Bukan Soeharto, Ternyata Jenderal Ini yang Pernah Diminta Soekarno Menggantikan Dirinya Sebagai Presiden RI
Istana Merdeka. Foto: Dok SM News
JAKARTA, SabangMerauke News – Sebuah kisah mengejutkan dari perjalanan sejarah Indonesia mengungkap bahwa Presiden pertama RI, Soekarno, pernah secara langsung meminta seorang jenderal TNI untuk bersiap menggantikannya sebagai Presiden Republik Indonesia. Sosok yang dimaksud bukanlah Jenderal Soeharto, melainkan Ahmad Yani, salah satu perwira yang paling dipercaya Bung Karno.
Permintaan itu disampaikan secara langsung di Istana Negara setelah Soekarno mengaku mendapat sebuah wangsit saat tidur siang. Kisah yang selama ini jarang diketahui publik tersebut menjadi salah satu episode paling menarik dalam sejarah pergantian kepemimpinan Indonesia.
Peristiwa itu terjadi pada September 1965. Saat itu, Ahmad Yani yang menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) tengah bermain golf ketika menerima panggilan mendadak dari Presiden Soekarno untuk segera datang ke Istana Negara.
Tanpa sempat mengganti pakaian, Ahmad Yani langsung berangkat memenuhi panggilan orang nomor satu di Indonesia itu. Sesampainya di Istana, Bung Karno ternyata ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting dan mengejutkan.
Menurut penuturan Ahmad Yani kepada Menteri Pengairan Dasar, Kanisius Haryasudirja Sasraningrat, Soekarno mengaku baru saja memperoleh petunjuk saat tidur siang.
"Yani, saya baru tidur siang dan dalam tidur saya menerima wangsit dari Yang Maha Kuasa, yaitu kalau ada apa-apa dengan saya, sehingga saya tidak dapat menjalankan tugas kepresidenan, ataupun saya mati, maka kau harus menggantikan saya menjadi Presiden Republik Indonesia," ujar Soekarno sebagaimana dikutip dalam buku Haryasudirja: Tokoh Pejuang Kemerdekaan, Pembangunan dan Pendidikan (2005).
Ucapan tersebut sontak membuat Ahmad Yani terkejut. Sebagai seorang prajurit, ia tidak pernah membayangkan akan diminta menjadi penerus Presiden Soekarno.
Ahmad Yani bahkan menilai masih banyak tokoh lain yang lebih layak dan lebih senior untuk memimpin Indonesia. Dari kalangan sipil, terdapat sejumlah tokoh nasional yang memiliki pengaruh besar. Sementara dari kalangan militer, Ahmad Yani menyebut nama Abdul Haris Nasution atau A.H. Nasution yang dinilainya lebih senior dan lebih pantas.
Namun demikian, Bung Karno tetap pada pendiriannya. Presiden meyakini bahwa petunjuk yang diterimanya sangat jelas, dan Ahmad Yani adalah sosok yang harus menggantikannya apabila suatu saat ia tidak lagi dapat menjalankan tugas sebagai kepala negara.
Kedekatan Soekarno dengan Ahmad Yani memang bukan rahasia. Sejak dipercaya menjadi KSAD pada 1962, Ahmad Yani menjadi salah satu jenderal yang paling dekat dengan Presiden.
Dalam buku Militer dan Politik di Indonesia karya Harold Crouch, disebutkan bahwa Soekarno menyukai karakter Ahmad Yani yang dinilai lebih fleksibel dibanding sejumlah perwira tinggi lainnya. Sikap itu membuat hubungan keduanya berlangsung harmonis meski situasi politik Indonesia saat itu tengah memanas.
Tak hanya itu, kedekatan mereka juga diungkap oleh ajudan Presiden, Maulwi Saelan, dalam buku Maulwi Saelan: Penjaga Terakhir Soekarno.
Dalam buku tersebut, Maulwi Saelan menulis bahwa Ahmad Yani merupakan jenderal yang paling disayangi oleh Bung Karno. Hubungan emosional antara Presiden dan KSAD itu terjalin erat hingga akhir hayat Ahmad Yani.
Sayangnya, harapan Soekarno agar Ahmad Yani menjadi penerusnya tidak pernah terwujud.
Pada akhir September 1965, Indonesia diguncang oleh salah satu tragedi paling kelam dalam sejarah nasional, yakni Gerakan 30 September atau G30S. Dalam peristiwa tersebut, Ahmad Yani menjadi salah satu jenderal yang diculik dan kemudian gugur.
Kabar duka itu membuat Soekarno sangat terpukul. Menurut kesaksian Maulwi Saelan, Presiden sangat berduka atas nasib para jenderal yang menjadi korban, terutama Ahmad Yani yang selama ini menjadi sosok paling dekat dengannya.
"Presiden sedih sekali atas nasib para jenderal yang diculik, khususnya Jenderal Ahmad Yani, jenderal yang paling disayanginya," tulis Maulwi Saelan dalam bukunya.
Kepergian Ahmad Yani mengubah arah sejarah Indonesia. Sosok yang pernah dipersiapkan Bung Karno sebagai penerus itu justru gugur sebelum sempat memainkan peran politik yang lebih besar.
Seiring bergulirnya pergolakan politik pasca-G30S, kekuasaan Presiden Soekarno perlahan melemah. Hingga akhirnya, tongkat estafet kepemimpinan nasional berpindah ke tangan Soeharto, yang kemudian resmi menjadi Presiden kedua Republik Indonesia.
Kisah Soekarno dan Ahmad Yani ini menjadi bagian penting dalam mozaik sejarah Indonesia. Sebuah cerita tentang kepercayaan, kedekatan, dan sebuah harapan besar yang pada akhirnya tak pernah menjadi kenyataan karena terhenti oleh tragedi yang mengubah perjalanan bangsa. (R-05)

