Luka Modric Belum Habis! Kroasia Menang Dramatis Jelang Perang Besar Piala Dunia 2026
Timnas Kroasia merayakan gol Luka Modric ke gawang Slovenia, Senin (08/07/2026) dini hari WIB. (sumber: AP Photo)
JAKARTA, SabangMerauke News - Kroasia menutup rangkaian persiapan menuju Piala Dunia 2026 dengan kemenangan dramatis. Bermain di Stadion Andelko Herjavec, Senin, 8 Juni 2026 dini hari WIB, Vatreni menundukkan Slovenia dengan skor tipis 2-1. Hasil ini menjadi suntikan kepercayaan diri sebelum terbang ke Amerika Serikat.
Kroasia menguasai permainan sejak menit awal. Bola lebih sering berada di kaki para pemain tuan rumah. Tim racikan Zlatko Dalic tampil dominan sepanjang pertandingan. Statistik menunjukkan Kroasia menguasai bola hingga 67 persen. Angka itu menggambarkan siapa pengendali jalannya laga.
Meski dominan, urusan mencetak gol tidak semudah membalik telapak tangan. Slovenia memilih bertahan rapat. Setiap ruang yang terbuka langsung ditutup dengan cepat. Sejak peluit awal dibunyikan, Kroasia langsung menekan. Ante Budimir mendapat peluang melalui sundulan berbahaya. Bola masih melenceng dari sasaran.
Slovenia tidak sekadar bertahan sepanjang laga. Tim asuhan Bostjan Cesar sesekali melancarkan serangan balik. Beberapa peluang sempat membuat pendukung Kroasia menahan napas.
Sandi Lovric dan Danijel Sturm menjadi ancaman utama Slovenia. Keduanya beberapa kali menusuk pertahanan lawan. Penyelesaian akhir menjadi masalah terbesar mereka. Di kubu Kroasia, Ivan Perisic tampil aktif dari sisi lapangan. Pengalaman pemain senior itu terlihat jelas. Beberapa umpan berbahaya lahir dari kakinya.
Jan Oblak juga layak mendapat sorotan. Kiper Slovenia tersebut tampil tenang sepanjang babak pertama. Sejumlah peluang berhasil dimentahkan dengan baik. Babak pertama berakhir tanpa gol. Kedua tim masuk ruang ganti dengan skor 0-0. Penonton masih menunggu momen pemecah kebuntuan.
Momen itu akhirnya datang pada awal babak kedua. Luka Modric menunjukkan kelasnya sebagai maestro lapangan tengah. Sang kapten menciptakan gol indah pada menit ke-51. Gol lahir dari sepakan jarak jauh. Bola meluncur deras ke sudut gawang. Jan Oblak hanya bisa melihat bola bersarang.
Gol tersebut langsung mengubah suasana pertandingan. Kroasia bermain semakin percaya diri. Slovenia dipaksa keluar dari cangkangnya. "Luka selalu memberi perbedaan dalam pertandingan penting," kata Zlatko Dalic, pelatih Timnas Kroasia.
Unggul satu gol ternyata belum membuat Kroasia nyaman. Slovenia mulai berani mengambil risiko. Serangan demi serangan dibangun lebih agresif.
Kroasia masih mendominasi statistik pertandingan. Mereka mencatat 22 tembakan sepanjang laga. Slovenia menghasilkan 13 percobaan. Masalah muncul saat pertandingan memasuki menit-menit akhir. Kesalahan kecil berubah menjadi petaka besar. Sebuah blunder membuat Slovenia mendapat hadiah emas.
Martin Baturina melakukan back-pass kurang sempurna. Bola gagal mencapai Dominik Livakovic. Kesempatan itu langsung dibaca Andraz Sporar. Penyerang Slovenia tersebut bergerak cepat. Ia merebut bola sebelum kiper keluar. Situasi satu lawan satu berhasil dimaksimalkan menjadi gol.
Menit ke-83 menjadi saat paling sunyi bagi pendukung Kroasia. Skor berubah menjadi 1-1. Aroma hasil imbang mulai terasa kuat. "Saya melihat peluang dan langsung memanfaatkannya," ujar Andraz Sporar usai pertandingan.
Gol itu membuat laga semakin hidup. Slovenia percaya diri mencuri hasil positif. Kroasia justru terlihat semakin terburu-buru. Waktu terus berjalan. Jam pertandingan mendekati akhir. Para pemain Kroasia terus menggempur pertahanan lawan.
Saat banyak orang mulai menerima hasil imbang, drama besar muncul. Masa injury time menghadirkan cerita berbeda. Kroasia menemukan penyelamat pada detik-detik terakhir. Josip Stanisic mengirim umpan matang dari sisi lapangan. Mario Pasalic bergerak tanpa pengawalan ketat. Sentuhan akhirnya mengubah arah pertandingan.
Gol tercipta pada menit 90+3. Stadion langsung meledak dalam sorak sorai. Pemain Kroasia berhamburan merayakan kemenangan. Pasalic menjelma pahlawan malam itu. Masuk sebagai pemain pengganti, ia memberikan dampak maksimal. Sentuhan singkatnya menghasilkan kemenangan penting.
"Kami tidak pernah berhenti percaya sampai akhir," kata Mario Pasalic. Peluit panjang akhirnya dibunyikan wasit. Kroasia menang 2-1 atas Slovenia. Hasil tersebut terasa sangat berharga.
Selain kemenangan, Kroasia membawa sejumlah catatan positif. Akurasi umpan mereka mencapai 89 persen. Angka itu menunjukkan kualitas distribusi bola yang tetap terjaga. Tim berjuluk Vatreni juga mencatat delapan tendangan sudut. Mereka berkali-kali menekan pertahanan Slovenia. Intensitas serangan tetap tinggi hingga akhir.
Meski menang, Dalic masih memiliki pekerjaan rumah. Lini belakang sempat kehilangan konsentrasi. Kesalahan kecil hampir merusak seluruh kerja keras tim. Kemenangan ini juga menjadi jawaban setelah kekalahan dari Belgia.
Sebelumnya, Kroasia tumbang dengan skor 0-2. Hasil tersebut sempat memunculkan keraguan. Kini suasananya berbeda. Kroasia kembali menemukan senyum. Kepercayaan diri perlahan kembali tumbuh.
Fokus berikutnya mengarah ke Piala Dunia 2026. Kroasia tergabung di Grup L. Mereka akan menghadapi Inggris, Panama, dan Ghana. Laga pertama langsung menyajikan tantangan besar. Kroasia dijadwalkan menghadapi Inggris pada Kamis, 18 Juni 2026. Pertandingan berlangsung di Dallas Stadium.
Pertemuan itu diprediksi berlangsung sengit. Inggris datang dengan generasi muda penuh energi. Kroasia membawa pengalaman dan ketenangan. Luka Modric kembali menjadi pusat perhatian. Meski usia terus bertambah, pengaruhnya masih sangat besar. Gol ke gawang Slovenia menjadi bukti nyata.
Bagi Kroasia, kemenangan atas Slovenia terasa lebih dari sekadar angka. Ada pesan psikologis yang berhasil dikirim. Tim ini masih sanggup bertarung di level tertinggi. Perjalanan menuju Piala Dunia kini memasuki babak baru. Kroasia datang dengan modal kemenangan. Inggris pun mendapat sinyal peringatan lebih awal.
Jika laga kontra Slovenia menjadi gambaran, Kroasia masih menyimpan taji. Mereka bisa terluka karena kesalahan sendiri. Mereka juga mampu bangkit pada saat paling genting.
Malam di Stadion Andelko Herjavec akhirnya ditutup senyum lebar. Modric memberi cahaya. Pasalic menyempurnakan cerita. Kroasia berangkat ke Amerika Serikat dengan kepala tegak dan harapan yang kembali menyala. R-02

