DPRD Pekanbaru Dukung Penuh Wali Kota Copot Camat yang "Tidur" Tak Becus Urus Sampah
Wakil Ketua DPRD Kota Pekanbaru, Tengku Azwendi Fajri, SE, MM. Foto: SM News
RIAU, SabangMerauke News - Masalah pengelolaan sampah di Kota Pekanbaru kembali memanas dan menjadi sorotan tajam legislatif. Langkah tegas Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho, yang mengancam akan mencopot para camat jika tidak becus mengatasi persoalan sampah di wilayahnya, mendapat respons dan dukungan penuh dari Wakil Ketua DPRD Kota Pekanbaru, Tengku Azwendi Fajri, SE, MM.
Tengku Azwendi menilai, ancaman pencopotan tersebut bukan sekadar gertakan politik, melainkan sebuah keharusan demi memutus rantai kelalaian birokrasi yang selama ini membuat estetika dan kesehatan Kota Bertuah ini terus dipertaruhkan. Menurut Azwendi, sudah saatnya ada evaluasi total terhadap kinerja para camat yang terkesan "tidur" dan lepas tangan terhadap kondisi lingkungannya.
Tengku Azwendi Fajri menegaskan, camat memegang peranan krusial sebagai perpanjangan tangan langsung dari Wali Kota. Camat adalah penanggung jawab mutlak atas segala dinamika yang terjadi di wilayah administrasi mereka, termasuk urusan kebersihan dan pengelolaan sampah.
"Camat itu penanggung jawab wilayah, mereka adalah panglima di tingkat kecamatan. Sangat tidak logis jika wali kota yang harus turun langsung menyisir sampah di gang-gang kecil atau jalan protokol. Di mana fungsi kontrol camat? Jika wilayahnya kotor dan dipenuhi tumpukan sampah liar, itu adalah cerminan langsung dari kegagalan kepemimpinan sang camat," ujar Tengku Azwendi, Kamis (28/5/2026).
Lebih lanjut, Azwendi mengkritik pola kerja sebagian camat yang dinilai terlalu administratif dan minim turun ke lapangan. Ia menyoroti adanya kecenderungan di mana pihak kecamatan melimpahkan seluruh beban persoalan sampah kepada Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) semata, tanpa mau ikut ambil pusing melakukan pemetaan titik-titik rawan pembuangan sampah liar di wilayahnya sendiri.
Azwendi yang merupakan Ketua DPC Partai Demokrat Kota Pekanbaru, meminta seluruh camat di Pekanbaru untuk segera mengubah pola kerja pasif menjadi super aktif. Masalah sampah tidak akan pernah selesai jika hanya mengandalkan armada angkutan kota. Kunci utamanya terletak pada tata kelola lingkungan dan edukasi berbasis komunitas (akar rumput).
Camat dituntut wajib mengkoordinasikan seluruh perangkat di bawahnya, mulai dari Lurah, Ketua RW, hingga Ketua RT. Sinergi ini harus diwujudkan dalam aksi nyata, bukan sekadar rapat koordinasi di atas kertas.
Ia menyarankan agar camat bersama lurah dan RT/RW wajib memetakan jam rawan pembuangan sampah ilegal dan mendirikan posko pengawasan secara swadaya. Termasuk menghidupkan kembali budaya gotong royong mingguan bersama masyarakat untuk membersihkan drainase.
Selain itu, juga menggerakkan perangkat RT dan RW untuk memberikan teguran keras bagi warga atau oknum penyusup yang membuang sampah sembarangan di luar jam yang ditentukan.
"Persoalan sampah ini adalah masalah perilaku dan sistem kerja. Camat harus mampu mengorkestrasi RT dan RW agar bergerak bersama masyarakat. Bangun komunikasi yang solid. Kalau RT dan RW-nya cuek, camatnya harus panggil, rangkul, dan beri arahan. Jangan malah camatnya yang ikut-ikutan cuek," tegas Azwendi.
Menguji Nyali dan Kinerja Birokrasi Kecamatan
Sikap tegas legislatif yang diwakili oleh Tengku Azwendi Fajri ini mengirimkan pesan kuat: rakyat sudah jenuh dengan alasan klasik. Anggaran untuk penanganan sampah terus digelontorkan, namun tata kelola di lapangan sering kali mandek akibat mentalitas birokrat yang minim inisiatif.
Camat tidak bisa lagi berlindung di balik keterbatasan fasilitas atau armada pengangkut. Di sinilah kepemimpinan (leadership) mereka diuji. Seorang camat yang kompeten akan mampu melahirkan inovasi lokal, misalnya memfasilitasi pembentukan Bank Sampah di tingkat RW, menggalakkan program pilah sampah dari rumah, hingga menggerakkan pemuda setempat untuk menjadi agen pengawas kebersihan.
Tengku Azwendi Fajri berharap ketegasan Wali Kota ini segera dieksekusi tanpa pandang bulu demi kebaikan masyarakat Pekanbaru.
"Kita dukung penuh Wali Kota untuk mencopot camat yang tidak becus. Ini demi Pekanbaru yang bersih, sehat, dan bermartabat. Jika tidak sanggup bekerja keras mengurus wilayah, silakan mundur atau siap-siap diganti oleh mereka yang punya integritas dan mau turun ke lumpur demi melayani masyarakat," pungkasnya menyudahi. (R-03)

