BBCA Diborong Besar-Besaran, IHSG Malah Masuk Jurang Merah
Ilustrasi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia. (sumber: istimewa)
JAKARTA, SabangMerauke News - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada Kamis, 11 Juni 2026. Indeks terkoreksi 16,35 poin. Penurunan itu setara 0,28 persen. IHSG akhirnya parkir di level 5.886,03 setelah bergerak liar sepanjang perdagangan.
Pergerakan indeks sepanjang hari terlihat penuh kejutan. Pada awal perdagangan, IHSG sempat melesat hingga 6.010,49. Optimisme sempat menguasai pasar. Tekanan jual kemudian datang bertahap hingga menyeret indeks ke level terendah harian 5.784,51 sebelum akhirnya menutup perdagangan di zona merah.
Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan aktivitas transaksi tetap ramai. Volume perdagangan mencapai 33,65 miliar saham. Nilai transaksi menyentuh Rp22,27 triliun. Frekuensi transaksi tercatat lebih dari 2,37 juta kali sepanjang hari.
Sebanyak 419 saham ditutup melemah. Hanya 265 saham yang berhasil menguat. Sebanyak 131 saham bergerak tanpa perubahan. Dominasi saham merah menjadi gambaran kondisi pasar saat investor memilih lebih berhati-hati.
Tekanan terbesar datang dari arus modal asing. Investor asing mencatat jual bersih atau net sell sebesar Rp252,65 miliar di seluruh pasar. Pada pasar reguler, nilai jual bersih mencapai Rp261,60 miliar. Sementara pasar tunai dan negosiasi masih mencatat pembelian bersih Rp8,95 miliar.
Aksi jual terbesar terjadi pada saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. Nilai pelepasan mencapai Rp203,7 miliar. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk menyusul dengan nilai Rp167 miliar. PT Astra International Tbk juga dilepas investor asing senilai Rp145 miliar.
Gelombang pelepasan saham tersebut memperlihatkan perubahan sikap investor global. Risiko eksternal membuat sebagian dana memilih keluar sementara dari pasar saham domestik. Situasi geopolitik internasional menjadi salah satu faktor yang ikut membentuk sentimen perdagangan.
Meski dana asing keluar dari sejumlah saham besar, beberapa emiten justru menjadi tujuan akumulasi. PT Bank Central Asia Tbk menjadi saham yang paling banyak dibeli asing. Nilai pembelian bersih mencapai Rp388 miliar.
PT Chandra Asri Pacific Tbk berada di posisi berikutnya dengan pembelian bersih Rp97,2 miliar. PT Aneka Tambang Tbk juga diburu investor asing senilai Rp87,8 miliar. Saham PT Telkom Indonesia Tbk ikut masuk daftar saham yang dikoleksi.
Fenomena tersebut menunjukkan investor asing masih melihat peluang di pasar Indonesia. Dana global tidak sepenuhnya meninggalkan bursa. Mereka memilih masuk ke saham-saham yang dianggap memiliki fundamental lebih kuat.
Saham BBCA bahkan masuk jajaran penguat terbesar indeks LQ45. Saham bank swasta terbesar itu naik 3,10 persen. Kenaikan BBCA membantu menahan pelemahan indeks agar tidak jatuh lebih dalam.
Di sisi lain, sektor barang baku menjadi pemberat utama perdagangan. Indeks sektor ini anjlok 4,27 persen. Penurunan tersebut menjadi yang terdalam dibanding sektor lain. Pelemahan merata terjadi pada saham-saham berbasis komoditas dan tambang.
PT Amman Mineral Internasional Tbk kehilangan 7,55 persen. PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk turun 8,90 persen. PT Hartadinata Abadi Tbk bahkan anjlok hingga 13,94 persen dalam satu hari perdagangan.
Saham PT Archi Indonesia Tbk juga terperosok lebih dari 10 persen. PT Vale Indonesia Tbk kehilangan lebih dari 6 persen. PT Timah Tbk melemah hampir 6 persen. Deretan saham tambang tersebut menjadi beban terbesar bagi IHSG.
Sektor energi juga ikut terseret. Penurunannya mencapai 2,12 persen. Sektor transportasi dan logistik melemah 1,41 persen. Sektor perindustrian turun 0,79 persen. Barang konsumsi nonprimer terkoreksi 0,66 persen dan barang konsumsi primer melemah 0,57 persen.
Meski mayoritas sektor tertekan, beberapa sektor masih mampu bertahan. Sektor keuangan menjadi bintang perdagangan dengan kenaikan 1,36 persen. Sektor kesehatan naik 0,74 persen. Properti dan real estat menguat 0,70 persen.
Sektor infrastruktur bertambah 0,56 persen. Teknologi naik 0,54 persen. Penguatan sektor-sektor tersebut menjadi bantalan penting bagi pasar saat tekanan jual meningkat.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menilai pelemahan indeks dipicu kombinasi aksi ambil untung dan sentimen global. "IHSG ditutup melemah di tengah profit taking dan sentimen eksternal," kata Ratna Lim.
Menurut Ratna, investor mulai mengurangi eksposur aset berisiko. Kondisi itu terjadi setelah indeks Wall Street terkoreksi. Harga minyak dunia meningkat. Ketegangan di Timur Tengah juga menambah ketidakpastian pasar.
Aksi ambil untung dinilai menjadi langkah wajar. Sebab, IHSG telah mencatat kenaikan signifikan selama dua hari perdagangan sebelumnya. Investor memilih mengamankan keuntungan sebelum muncul risiko baru.
Pada sesi kedua perdagangan, tekanan mulai berkurang. Pasar merespons laporan meredanya situasi konflik di Timur Tengah. Harga minyak dunia juga mengalami pelemahan. Kondisi tersebut membantu IHSG memangkas sebagian koreksi.
Ratna Lim melihat peluang penguatan masih terbuka dalam jangka pendek. Indikator teknikal masih menunjukkan sinyal positif. "IHSG masih berpeluang menguji level 5.900 hingga 5.950," ujar Ratna Lim.
Pasar kini menunggu sejumlah agenda penting pekan depan. Investor global menanti keputusan suku bunga Federal Reserve pada pertemuan FOMC tanggal 17 Juni 2026. Dari dalam negeri, perhatian tertuju pada pengumuman MSCI Accessibility Review tanggal 18 Juni 2026 serta keputusan BI Rate pada 18 hingga 19 Juni 2026.
Meski terkoreksi, kinerja IHSG masih cukup solid. Dalam lima hari perdagangan terakhir, indeks masih menguat 0,79 persen. Sejak awal tahun, IHSG bahkan melonjak 31,93 persen. Perjalanan bursa masih panjang. Investor kini menunggu arah baru. Setelah dua hari pesta dan satu hari jeda, pasar kembali mencari tenaga untuk menentukan langkah berikutnya. R-02

