Perang Iran-AS Segera Berakhir? Draf Damai Final Disusun, Selat Hormuz Siap Dibuka
Ilustrasi. Foto: SM News/Created by Al
JAKARTA, SabangMersuke News - Ketegangan panjang antara Iran dan Amerika Serikat akhirnya memasuki babak baru. Setelah berbulan-bulan diwarnai serangan militer, ancaman blokade, hingga lonjakan harga minyak dunia, kedua negara kini disebut telah mencapai kesepahaman untuk mengakhiri perang yang mengguncang kawasan Timur Tengah.
Pemerintah Iran mengungkapkan bahwa draf perjanjian damai dengan Amerika Serikat kini berada pada tahap finalisasi. Kesepakatan tersebut disebut akan menjadi pintu masuk menuju penghentian konflik secara menyeluruh, termasuk pembukaan kembali Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur vital perdagangan minyak dunia.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan sebagian besar poin utama dalam negosiasi telah disepakati kedua pihak. Saat ini, Teheran sedang meninjau rancangan akhir sebelum diumumkan secara resmi.
Menurut Baghaei, fokus utama dalam tahap awal perjanjian adalah menghentikan perang dan menciptakan stabilitas kawasan. Isu lain seperti program nuklir Iran dan pencabutan sanksi ekonomi akan dibahas lebih lanjut dalam tahap negosiasi berikutnya.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bahkan menyebut penandatanganan awal akan dilakukan secara digital oleh kedua negara. Setelah itu, nota kesepahaman damai akan diumumkan ke publik internasional.
“Segera setelah tahap akhir negosiasi selesai, perjanjian ini akan ditandatangani dan diumumkan,” kata Araghchi dalam wawancara televisi pemerintah Iran.
Kesepakatan damai ini menjadi perhatian dunia karena perang Iran-AS telah memicu kekhawatiran besar terhadap stabilitas energi global. Konflik yang dimulai sejak Februari 2026 itu menyebabkan gangguan serius di Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sebagian besar distribusi minyak dunia.
Penutupan jalur tersebut sempat membuat harga minyak melonjak tajam dan memicu kekhawatiran krisis ekonomi global. Kini, salah satu poin penting dalam draf kesepakatan adalah pembukaan kembali Selat Hormuz tanpa pungutan tarif dari Iran.
Selain itu, Iran juga disebut akan membersihkan ranjau laut yang sebelumnya dipasang di kawasan tersebut agar jalur pelayaran internasional dapat kembali normal. Sebagai imbalannya, Amerika Serikat disebut akan melonggarkan blokade terhadap pelabuhan Iran dan membuka ruang bagi penjualan minyak Iran ke pasar internasional.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya juga menyampaikan optimismenya bahwa kesepakatan damai akan segera tercapai. Trump menyebut sebagian besar isi perjanjian sebenarnya telah dinegosiasikan dan kini tinggal menunggu finalisasi dari pihak terkait.
Trump menegaskan bahwa salah satu target utama kesepakatan tersebut adalah memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir. Pemerintah AS juga disebut ingin ada pengawasan terhadap uranium yang diperkaya Iran sebagai bagian dari kompromi politik dan keamanan regional.
Dalam laporan yang beredar, draf perdamaian itu juga memuat sejumlah poin strategis lain. Salah satunya adalah perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari untuk memberi waktu kedua negara menyelesaikan kesepakatan permanen.
Tidak hanya itu, konflik di Lebanon yang melibatkan Hizbullah dan Israel juga dikabarkan masuk dalam pembahasan. Pemerintah AS menginginkan ketegangan di kawasan tersebut ikut mereda bersamaan dengan berakhirnya perang Iran-AS.
Namun di tengah proses menuju damai, Iran menuding Israel berupaya menggagalkan kesepakatan tersebut. Pemerintah Iran menyebut ada kekhawatiran bahwa pihak-pihak tertentu tidak ingin hubungan Teheran dan Washington membaik.
Araghchi mengatakan Israel diduga mencoba melakukan sabotase politik terhadap proses perdamaian yang saat ini hampir mencapai garis akhir. Meski demikian, Iran mengaku tetap optimistis bahwa kesepakatan bisa diumumkan dalam beberapa hari mendatang.
Konflik Iran dan AS sendiri telah menimbulkan dampak kemanusiaan besar. Ribuan orang dilaporkan tewas dan puluhan ribu lainnya mengalami luka-luka akibat serangan yang berlangsung selama beberapa bulan terakhir. Infrastruktur strategis di sejumlah wilayah juga mengalami kerusakan parah.
Selain menimbulkan korban jiwa, perang ini turut mengguncang pasar global. Harga minyak mentah sempat melonjak drastis akibat gangguan distribusi energi dunia. Negara-negara Teluk dan sekutu Barat pun terus menekan kedua pihak agar segera menyelesaikan konflik lewat jalur diplomasi.
Meski sinyal perdamaian mulai terlihat, sejumlah analis menilai proses menuju kesepakatan permanen masih akan menghadapi tantangan berat. Persoalan sanksi ekonomi, program nuklir Iran, serta pengaruh militer di Timur Tengah diperkirakan tetap menjadi isu sensitif dalam negosiasi lanjutan.
Namun bagi pasar global dan masyarakat internasional, kemajuan negosiasi ini menjadi harapan besar bahwa konflik yang selama ini mengancam stabilitas dunia akhirnya bisa dihentikan melalui diplomasi.
Laporan terbaru menyebut pengumuman resmi kesepakatan bisa dilakukan dalam waktu dekat apabila seluruh poin utama telah disetujui kedua negara. Dunia kini menanti apakah perdamaian benar-benar akan terwujud setelah perang panjang yang mengguncang Timur Tengah. (R-05)

