Neraka di Perut Bumi China, Ledakan Tambang Tewaskan 82 Pekerja Seketika
Tim penyelamat di lokasi ledakan tambang batu bara di Pingyao, di Shanxi utara, China. Kantor berita resmi melaporkan ledakan itu menewaskan 82 orang dan 128 luka-luka. (AFP Photo)
CHINA, SabangMerauke News - Ledakan besar mengguncang tambang batu bara Liushenyu di Provinsi Shanxi, China Utara, Jumat malam, 22 Mei 2026. Saat ledakan terjadi, ratusan pekerja masih berada di bawah tanah.
Asap pekat langsung memenuhi lorong tambang. Banyak pekerja panik mencari jalan keluar. Sebagian lain terjebak setelah ledakan menghantam area tambang. Tragedi ini menjadi kecelakaan tambang paling mematikan di China dalam 17 tahun terakhir.
Pemerintah China awalnya melaporkan 90 korban meninggal dunia. Namun, jumlah itu kemudian direvisi menjadi 82 orang tewas. Sebanyak 128 pekerja mengalami luka-luka. Dua pekerja lainnya masih dinyatakan hilang hingga Minggu, 24 Mei 2026.
Saat kejadian, total 247 pekerja sedang bekerja di bawah tanah. Ratusan petugas penyelamat langsung diterjunkan ke lokasi. Ambulans terlihat berjajar di sekitar tambang sejak malam kejadian. Televisi pemerintah China memperlihatkan petugas membawa tandu dari dalam tambang menuju ambulans. Suasana di luar tambang penuh kepanikan.
Keluarga korban terus menunggu kabar sambil berharap anggota keluarganya bisa ditemukan selamat. Salah satu pekerja selamat bernama Wang Yong menceritakan situasi sebelum ledakan terjadi. “Ada kepulan asap dan saya mencium bau belerang,” kata Wang Yong kepada CCTV, Sabtu, 23 Mei 2026.
Menurut Wang, suasana di dalam tambang berubah kacau dalam hitungan detik. Asap tebal membuat para pekerja sulit bernapas. “Saya melihat banyak pekerja tersedak asap sebelum pingsan,” ujar Wang Yong.
Ia mengaku sempat tidak sadarkan diri sekitar satu jam di dalam tambang. Saat sadar, Wang langsung memanggil rekan-rekannya dan mencari jalan keluar bersama-sama. “Saya bangun lalu keluar bersama pekerja lain,” ucap Wang Yong.
Ledakan terjadi sekitar pukul 19.29 waktu setempat. Media pemerintah China awalnya hanya melaporkan empat korban meninggal dunia. Namun, jumlah korban terus bertambah saat proses evakuasi berlangsung.
Kadar karbon monoksida di dalam tambang disebut melebihi batas aman. Gas beracun itu diduga memperparah kondisi para pekerja yang terjebak di bawah tanah.
Sebanyak 755 petugas penyelamat dan tenaga medis diterjunkan ke lokasi kejadian. Petugas bekerja sepanjang malam menggunakan alat bantu pernapasan dan lampu penerangan. Beberapa korban berhasil dievakuasi dalam kondisi lemas dan penuh debu hitam.
Korban luka langsung dibawa ke rumah sakit menggunakan ambulans. Empat korban dilaporkan berada dalam kondisi kritis. Hingga Sabtu sore, 33 pekerja diperbolehkan pulang setelah kondisi kesehatannya membaik.
Presiden China, Xi Jinping, langsung memberikan respons setelah menerima laporan tragedi tersebut. Xi meminta seluruh jajaran pemerintah bergerak cepat merawat korban dan mencari pekerja yang masih hilang. “Semua wilayah harus mengambil pelajaran dari kecelakaan ini,” kata Xi Jinping, Sabtu, 23 Mei 2026.
Xi juga meminta investigasi besar terhadap pengelola tambang. Pemerintah China langsung menahan sejumlah pejabat dan pengelola tambang Liushenyu. Tambang tersebut dimiliki Shanxi Tongzhou Coal Coking Group. Empat tambang milik perusahaan itu langsung ditutup sementara setelah ledakan terjadi.
Pejabat wilayah Qinyuan, Guo Xiaofang, mengatakan suasana lokasi sangat kacau sesaat setelah ledakan. Penghitungan jumlah pekerja sempat tidak jelas sehingga data korban berubah. “Penghitungan pekerja tidak akurat setelah kejadian,” kata Guo Xiaofang dalam konferensi pers, Sabtu malam, 23 Mei 2026.
Pemerintah China kini menyelidiki kemungkinan pelanggaran keselamatan kerja di tambang tersebut. Investigasi juga fokus pada dugaan manipulasi data keselamatan dan aktivitas penambangan ilegal.
China memang memiliki sejarah panjang kecelakaan tambang batu bara. Pada awal 2000-an, kecelakaan tambang sering terjadi hampir setiap tahun. Meski aturan keselamatan mulai diperketat, tragedi besar masih terus muncul.
Pada 2023, runtuhan tambang batu bara di Mongolia Dalam menewaskan 53 pekerja. Sementara pada 2009, ledakan tambang di Heilongjiang menewaskan 108 orang.
Kini tragedi Liushenyu kembali membuka luka lama industri batu bara China. Provinsi Shanxi dikenal sebagai pusat tambang batu bara terbesar di China. Wilayah itu juga menjadi salah satu daerah termiskin di negara tersebut.
Meski China terus membangun energi terbarukan, kebutuhan batu bara tetap sangat tinggi. Aktivitas tambang pun terus berjalan besar-besaran. Namun, di balik produksi batu bara yang besar, para pekerja setiap hari menghadapi risiko maut di bawah tanah.
Kini keluarga korban masih menunggu proses pencarian selesai. Di rumah sakit Shanxi, suasana dipenuhi tangis dan wajah cemas keluarga pekerja. Sementara tim investigasi mulai memeriksa lokasi ledakan untuk mencari penyebab pasti tragedi tersebut. R-02

