Perang Dagang Memanas, China Siap Hajar Balik Amerika Usai Raksasa Teknologinya Masuk Daftar Hitam
Ilustrasi. Foto: SM News/Created by Al
BEIJING, SabangMerauke News – Ketegangan antara China dan Amerika Serikat kembali memanas. Pemerintah China menyatakan kemarahan besar setelah Amerika Serikat menjatuhkan sanksi baru terhadap sejumlah raksasa teknologi asal Negeri Tirai Bambu. Beijing bahkan secara terbuka mengancam akan melakukan pembalasan yang lebih keras jika Washington terus menerapkan kebijakan yang dianggap tidak adil terhadap perusahaan-perusahaan China.
Pernyataan keras itu disampaikan Kementerian Perdagangan China setelah Departemen Pertahanan Amerika Serikat memasukkan sejumlah perusahaan besar China ke dalam daftar yang disebut memiliki hubungan dengan pengembangan militer dan industri strategis negara tersebut.
"Kami pasti akan membalas dengan tegas dan keras," demikian pernyataan resmi Kementerian Perdagangan China yang dikutip dari Reuters, Senin (15/6/2026).
Sikap tegas Beijing itu menunjukkan bahwa persaingan dua kekuatan ekonomi terbesar dunia belum benar-benar mereda. Bahkan, ancaman babak baru perang dagang kini kembali menghantui perekonomian global.
China menilai langkah yang diambil Washington sebagai tindakan sepihak yang tidak berdasar dan merugikan hubungan bilateral yang selama ini berupaya diperbaiki kedua negara.
"China sangat tidak puas dan tegas menentang hal ini," ujar pihak Kementerian Perdagangan.
Pemerintah China juga mendesak pemerintahan Presiden Donald Trump untuk segera menghentikan apa yang disebut sebagai praktik-praktik yang keliru. Beijing meminta Amerika kembali ke jalur yang benar demi membangun hubungan yang lebih stabil dan strategis antara kedua negara.
Ketegangan terbaru ini dipicu oleh keputusan Pentagon yang memasukkan sejumlah perusahaan teknologi dan manufaktur besar China ke dalam daftar hitam. Perusahaan-perusahaan tersebut dituduh memiliki keterkaitan dengan pengembangan militer China, meskipun tuduhan itu dibantah oleh Beijing.
Nama-nama besar yang masuk dalam daftar tersebut antara lain Alibaba, perusahaan e-commerce terbesar di China yang memiliki pengaruh besar di pasar global. Selain itu terdapat Baidu, raksasa mesin pencari dan kecerdasan buatan China yang selama ini menjadi salah satu simbol kemajuan teknologi negara tersebut.
Tak hanya sektor digital, perusahaan otomotif juga menjadi sasaran. Produsen kendaraan listrik BYD dan NIO turut masuk dalam daftar hitam Pentagon. Kedua perusahaan itu selama beberapa tahun terakhir tumbuh pesat dan bahkan menjadi pesaing serius bagi produsen mobil listrik dunia.
Selain itu, dua produsen panel surya terbesar dunia, Trina Solar dan JA Solar Technology, juga tidak luput dari kebijakan tersebut. Langkah ini dipandang China sebagai upaya sistematis Amerika untuk membatasi laju perkembangan industri strategis Negeri Tirai Bambu.
Berdasarkan aturan yang berlaku di Amerika Serikat, perusahaan yang masuk daftar hitam akan menghadapi pembatasan dalam memperoleh kontrak dari Departemen Pertahanan AS. Pentagon dilarang melakukan kontrak langsung dengan perusahaan-perusahaan tersebut.
Tak hanya itu, pembelian produk atau layanan dari perusahaan yang masuk daftar juga akan dibatasi secara ketat, bahkan jika dilakukan melalui pihak ketiga mulai tahun depan.
Kebijakan terbaru ini menggantikan daftar sebelumnya yang diterbitkan pada awal tahun 2025. Pemerintah Amerika beralasan bahwa daftar tersebut diperlukan untuk melindungi kepentingan keamanan nasional dan mencegah teknologi strategis digunakan untuk memperkuat kekuatan militer China.
Namun Beijing melihat langkah itu dari sudut pandang berbeda. Menurut pemerintah China, kebijakan Pentagon justru bertentangan dengan semangat kerja sama yang sebelumnya telah dibangun oleh kedua negara.
Terlebih lagi, daftar hitam tersebut diumumkan hanya sekitar sebulan setelah Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping melakukan pertemuan penting yang menghasilkan kesepakatan untuk mempertahankan gencatan senjata dalam perang dagang yang sempat mengguncang ekonomi dunia.
Kementerian Perdagangan China menilai Amerika mengabaikan konsensus yang telah dicapai kedua pemimpin. Keputusan tersebut dianggap dapat merusak kepercayaan yang sedang dibangun serta memperbesar risiko konflik ekonomi yang lebih luas.
Para pengamat menilai ancaman pembalasan dari Beijing bukan sekadar retorika. China memiliki sejumlah instrumen yang dapat digunakan untuk memberikan tekanan balik kepada Amerika, mulai dari pembatasan akses pasar bagi perusahaan AS, pengawasan ekspor mineral penting, hingga kebijakan perdagangan yang lebih ketat.
Situasi ini juga menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku pasar global. Sebab, hubungan dagang antara Amerika Serikat dan China memiliki pengaruh besar terhadap rantai pasok dunia, termasuk sektor teknologi, kendaraan listrik, hingga energi terbarukan.
Jika kedua negara kembali terlibat dalam perang dagang yang lebih agresif, dampaknya diperkirakan tidak hanya dirasakan oleh perusahaan-perusahaan di kedua negara, tetapi juga oleh pasar global yang selama ini bergantung pada stabilitas hubungan ekonomi Washington dan Beijing.
Kini, dunia menanti langkah berikutnya dari dua raksasa ekonomi tersebut. Apakah ketegangan ini akan berujung pada negosiasi baru, atau justru membuka babak baru perseteruan yang lebih keras antara China dan Amerika Serikat. (R-05)

