Mbappe Sudah Menyerang Habis-Habisan, Prancis Tetap Dipukul Pantai Gading
Penyerang Prancis, Kylian Mbappé, dikepung empat pemain Pantai Gading dalam laga uji coba Stade de la Beaujoire, Nantes, Jumat, 5 Juni 2026, dini hari WIB. (sumber: reuters)
JAKARTA, SabangMerauke News - Prancis mendapat peringatan penting menjelang Piala Dunia 2026 setelah kalah 1-2 dari Pantai Gading di Stade de la Beaujoire, Nantes, Jumat, 5 Juni 2026 dini hari WIB. Les Bleus sempat unggul di akhir babak pertama, namun Pantai Gading membalikkan keadaan lewat permainan efektif yang penuh kesabaran.
Sejak peluit pertama berbunyi, Prancis langsung mengambil kendali permainan. Bola lebih sering berputar di kaki para pemain tuan rumah. Kylian Mbappe menjadi pusat serangan yang terus mengancam pertahanan lawan. Pantai Gading lebih banyak menunggu sambil mencari celah untuk melakukan serangan balik.
Baru dua menit berjalan, peluang pertama langsung hadir. Mbappe menerima umpan matang dari Rayan Cherki di depan kotak penalti. Tembakannya masih mampu diblok oleh pemain bertahan Pantai Gading. Itu menjadi tanda pertandingan bakal berjalan menarik.
Lima menit kemudian, Mbappe kembali memperoleh kesempatan emas. Kali ini ia melepaskan tembakan keras dari dalam kotak penalti. Yahia Fofana bergerak cepat menepis bola keluar area berbahaya. Kiper Pantai Gading itu mulai menunjukkan kualitasnya sejak awal laga.
Prancis terus menekan tanpa henti. Adrien Rabiot mencoba peruntungan lewat tembakan jarak jauh. Michael Olise juga mendapat ruang menembak dari posisi ideal. Sayangnya, semua peluang itu belum mampu mengubah angka di papan skor.
Di tengah tekanan besar Prancis, Pantai Gading sesekali membuat kejutan. Simon Adingra dan Yan Diomande beberapa kali menusuk dari sisi lapangan. Kecepatan mereka membuat pertahanan Prancis tidak bisa terlalu santai. Setiap serangan balik selalu menghadirkan ancaman.
Menit ke-31 menghadirkan peluang yang seharusnya menjadi gol. Marcus Thuram mengirim bola matang ke depan gawang. Cherki berdiri tanpa pengawalan berarti di area berbahaya. Satu sentuhan tambahan membuat kesempatan emas itu hilang begitu saja.
Pantai Gading hampir mencuri gol lebih dulu menjelang turun minum. Kesalahan Aurelien Tchouameni membuat Adingra berlari sendirian menuju gawang. Mike Maignan tampil tenang dalam situasi genting tersebut. Kiper Prancis itu sukses menyelamatkan timnya dari kebobolan.
Saat pertandingan terlihat akan berakhir tanpa gol, Cherki muncul membawa kabar baik bagi publik tuan rumah. Menit ke-45 menjadi panggung bagi pemain muda berbakat tersebut. Ia menerima bola di depan kotak penalti lalu melewati dua pemain lawan. Sepakan mendatarnya meluncur mulus ke sudut gawang.
Stadion langsung bergemuruh menyambut gol itu. Para pemain Prancis merayakannya dengan penuh percaya diri. Keunggulan 1-0 terasa cukup pantas melihat dominasi mereka sepanjang babak pertama. Banyak pendukung mengira kemenangan tinggal menunggu waktu.
Cerita berubah setelah jeda pertandingan. Pelatih Pantai Gading, Emerse Fae, memasukkan Nicolas Pepe dan Amad Diallo. Pergantian itu terlihat sederhana pada awalnya. Beberapa menit kemudian dampaknya mulai terasa.
Pantai Gading bermain lebih berani dan lebih tenang. Mereka tidak lagi hanya menunggu serangan lawan. Bola mulai mengalir lebih rapi dari lini tengah ke lini depan. Kepercayaan diri tim tamu perlahan tumbuh.
Gol penyama kedudukan hadir pada menit ke-53. Elye Wahi memulai serangan dari area tengah lapangan. Nicolas Pepe menerima bola lalu mengirim umpan terobosan yang sangat cerdik. Guela Doue menuntaskan peluang itu dengan penyelesaian tenang.
"Masuknya beberapa pemain membuat ritme permainan berubah," kata Emerse Fae usai pertandingan.
Gol tersebut mengubah suasana pertandingan secara total. Pantai Gading semakin nyaman memainkan permainan mereka. Prancis masih menguasai bola lebih banyak. Akan tetapi, serangan mereka mulai kehilangan ketajaman.
Didier Deschamps mencoba mencari solusi dari bangku cadangan. Pergantian pemain dilakukan untuk menambah tenaga di lini depan. Peluang terbaik datang lewat Marcus Thuram pada menit ke-62. Sepakan melengkungnya hanya melintas tipis di samping gawang.
Empat menit kemudian, Pantai Gading hampir berbalik unggul. Seko Fofana melepaskan tembakan keras dari luar kotak penalti. Bola meluncur tipis di samping gawang Maignan. Peringatan keras itu membuat publik Nantes mulai gelisah.
Pertandingan memasuki menit-menit akhir dengan tempo tinggi. Prancis terus mencari celah untuk mencetak gol kedua. Pantai Gading bertahan dengan disiplin sambil menunggu kesempatan menyerang. Kedua tim sama-sama yakin bisa memenangkan pertandingan.
Menit ke-78, Cherki meninggalkan lapangan. Tepuk tangan panjang mengiringi langkah pemain Manchester City tersebut. Ia menjadi pemain paling berbahaya di kubu Prancis sepanjang laga. Sayangnya, kontribusinya belum cukup membawa kemenangan.
Enam menit berselang, momen penentu akhirnya datang. Berawal dari bola yang gagal dibersihkan sempurna pertahanan Prancis, Pantai Gading kembali menyerang. Guela Doue mengirim umpan silang akurat dari sisi kanan. Amad Diallo menyambutnya dengan sepakan first-time yang mematikan.
Bola meluncur ke sudut kiri bawah gawang tanpa mampu dihentikan Maignan. Para pemain Pantai Gading langsung berlari merayakan gol tersebut. Bangku cadangan tim tamu ikut bersorak gembira. Skor berubah menjadi 2-1. "Kami menunjukkan karakter kuat saat tertinggal," ujar Emerse Fae.
Prancis masih memiliki beberapa menit untuk menyelamatkan diri. Mbappe dan rekan-rekannya terus menggempur pertahanan lawan. Bola-bola silang dikirim dari berbagai arah. Pantai Gading bertahan dengan disiplin yang luar biasa.
Yahia Fofana kembali menjadi sosok penting pada fase akhir pertandingan. Kiper tersebut tampil tenang menghadapi tekanan bertubi-tubi. Rekan-rekannya juga bekerja keras menutup setiap ruang tembak. Ketangguhan mereka membuat Prancis frustrasi.
Ketika peluit panjang berbunyi, para pemain Pantai Gading langsung merayakan kemenangan. Mereka sukses membungkam salah satu raksasa sepak bola dunia. Kemenangan itu terasa semakin manis karena diraih di kandang lawan. Nantes menjadi saksi lahirnya kejutan besar menjelang Piala Dunia.
Bagi Prancis, hasil ini memang tidak memengaruhi status mereka sebagai unggulan. Akan tetapi, kekalahan tersebut memberi banyak bahan evaluasi. Penyelesaian akhir masih belum maksimal. Konsentrasi lini belakang juga beberapa kali bermasalah.
Sementara itu, Pantai Gading pulang dengan kepala tegak. Tim asuhan Emerse Fae memperlihatkan mental kuat saat tertinggal. Mereka tidak panik dan terus memainkan rencana permainan dengan sabar. Pada akhirnya, kesabaran itu berbuah kemenangan berharga.
Di atas kertas, ini hanya laga persahabatan. Di lapangan, pertandingan tersebut terasa seperti pesan penting menjelang Piala Dunia. Pantai Gading membuktikan mereka tidak bisa diremehkan. Prancis pun diingatkan satu hal sederhana, nama besar saja tidak cukup untuk memenangkan pertandingan. R-02

