Pesta Juara Arsenal Berubah Horor! Suporter Ditikam, 75 Dievakuasi, London Utara Mencekam
Skuad Arsenal dalam parade juara keliling London, Minggu (31/5/2026). (sumber: AP Photo)
JAKARTA, SabangMerauke News - Arsenal akhirnya mengakhiri penantian panjang selama 22 tahun. Gelar Premier League yang lama dirindukan sukses dibawa pulang. Namun, perayaan besar pada Minggu, 31 Mei 2026, justru menghadirkan cerita lain yang tak kalah mencuri perhatian.
Parade juara Arsenal di London Utara berubah menjadi campuran euforia, kekacauan, dan drama jalanan. Ribuan suporter memadati setiap sudut rute parade. Sebagian bahkan rela mempertaruhkan keselamatan demi mendapatkan pemandangan terbaik.
Lautan warna merah membanjiri kawasan sekitar Stadion Emirates. Jalan-jalan utama berubah menjadi panggung pesta raksasa. Sorak-sorai terdengar sejak pagi hingga malam hari.
Namun, di balik kemeriahan itu, petugas keamanan dan layanan darurat bekerja tanpa henti. Berbagai insiden bermunculan sepanjang hari. Situasi sempat membuat aparat kewalahan.
Sedikitnya 75 orang harus dievakuasi dari sejumlah titik berbahaya. Mereka ditemukan berada di atap bangunan, halte, hingga pepohonan. Semua dilakukan demi melihat lebih dekat para pemain Arsenal.
Beberapa video viral memperlihatkan aksi yang cukup mengkhawatirkan. Tiga pendukung Arsenal terlihat berdiri di atas pohon kecil. Pohon itu akhirnya roboh karena tak mampu menahan beban.
Video lain menunjukkan sekelompok suporter terlibat dalam perkelahian. Keributan terjadi di tengah suasana pesta. Beruntung, sejumlah pendukung lain segera melerai.
Kepolisian Metropolitan London juga bergerak cepat sepanjang perayaan. Sedikitnya 16 orang diamankan dalam berbagai kasus. Pelanggaran terjadi dalam berbagai bentuk.
Sebagian penangkapan terkait mabuk dan gangguan ketertiban umum. Ada pula dugaan penyalahgunaan narkoba. Kasus penyerangan terhadap petugas darurat juga ikut tercatat.
Yang paling mengkhawatirkan terjadi di kawasan Hornsey Road. Sebuah insiden penikaman menggemparkan area parade. Polisi langsung memasang garis pembatas di lokasi.
Korban merupakan seorang pria yang segera dibawa ke rumah sakit. Petugas melakukan penyelidikan di lokasi kejadian. Hingga malam hari, pengamanan tetap diperketat.
Di tempat lain, petugas pemadam kebakaran mendapat tugas tambahan. Flare yang dinyalakan suporter memicu kebakaran kecil. Api muncul pada bagian luar sebuah hotel.
Asisten Komisioner Pemadam Kebakaran London, Pat Goulbourne, menjelaskan bahwa kerusakan tidak terlalu besar. Meski begitu, situasi tetap dianggap berbahaya. Alarm kebakaran sempat aktif di beberapa lokasi.
"Kami mengimbau para pendukung untuk tidak menggunakan bahan piroteknik," kata Pat Goulbourne, Asisten Komisioner Pemadam Kebakaran London.
Ia mengingatkan flare dan kembang api berisiko tinggi. Apalagi jika digunakan dekat bangunan. Material mudah terbakar bisa memicu bencana lebih besar.
Meski diwarnai berbagai insiden, antusiasme publik tetap luar biasa. Parade Arsenal menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah sepak bola Inggris. Jumlah massa membuat banyak orang terkejut.
Perkiraan jumlah suporter mencapai 750 ribu hingga hampir satu juta orang. Mereka memadati rute sepanjang sekitar sembilan kilometer. Arus manusia terlihat tanpa putus.
Parade dimulai sekitar pukul 14.15 waktu setempat. Iring-iringan bergerak melintasi kawasan Islington. Perjalanan berlangsung hampir dua jam.
Empat bus terbuka membawa skuad Arsenal berkeliling kota. Para pemain bergantian menyapa pendukung. Trofi Premier League menjadi pusat perhatian.
Besarnya jumlah massa membuat akses transportasi terganggu. Stasiun Finsbury Park sempat ditutup sementara. Kepadatan penumpang dinilai terlalu tinggi.
Bagi Arsenal, parade ini terasa sangat emosional. Perayaan berlangsung hanya sehari setelah kegagalan di final Liga Champions. Luka itu masih terasa segar.
Arsenal harus mengakui keunggulan Paris Saint-Germain di Budapest. Impian mengangkat trofi Eropa kembali tertunda. Kekalahan terjadi lewat adu penalti.
Bek Arsenal, Gabriel Magalhaes, gagal mengeksekusi penalti penentu. Momen itu menjadi salah satu sorotan terbesar. Namun, dukungan kepada dirinya tetap mengalir.
Di tengah suasana campur aduk tersebut, Declan Rice tampil memberikan harapan. Gelandang berusia 27 tahun itu berbicara langsung kepada pendukung. Pesannya disambut dengan sorakan meriah. "Saya mencintai tim ini dan manajer kami," kata Declan Rice, gelandang Arsenal.
Rice menilai perjalanan Arsenal belum selesai. Ia percaya timnya masih bisa berkembang. Musim depan dianggap sebagai kesempatan baru. "Musim depan kami akan menjadi lebih kuat," ujar Rice.
Menurut Rice, proyek yang dibangun Mikel Arteta masih terus tumbuh. Arsenal dinilai belum mencapai batas kemampuan terbaik. Optimisme masih sangat tinggi.
Rice juga mengaku kagum melihat antusiasme pendukung. Ribuan wajah bahagia memenuhi jalanan London Utara. Momen itu dianggap sangat spesial. "Melihat kebahagiaan para suporter sungguh luar biasa," ucap Rice.
Pesan serupa datang dari Mikel Arteta. Manajer Arsenal meminta seluruh pemain tetap bangga. Kekalahan di final tidak boleh menghapus pencapaian besar musim ini.
Menurut Rice, Arteta berbicara penuh emosi setelah final. Sang pelatih mencoba mengangkat mental skuad. Dukungan itu sangat berarti bagi pemain. "Dia meminta kami tetap percaya diri dan bangga," kata Rice mengutip pesan Arteta.
Optimisme juga datang dari generasi muda Arsenal. Myles Lewis-Skelly menilai klub sedang memasuki era baru. Masa depan terlihat sangat menjanjikan.
Pemain berusia 19 tahun itu mengakui rasa kecewa masih ada. Namun, kegagalan di Liga Champions menjadi bahan bakar tambahan. Semangat tim justru semakin besar. "Saya merasa ini awal dari era baru," ujar Myles Lewis-Skelly, gelandang Arsenal.
Selain Lewis-Skelly, Arsenal memiliki banyak talenta muda menarik. Salah satunya Max Dowman yang masih berusia 16 tahun. Namanya mulai diperbincangkan oleh pendukung.
Di tengah suasana serius, parade juga menghadirkan momen lucu. Ben White menjadi pusat perhatian. Bek berusia 28 tahun itu sukses membuat rekan-rekannya tertawa.
Saat memegang mikrofon di atas bus, White menyanyikan chant khusus. Sasarannya adalah rekan setimnya, Piero Hincapie. Candaan itu langsung memancing gelak tawa.
Ternyata chant tersebut merujuk insiden viral beberapa waktu lalu. Saat menghadapi Burnley, celana Hincapie sempat melorot. Kamera televisi menangkap momen memalukan itu.
Rekaman tersebut menyebar luas di media sosial. Banyak pendukung menjadikannya bahan candaan. Rekan setim Hincapie pun ikut menggoda.
Hincapie sebelumnya mengaku sempat malu. Namun, ia memilih menertawakan kejadian tersebut. Baginya, insiden itu sudah menjadi bagian perjalanan karier.
Meski penuh drama, satu hal tetap terlihat jelas. Hubungan antara Arsenal dan pendukung semakin kuat. Kegagalan di Eropa tidak menghapus kebahagiaan mereka.
Selama lebih dari dua dekade, pendukung Arsenal menunggu momen ini. Banyak yang tumbuh dewasa tanpa pernah melihat klubnya menjadi juara liga. Kini penantian panjang itu berakhir.
Ketika malam mulai turun di London Utara, pesta belum selesai. Ribuan suporter masih bertahan di jalanan. Lagu-lagu kemenangan terus bergema.
Arsenal mungkin gagal menaklukkan Eropa musim ini. Namun, gelar Premier League menghadirkan alasan besar untuk tersenyum. Dari kericuhan, candaan, hingga harapan baru, parade itu menjadi gambaran sempurna tentang sepak bola yang selalu penuh emosi. R-02
BERITA TERKAIT :
-
UEFA Champions League
Tangis Arsenal Pecah di Budapest, PSG Pertahankan Takhta Eropa

