Kabar Buruk! Produksi Minyak PHR Anjlok ke Level 131 Ribu Barel per Hari, PT Transportasi Gas Indonesia Jadi Kambing Hitam
Produksi minyak Blok Rokan masih berada di bawah target APBN 2026 hingga Mei. Foto : Istimewa
JAKARTA, SabangMerauke News - Produksi minyak Blok Rokan hingga Mei 2026 mengalami anjlok secara tajam, jauh di bawah target yang ditetapkan dalam APBN. PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) beralibi pasokan gas yang terganggu pada awal tahun dan masalah kelistrikan yang terjadi, menekan kinerja lapangan migas terbesar nasional.
Data SKK Migas menunjukkan lifting minyak Blok Rokan hanya mencapai 131.040 barel per hari (bph). Angka tersebut setara sekitar 80 persen dari target APBN sebesar 163.859 bph.
Produksi PHR yang anjlok ini jauh di bawah rata-rata produksi di awal transisi Blok Rokan dari PT Chevron Pacific Indonesia (CPI) ke PHR sejak 9 Agustus 2021 silam. Ironisnya, PHR selalu mengklaim intensif dalam melakukan pengeboran sumur minyak baru. Faktanya, pengeboran sumur minyak dinilai tak memberikan dampak signifikan, karena faktanya produksi minyak yang dihasilkan justru menurun drastis. Capaian itu menjadikan Blok Rokan belum memenuhi ekspektasi produksi sepanjang tahun.
Direktur Utama PHR Muhamad Arifin menjelaskan gangguan pasokan gas sempat menghentikan operasi produksi. Pipa milik PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) mengalami kerusakan selama Januari hingga Februari. Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap sejumlah fasilitas produksi di lapangan.
“Saat ini permasalahan tersebut sudah teratasi dan saat ini PHR menerima suplai gas sesuai kebutuhan,” kata Arifin dalam rapat bersama Komisi XII DPR RI pada Rabu (3/6/2026).
Selain pasokan gas, tantangan lain muncul dari gangguan sistem kelistrikan sejak akhir 2025. Kendala tersebut memengaruhi fasilitas produksi dan menekan volume minyak harian. PHR bersama PLN saat ini mempercepat perbaikan genset pada fasilitas MCTN.
Arifin berharap sistem kelistrikan kembali normal pada pertengahan Juli 2026 mendatang. Perusahaan memproyeksikan produksi minyak meningkat jika seluruh fasilitas beroperasi optimal.
“Produksi saat ini sudah mencapai 131.000 barel per hari dan diproyeksikan 144.000 barel per hari,” ujarnya.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyebut gangguan pipa menjadi faktor utama penurunan awal tahun. Dua pemasok gas juga mengalami gangguan akibat terputusnya jaringan distribusi.
“Di Januari produksi sangat rendah karena terjadi pipa putus sehingga operasi sempat berhenti,” kata Djoko.
Setelah kondisi membaik, produksi kembali meningkat pada periode berikutnya. Namun tantangan baru muncul dari gangguan kelistrikan dan penurunan produksi lapangan besar.
Djoko mengatakan masalah kelistrikan di wilayah kerja PHR memperlambat pemulihan produksi nasional. Penurunan produksi juga terjadi pada Lapangan Banyu Urip sebagai penopang utama nasional. Dua wilayah kerja tersebut berkontribusi besar terhadap produksi minyak Indonesia.
Hingga 31 Mei 2026, lifting minyak nasional mencapai 576,2 ribu barel per hari. Realisasi tersebut masih berada di bawah target nasional sebesar 610 ribu. Pertamina Hulu Rokan tetap tercatat sebagai produsen minyak terbesar di Indonesia. (R-04)

