalam pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung di Swiss.
Wakil Presiden AS JD Vance menyebut telah terjadi "kemajuan besar" dalam perundingan tersebut. Pernyataan itu memberikan sinyal bahwa konflik yang selama ini membayangi pasar energi dunia berpotensi menemukan jalan keluar yang lebih permanen.
Pelaku pasar pun mulai mengubah pandangan mereka. Jika sebelumnya ancaman perang dan penutupan Selat Hormuz menjadi faktor yang mengerek harga minyak, kini harapan terhadap terciptanya stabilitas justru membuat harga energi terkoreksi.
Direktur Pelaksana Strategi Ekuitas AS di Citi Research, Scott Chronert, mengatakan pergerakan harga minyak dalam beberapa pekan terakhir menunjukkan bahwa investor semakin yakin terhadap kemungkinan berakhirnya konflik.
"Jika melihat pola perdagangan harga minyak selama beberapa minggu terakhir, pasar tampaknya semakin percaya bahwa kita semakin dekat menuju akhir konflik," ujarnya.
Menurut Chronert, tekanan harga energi yang selama ini memicu kekhawatiran inflasi juga diperkirakan akan berangsur mereda dalam beberapa bulan mendatang.
Pandangan tersebut menjadi angin segar bagi perekonomian global. Harga minyak yang lebih stabil dapat membantu menurunkan tekanan biaya produksi, menahan laju inflasi, sekaligus memberikan ruang bagi bank sentral di berbagai negara untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Namun demikian, pasar tetap berhati-hati. Oman dan Iran pada Selasa menegaskan kembali hak kedaulatan mereka atas perairan teritorial di Selat Hormuz melalui pernyataan bersama.
Pernyataan itu menjadi pengingat bahwa meskipun optimisme mulai tumbuh, Selat Hormuz masih menjadi salah satu titik paling sensitif dalam geopolitik dunia. Setiap perkembangan di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi arus perdagangan energi global dan menentukan arah harga minyak dalam waktu dekat.
Untuk saat ini, pelaku pasar memilih menunggu. Fokus utama mereka bukan lagi pada ancaman perang semata, melainkan pada satu hal yang sangat menentukan: apakah kapal-kapal tanker akan terus bergerak lancar melewati Selat Hormuz atau justru kembali menghadapi hambatan yang dapat mengguncang pasar energi dunia. (R-05)

