8 Luka Terdalam Arsenal di UCL: Dari Amukan Messi, Kartu Merah van Persie Hingga Keliaran Ronaldo
Ekspresi pemain Arsenal usai kalah adu penalti dari PSG di final Liga Champions 2025/2026 (sumber: AP Photo)
JAKARTA, SabangMerauke News - Arsenal akhirnya menutup musim 2025/2026 dengan senyum lebar setelah merebut gelar Premier League. Namun, pesta itu belum mampu menghapus luka lama yang terus membekas di dada para pendukung. Liga Champions masih menjadi mimpi terbesar yang belum pernah berhasil mereka sentuh hingga sekarang.
Ratusan pertandingan sudah dimainkan Arsenal di kompetisi elit Eropa tersebut. Banyak generasi pemain datang dan pergi dengan harapan yang sama. Sayangnya, mimpi mengangkat trofi Si Kuping Besar selalu kandas dengan cara menyakitkan.
Ada malam ketika keputusan wasit memicu kemarahan. Ada malam ketika keunggulan hilang begitu saja dalam hitungan menit. Ada juga malam saat pemain terbaik dunia tampil seperti makhluk dari planet lain. Berikut delapan malam yang hingga kini masih menjadi mimpi buruk Arsenal di Liga Champions.
Final Paris Masih Menghantui
Rabu, 17 Mei 2006 menjadi malam yang hampir mengubah sejarah Arsenal selamanya. Final Liga Champions di Stade de France mempertemukan Arsenal melawan Barcelona. Ribuan pendukung The Gunners datang dengan keyakinan besar untuk membawa pulang trofi pertama.
Masalah muncul sangat cepat pada menit ke-18. Kiper Jens Lehmann menerima kartu merah setelah melanggar Samuel Eto'o. Arsenal harus bertarung dengan sepuluh pemain selama sebagian besar pertandingan.
Hebatnya, Arsenal justru unggul lebih dulu melalui sundulan Sol Campbell. Harapan mulai tumbuh di setiap sudut stadion. Para pendukung mulai membayangkan trofi Liga Champions berada dalam genggaman.
Namun, Barcelona terus menekan tanpa henti sepanjang babak kedua. Samuel Eto'o menyamakan kedudukan sebelum Juliano Belletti mencetak gol penentu kemenangan. Arsenal kalah 2-1 saat trofi sudah terasa begitu dekat.
Banyak fans masih menganggap malam itu sebagai luka terdalam dalam sejarah klub. Kesempatan emas datang hanya sekali lalu menghilang selamanya. Arsenal belum pernah kembali ke final sejak saat itu.
Kartu Merah van Persie Pancing Kemarahan
Selasa, 8 Maret 2011, menjadi malam penuh kontroversi di Camp Nou. Arsenal datang dengan modal kemenangan 2-1 pada leg pertama. Harapan untuk menyingkirkan Barcelona sangat terbuka.
Pertandingan berubah total saat Robin van Persie menerima kartu kuning kedua. Wasit Massimo Busacca menilai sang striker membuang waktu karena menendang bola setelah peluit berbunyi. Keputusan itu langsung memicu kemarahan Arsenal.
"Saya tidak mendengar peluit karena suara stadion sangat bising," kata Robin van Persie usai pertandingan.
Arsene Wenger, yang saat itu menjadi manajer Arsenal, juga tidak mampu menyembunyikan kekecewaannya. Wenger menyebut keputusan tersebut sulit diterima dalam pertandingan sebesar Liga Champions.
Bermain dengan sepuluh pemain membuat Arsenal kehilangan keseimbangan permainan. Barcelona memanfaatkan situasi itu dengan sangat baik. Lionel Messi kembali menjadi pembeda dalam laga tersebut.
Barcelona menang 3-1 dan lolos dengan agregat 4-3. Malam itu menjadi simbol bagaimana harapan Arsenal runtuh hanya dalam beberapa detik.
Amukan Messi di Camp Nou
Selasa, 6 April 2010, menjadi malam pertunjukan Lionel Messi. Arsenal sebenarnya datang ke Camp Nou dengan optimisme tinggi. Hasil imbang pada leg pertama membuat peluang masih terbuka.
Bahkan Arsenal sempat unggul lebih dulu melalui Nicklas Bendtner. Namun, keunggulan itu hanya menjadi pembuka bencana yang lebih besar. Setelahnya, panggung sepenuhnya menjadi milik Messi.
Bintang Argentina itu mencetak tiga gol hanya dalam satu babak. Pertahanan Arsenal dibuat kebingungan sepanjang pertandingan. Setiap sentuhan Messi terasa menghadirkan ancaman.
Messi kemudian menambah satu gol lagi menjelang akhir pertandingan. Barcelona menang 4-1 dengan agregat akhir 6-3. Arsenal tidak hanya kalah, tetapi juga dibuat tidak berdaya. "Messi adalah pemain yang tidak bisa dihentikan saat sedang menguasai bola," ujar Arsène Wenger.
Malam itu masih dikenang sebagai salah satu penampilan individu terbaik dalam sejarah Liga Champions. Sayangnya, Arsenal menjadi korban utamanya.
Chelsea Hancurkan Musim Invincible
Selasa, 6 April 2004, seharusnya menjadi bagian dari musim sempurna Arsenal. Saat itu mereka sedang melaju menuju gelar Premier League tanpa kekalahan. Banyak orang percaya Arsenal mampu melangkah jauh di Eropa.
Jose Antonio Reyes membawa Arsenal unggul di Highbury. Stadion bergemuruh menyambut gol tersebut. Tiket semifinal terasa semakin dekat.
Chelsea ternyata memiliki rencana berbeda. Frank Lampard mencetak gol penyeimbang yang membuat pertandingan kembali terbuka. Ketegangan meningkat hingga menit-menit akhir.
Saat banyak orang mulai memikirkan perpanjangan waktu, Wayne Bridge muncul sebagai pahlawan Chelsea. Tembakan rendahnya gagal dihentikan oleh Jens Lehmann. Highbury mendadak sunyi.
Chelsea menang agregat 3-2 dan Arsenal tersingkir. Kekalahan itu terasa sangat menyakitkan karena datang di tengah musim terbaik klub.
Ronaldo Acak-Acak Emirates
Selasa, 5 Mei 2009, menjadi malam yang tidak akan dilupakan pendukung Arsenal. Semifinal Liga Champions menghadirkan duel besar melawan Manchester United. Arsene Wenger bahkan menjanjikan penampilan luar biasa dari timnya.
Harapan itu hancur hanya dalam hitungan menit. Ji-Sung Park mencetak gol pembuka saat laga baru berjalan delapan menit. Tiga menit kemudian, Cristiano Ronaldo menambah penderitaan Arsenal.
Tendangan bebas Ronaldo meluncur deras tanpa mampu dihentikan. Emirates Stadium mendadak terdiam. Arsenal terlihat kehilangan arah permainan.
Ronaldo kembali mencetak gol pada babak kedua. Robin van Persie memang sempat mencetak gol hiburan dari titik penalti. Namun, kerusakan sudah terlalu besar.
Manchester United menang 3-1 dan melaju ke final dengan agregat 4-1. Arsenal harus menyaksikan rivalnya berpesta di rumah sendiri.
Monaco dan Kesalahan yang Terlalu Mahal
Rabu, 25 Februari 2015, menjadi malam yang sulit dipercaya bagi banyak pendukung Arsenal. Monaco datang ke Emirates Stadium tanpa status unggulan. Banyak pengamat memprediksi Arsenal mampu menang nyaman.
Kenyataannya justru berbeda jauh. Geoffrey Kondogbia membuka keunggulan Monaco sebelum Dimitar Berbatov menambah gol kedua. Arsenal kehilangan organisasi permainan sepanjang pertandingan.
Alex Oxlade-Chamberlain sempat memperkecil ketertinggalan. Namun, Yannick Carrasco mencetak gol ketiga Monaco yang membuat situasi semakin rumit. Emirates kembali terdiam.
Arsene Wenger tidak bisa menyembunyikan kekecewaan. "Penampilan seperti ini adalah bentuk bunuh diri," kata Wenger setelah pertandingan.
Arsenal memang menang 2-0 pada leg kedua di Prancis. Namun, hasil itu tidak cukup menyelamatkan mereka. Aturan gol tandang membuat Arsenal kembali pulang dengan tangan kosong.
Bayern Munchen Kembali Menjadi Penghalang
Rabu, 17 April 2024 menghadirkan harapan baru bagi Arsenal. Setelah bertahun-tahun absen dari fase akhir Liga Champions, mereka akhirnya kembali bersaing. Hasil imbang 2-2 pada leg pertama membuat peluang terbuka.
Bayern Munchen ternyata tetap menjadi lawan yang sulit ditaklukkan. Tim Jerman tersebut tampil disiplin dan efektif. Arsenal kesulitan menemukan celah sepanjang pertandingan.
Joshua Kimmich menjadi sosok penentu kemenangan. Sundulannya pada babak kedua mengubah arah pertandingan. Allianz Arena bergemuruh menyambut gol tersebut.
Arsenal gagal membalas hingga peluit akhir berbunyi. Kekalahan 1-0 membuat mereka tersingkir dengan agregat 3-2. Mimpi menuju semifinal kembali harus ditunda.
Valencia Hapus Mimpi Semifinal
Rabu, 18 April 2001, menjadi malam yang meninggalkan penyesalan besar. Arsenal datang ke markas Valencia dengan modal kemenangan 2-1. Posisi mereka sebenarnya sangat menguntungkan.
Namun, kesempatan demi kesempatan gagal dimanfaatkan. Lini depan Arsenal kehilangan ketajaman pada saat paling penting. Valencia terus bertahan sambil menunggu peluang.
Kesempatan itu datang pada menit ke-75. John Carew mencetak gol melalui sundulan yang mengubah segalanya. Skor agregat menjadi imbang.
Valencia akhirnya lolos berkat aturan gol tandang. Arsenal tersingkir meski sempat berada dalam posisi ideal. Kekalahan itu menjadi pelajaran pahit bagi generasi awal Arsène Wenger di Eropa.
Luka Tak Pernah Hilang
Gelar Premier League musim 2025/2026 membuktikan Arsenal masih menjadi salah satu kekuatan besar Inggris. Namun, Liga Champions tetap menjadi gunung tertinggi yang belum berhasil mereka daki. Setiap generasi selalu memiliki kisah nyaris berhasil yang berakhir menyakitkan.
Dari kartu merah Jens Lehmann di Paris hingga kartu merah Robin van Persie di Camp Nou. Dari keajaiban Lionel Messi hingga ketajaman Cristiano Ronaldo. Semua menjadi bagian dari sejarah panjang yang sulit dilupakan.
Arsenal boleh menjadi raja di Inggris. Namun di Eropa, mereka masih terus mengejar mimpi yang belum pernah benar-benar menjadi kenyataan. R-02
BERITA TERKAIT :
-
UEFA Champions League
Tangis Arsenal Pecah di Budapest, PSG Pertahankan Takhta Eropa

