Rupat Membara, Rohil Membengkak! Karhutla Riau Masuk Fase Paling Mencekam
Ilustrasi Karhutla Riau per Kamis, 4 Juni 2026. Foto: SM News/Created by AI
RIAU, SabangMerauke News - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) Riau masih menjadi ancaman serius hingga Kamis, 4 Juni 2026. Sejumlah titik api masih aktif di Kabupaten Pelalawan, Bengkalis, dan Rokan Hilir. Tim Manggala Agni terus berjibaku memadamkan kobaran api. Operasi darat dan udara dilakukan tanpa henti sejak beberapa hari terakhir.
Situasi paling menyita perhatian terjadi di Pulau Rupat, Kabupaten Bengkalis. Api yang muncul sejak Selasa, 2 Juni 2026, masih terus dilawan petugas. Kepulan asap tebal terlihat dari pemantauan udara. Vegetasi akasia kering membuat api cepat berkembang.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, mengatakan penanganan di Rupat memasuki hari kedua. Satu tim Manggala Agni Daops Siak telah bekerja di lokasi. Tambahan personel juga mulai digeser untuk memperkuat operasi.
"Untuk Tanjung Kapal, Rupat, saat ini memasuki hari kedua penanganan," kata Ferdian Krisnanto, Kamis, 4 Juni 2026. Ia menjelaskan satu tim tambahan akan bergabung pada siang hari. Fokus utama saat ini adalah mempercepat pengendalian api. Area tersebut dinilai cukup rentan terhadap penyebaran kebakaran.
Pulau Rupat menjadi titik perhatian baru saat daerah lain juga masih bergulat dengan api. Di Sokoi, Kabupaten Pelalawan, operasi pemadaman telah memasuki hari keenam. Dua tim Manggala Agni Daops Rengat masih bertahan di lapangan. Pendinginan terus dilakukan agar bara tidak muncul kembali.
Pertarungan lebih berat terjadi di Rantau Bais, Kabupaten Rokan Hilir. Api bergerak di sekitar semak belukar dan kebun sawit. Cuaca panas mempercepat proses pembakaran vegetasi kering. Petugas terpaksa membuat penyekatan untuk menghambat pergerakan api.
"Di Rantau Bais masih dilakukan proses penyekatan agar api tidak merembet," ujar Ferdian Krisnanto. Kawasan sekitar titik api dipenuhi tanaman akasia liar. Kebun sawit milik warga juga berada tidak jauh dari lokasi. Risiko kerusakan yang lebih luas menjadi perhatian utama petugas.
Data lapangan menunjukkan kebakaran di Rantau Bais, Rokan Hilir, telah melahap area cukup luas. Kepala Manggala Agni Daops Dumai, Chaerul Ginting, memperkirakan luas lahan terbakar mencapai sekitar 70 hektare. Vegetasi sawit dan semak menjadi bahan bakar utama. Angin kencang memperumit proses pemadaman.
"Pemadaman dan pendinginan hari keenam di Rantau Bais mencapai sekitar 70 hektare," kata Chaerul Ginting. Sumber air di lokasi masih tersedia. Kondisi itu sedikit membantu kerja petugas. Penyemprotan dapat dilakukan secara berkelanjutan.
Masalah berbeda ditemukan di Kepenghuluan Sungai Besar, Kecamatan Pekaitan, Rokan Hilir. Kebakaran terjadi di kawasan gambut yang terkenal sulit dipadamkan. Api bergerak di bawah permukaan tanah. Asap tebal terus muncul dari area tersebut.
Menurut Chaerul Ginting, luas area yang terbakar diperkirakan mencapai 10 hektare. Luasan itu berpotensi bertambah jika cuaca panas bertahan. Sumber air yang terbatas menjadi kendala utama. Petugas bahkan harus menggali secara manual untuk mendapatkan pasokan air.
"Kendala di sini angin kencang dan sumber air terbatas," ujarnya. Empat mesin pemadam dikerahkan ke lokasi. Tim dibagi ke dalam beberapa sektor berbeda. Strategi penyekatan menjadi pilihan utama.
Di tengah kabar kurang menggembirakan tersebut, ada sedikit angin segar dari Kabupaten Siak. Kebakaran yang terjadi di wilayah Kandis berhasil dikendalikan. Operasi pemadaman di lokasi itu dinyatakan selesai pada Rabu sore. Petugas kemudian dialihkan ke daerah lain yang lebih membutuhkan bantuan.
Meski satu titik berhasil dipadamkan, ancaman karhutla secara keseluruhan masih jauh dari selesai. Balai Dalkarhut Wilayah Sumatera mulai mengerahkan bantuan lintas provinsi. Dua regu Manggala Agni dari Jambi diberangkatkan menuju Pulau Rupat. Personel berasal dari Daops Muara Tebo dan Kota Jambi.
"Mobilisasi dua regu dari Jambi sudah berangkat menuju Rupat," kata Ferdian Krisnanto. Langkah itu dilakukan untuk mempercepat pengendalian api. Tekanan di lapangan dinilai cukup tinggi. Kebutuhan personel tambahan semakin mendesak.
Tim lain juga telah disiapkan di Pekanbaru dan Rengat. Mereka menunggu hasil evaluasi terbaru sebelum bergerak ke Rokan Hilir. Satu tim dari Labuhan Batu Selatan, Sumatera Utara, juga berada dalam status siaga. Seluruh sumber daya disiapkan untuk menghadapi kemungkinan terburuk.
Operasi pemadaman tidak hanya mengandalkan kekuatan darat. Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB turut mengerahkan helikopter water bombing. Dukungan udara difokuskan ke wilayah Rupat. Area tersebut memiliki titik api yang sulit dijangkau kendaraan pemadam.
Water bombing menjadi senjata penting saat akses darat terbatas. Ribuan liter air dijatuhkan langsung ke pusat kebakaran. Cara ini membantu menurunkan intensitas api. Tim darat kemudian masuk untuk melakukan pendinginan.
Kolaborasi juga melibatkan BPBD, TNI, Polri, dan masyarakat setempat. Warga membantu memberikan informasi titik api baru. Sebagian ikut membuka akses menuju lokasi kebakaran. Kerja sama menjadi kunci untuk menghadapi ancaman karhutla yang terus berubah.
Ferdian Krisnanto berharap seluruh upaya tersebut mampu mempercepat pengendalian kebakaran. Fokus utama saat ini adalah mencegah api menjalar ke perkebunan dan permukiman. Cuaca panas masih menjadi tantangan besar. Setiap hari tanpa hujan membuat pekerjaan semakin berat.
"Kami mohon dukungan dan doa agar seluruh titik kebakaran segera terkendali," kata Ferdian Krisnanto. Harapan itu menggambarkan situasi lapangan yang belum sepenuhnya aman. Api masih menyala di beberapa wilayah. Pasukan pemadam masih harus bertarung melawan waktu, cuaca, dan medan yang tidak bersahabat. R-02

