Warga Muara Fajar Dikejutkan Kedatangan 12 Gajah Liar, Ini yang Terjadi
Kawanan 12 gajah liar memasuki kawasan perkebunan warga di Muara Fajar, Kecamatan Rumbai, Pekanbaru, Sabtu malam. Foto : Istimewa
PEKANBARU, SabangMerauke News - Kawanan 12 gajah liar memasuki kawasan perkebunan warga di Muara Fajar, Kecamatan Rumbai, Pekanbaru, Sabtu malam. Petugas Damkar Pekanbaru bersama BKSDA Riau dan TNI langsung bergerak menuju lokasi. Seluruh gajah berhasil diarahkan kembali menuju habitat tanpa menimbulkan korban maupun kerusakan.
Kemunculan kawanan gajah dilaporkan warga bernama Heriyanto sekitar pukul 22.40 WIB malam. Laporan tersebut diterima Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Pekanbaru melalui layanan darurat. Petugas segera melakukan penanganan guna menghindari potensi konflik manusia dan satwa liar.
Tim penyelamatan dipimpin Komandan Peleton Robi Setiawan berangkat dari Pos 13 Cempaka. Personel menggunakan Mobil Penyelamatan Khusus MPK 21 menuju lokasi kejadian malam itu. Petugas tiba sekitar pukul 23.25 WIB setelah menempuh perjalanan selama 35 menit.
Sesampainya di lokasi, petugas menemukan sekitar 12 ekor gajah liar melintas perlahan. Kawanan tersebut bergerak melewati area perkebunan warga sepanjang Jalan Pekanbaru-Minas. Jalur itu diketahui menjadi lintasan alami gajah saat berpindah kawasan.
Penanganan melibatkan Dinas Pemadam Kebakaran, BKSDA Riau, serta aparat TNI secara bersama. Koordinasi dilakukan untuk menjaga keselamatan warga sekaligus melindungi satwa dilindungi tersebut. Proses penghalauan berlangsung hati-hati agar tidak memicu kepanikan kawanan gajah.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Pekanbaru, Zarman Candra, menjelaskan kondisi tersebut. Menurutnya, kawasan Muara Fajar memang kerap menjadi lintasan alami gajah liar. “Perlintasan gajah cukup sering terjadi karena merupakan jalur migrasi kawanan gajah,” ujarnya.
Zarman menegaskan penanganan selalu mengutamakan keselamatan warga serta kelestarian satwa dilindungi. Petugas menghindari tindakan yang dapat memicu agresivitas atau gangguan terhadap gajah. Pendekatan persuasif dipilih untuk menjaga situasi tetap aman dan terkendali.
Operasi penghalauan membutuhkan kesabaran karena melibatkan satwa berukuran besar dan sensitif. Setiap pergerakan petugas diperhitungkan untuk menghindari risiko bagi seluruh pihak. Kawanan gajah akhirnya bergerak menjauh dari area perkebunan menuju habitatnya.
Tidak ditemukan kerusakan pada lahan perkebunan maupun fasilitas milik masyarakat sekitar. Seluruh proses berjalan lancar hingga operasi dinyatakan selesai menjelang dini hari. Personel kembali ke pos pada pukul 00.55 WIB setelah memastikan situasi aman.
Peristiwa tersebut kembali menunjukkan pentingnya mitigasi konflik manusia dan satwa liar. Kawasan penyangga hutan di Pekanbaru masih menjadi ruang hidup gajah Sumatra. Sinergi masyarakat, pemerintah, aparat keamanan, serta lembaga konservasi diperlukan menjaga keseimbangan ekosistem.
Keberhasilan operasi ini membuktikan kolaborasi lintas instansi mampu mencegah konflik lebih besar. Warga tetap merasa aman menjalankan aktivitas sehari-hari tanpa gangguan berarti. Sementara kawanan gajah dapat melanjutkan perjalanan menuju habitat alaminya secara aman.(R-04)

