Indonesia Pilih Rusia untuk Proyek Nuklir, Pemerintah Pastikan Hubungan dengan Amerika Serikat Tak Retak
Presiden Prabowo bersama Presiden Rusia Vladimir Putin. Foto: Dok SM News
JAKARTA, SabangMerauke News – Pemerintah Indonesia menegaskan rencana kerja sama pengembangan energi nuklir dengan Rusia tidak akan mengganggu hubungan strategis Indonesia dengan Amerika Serikat (AS). Di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks, Indonesia memilih tetap berpegang pada prinsip politik luar negeri bebas aktif dengan membuka peluang kerja sama kepada berbagai negara demi kepentingan nasional.
Pernyataan itu disampaikan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, Vahd Nabyl Achmad Mulachela, yang menegaskan bahwa diversifikasi mitra kerja sama merupakan langkah yang lazim dilakukan negara mana pun, termasuk Indonesia.
"Diversifikasi mitra kerja sama merupakan langkah yang wajar untuk memperoleh berbagai pilihan teknologi, pengembangan kapasitas, praktik terbaik, dan skema pembiayaan yang sesuai kebutuhan nasional," ujar Vahd, Senin (22/6/2026).
Menurutnya, kerja sama Indonesia dengan Rusia di bidang nuklir murni ditujukan untuk kepentingan damai, khususnya pengembangan energi melalui Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Karena itu, pemerintah meyakini hubungan Indonesia dengan AS akan tetap terjaga dengan baik.
"Kebijakan ini justru mendukung kemandirian Indonesia dalam menentukan opsi yang paling sesuai bagi kepentingan dan ketahanan energi nasional," katanya.
Fokus pada Energi, Bukan Senjata
Pemerintah menegaskan bahwa kerja sama dengan Rusia tidak berkaitan dengan pengembangan senjata nuklir. Indonesia tetap berkomitmen menggunakan teknologi nuklir untuk tujuan damai dan mendukung transisi energi menuju sumber energi yang lebih bersih.
Vahd menjelaskan, arah kebijakan tersebut sejalan dengan berbagai regulasi nasional, mulai dari Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2007 tentang Energi, Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2025 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN), hingga Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029.
"Pemerintah Indonesia telah menetapkan energi nuklir untuk tujuan damai sebagai bagian dari strategi diversifikasi energi nasional guna memperkuat ketahanan energi, mendukung transisi energi dan industrialisasi, serta mencapai target pembangunan rendah karbon," jelasnya.
Indonesia juga membuka peluang kerja sama dengan berbagai negara yang memiliki keunggulan teknologi nuklir.
"Sejalan dengan kebijakan tersebut, pemerintah Indonesia terbuka untuk melakukan kerja sama, dialog, tukar pendapat dan pengalaman, feasibility studies, pelatihan peningkatan kapasitas, dan kerja sama riset dengan negara-negara yang unggul dalam teknologi nuklir, termasuk dengan Rusia," ujar Vahd.
Rusia Jadi Mitra Pengembangan SMR
Kerja sama yang dijajaki Indonesia dengan Rusia berfokus pada pengembangan Small Modular Reactor (SMR) atau reaktor modular kecil.
SMR merupakan teknologi pembangkit listrik tenaga nuklir generasi baru dengan kapasitas yang lebih kecil dibanding PLTN konvensional, namun dinilai lebih fleksibel, efisien, dan memiliki standar keamanan tinggi.
Pemerintah Indonesia juga terus berkoordinasi dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) untuk memastikan seluruh proses pengembangan berlangsung aman dan sesuai standar internasional.
"Penjajakan kerja sama dimaksud dilaksanakan secara cermat dan komprehensif dengan mempertimbangkan kepentingan nasional, kebutuhan pembangunan, serta pemanfaatan energi nuklir secara aman dan damai," kata Vahd.
Ancang-ancang kerja sama ini semakin terlihat setelah Direktur Jenderal perusahaan energi atom Rusia, Rosatom, Alexey Likhachev, menemui Presiden Prabowo Subianto di Jakarta pada 12 Mei 2026.
Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas berbagai peluang kerja sama, mulai dari pengembangan proyek tenaga nuklir, pembangunan infrastruktur, hingga pelatihan sumber daya manusia.
Tak lama setelah itu, rencana pengembangan PLTN modular kecil juga menjadi salah satu hasil penting dalam Sidang Komisi Bersama (SKB) ke-14 Indonesia-Rusia yang berlangsung di Kazan, Rusia.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI, Yuliot Tanjung, menyatakan bahwa kerja sama energi dengan Rusia telah menghasilkan sejumlah komitmen investasi.
"Kerja sama di sektor energi telah menghasilkan berbagai komitmen investasi di sektor hulu minyak dan gas bumi dan kilang minyak, ketenagalistrikan berbasis energi baru dan terbarukan, termasuk rencana pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir modular kecil atau SMR," ujarnya.
Indonesia Incar PLTN Terapung
Rosatom bahkan menyebut Indonesia tertarik mengembangkan armada PLTN terapung. Teknologi ini memungkinkan pembangkit nuklir ditempatkan di atas platform terapung sehingga lebih fleksibel untuk memenuhi kebutuhan listrik di wilayah kepulauan.
Berdasarkan definisi IAEA, SMR adalah reaktor nuklir dengan kapasitas listrik hingga 300 Megawatt (MW), yang dapat dibangun di darat maupun dalam bentuk PLTN terapung.
Pemerintah Indonesia sendiri telah memasukkan pembangunan PLTN dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengungkapkan, pemerintah menargetkan pembangunan dua unit PLTN dengan total kapasitas 500 MW.
"Dalam RUPTL 2025-2034 ditetapkan tambahan kapasitas pembangkit sebesar 70 GW, dengan target 40 GW berasal dari energi baru terbarukan. Untuk PLTN ditargetkan pembangunan dua unit dengan total kapasitas 500 MW," katanya.
Bahkan, pemerintah menargetkan PLTN pertama Indonesia sudah dapat beroperasi secara komersial pada 2032 dengan kapasitas awal 250 MW.
RI Tetap Dekat dengan AS
Menariknya, di tengah penjajakan kerja sama dengan Rusia, Indonesia juga tetap menjalin hubungan erat dengan Amerika Serikat di bidang nuklir sipil.
Pada Maret 2026 lalu, Indonesia bersama AS dan Jepang menyelenggarakan konferensi penerapan reaktor modular kecil melalui program Foundational Infrastructure for Responsible Use of Small Modular Reactor Technology (FIRST).
Amerika Serikat bahkan menyebut Indonesia sebagai negara pertama di dunia yang menjadi penerima manfaat program FIRST sejak 2019.
"Teknologi Amerika Serikat mendukung upaya Indonesia untuk membangun masa depan energi yang aman dan tangguh," ujar Kuasa Usaha Kedutaan Besar AS di Indonesia, Peter M. Haymond.
Fakta ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak memilih satu blok kekuatan tertentu, melainkan memperluas kerja sama dengan berbagai negara untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Dengan strategi tersebut, pemerintah optimistis hubungan dengan Rusia maupun Amerika Serikat akan tetap berjalan seimbang, tanpa mengorbankan kepentingan nasional Indonesia. (R-05)

