Rupiah Jebol Rp17.630, Pasar Panik Usai Trump dan Xi Jinping Bikin Investor Kecewa
Ilustrasi kurs Dolar AS terhadap Rupiah Indonesia. (ist)
JAKARTA, SabangMerauke News - Nilai tukar rupiah kembali limbung pada Senin, 18 Mei 2026, pagi WIB setelah tekanan global mengguncang pasar. Mata uang Garuda jatuh menuju Rp17.630 per dolar Amerika Serikat saat investor asing ramai meninggalkan aset berisiko. Situasi pasar seperti jalan licin diguyur hujan deras ketika dolar AS mendadak melesat tanpa ampun.
Perdagangan pagi tadi menunjukkan rupiah melemah sekitar tiga puluh tiga poin dibandingkan dengan perdagangan sebelumnya akhir pekan lalu. Mata uang Indonesia bergerak seirama bersama mayoritas mata uang Asia yang sama-sama masuk zona merah perdagangan. Yuan China, yen Jepang, hingga won Korea Selatan ikut terseret tekanan penguatan dolar Amerika Serikat.
Ringgit Malaysia bahkan mengalami tekanan lebih tajam dibanding mata uang kawasan Asia Tenggara lain pagi tadi perdagangan. Dolar Singapura ikut melemah tipis, sementara peso Filipina dan baht Thailand kehilangan tenaga sejak pembukaan pasar. Hanya dolar Hong Kong mampu bertahan hijau meski penguatannya tipis seperti embun pagi cepat menghilang.
Tekanan tidak hanya menghantam kawasan Asia, namun juga menyeret mata uang negara maju pagi ini perdagangan. Euro Eropa melemah, poundsterling Inggris turun, sementara dolar Australia ikut kehilangan kekuatan terhadap dolar Amerika Serikat. Franc Swiss dan dolar Kanada juga masuk zona merah saat pasar global mencari aset perlindungan.
Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, melihat sentimen risk off kembali mendominasi perdagangan global. “Investor kecewa hasil pertemuan Xi Jinping dan Donald Trump belum memberi solusi jelas,” ujar Lukman Leong. Menurut Lukman, situasi tersebut membuat dolar AS melonjak tajam terhadap mayoritas mata uang dunia.
Pertemuan Presiden China Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump gagal menenangkan kegelisahan pasar dunia pekan ini. Investor berharap dua pemimpin besar dunia membawa kabar damai terkait konflik geopolitik kawasan Timur Tengah memanas. Namun hasil pertemuan justru dinilai menggantung seperti lampu redup menjelang listrik padam mendadak malam hari.
Konflik Amerika Serikat dan Iran ikut memperburuk ketegangan pasar keuangan global sejak pekan lalu perdagangan berlangsung. Harga minyak dunia melonjak hingga menembus lebih dari 111 dolar AS per barel perdagangan internasional. Kenaikan minyak mentah membuat mata uang emerging market semakin tertekan akibat kekhawatiran inflasi global meningkat.
Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, menilai kondisi Timur Tengah masih sangat rapuh dan berbahaya bagi pasar. “Harga minyak naik sementara Selat Hormuz masih ditutup hingga memperbesar ketidakpastian global,” kata Andry Asmoro, Senin. Menurut Andry, penguatan dolar AS sulit dibendung selama ketegangan geopolitik belum mereda sepenuhnya.
Pelaku pasar juga mulai mengkhawatirkan tekanan baru terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau APBN Indonesia. Subsidi energi diperkirakan membengkak akibat kenaikan harga minyak dunia dalam beberapa pekan perdagangan terakhir internasional. Pada saat bersamaan, penerimaan negara dinilai belum cukup kuat menopang ekspansi belanja pemerintah nasional.
Tekanan ekonomi domestik mulai terlihat dari sejumlah indikator penting beberapa bulan terakhir aktivitas perdagangan dan konsumsi masyarakat. Indeks Keyakinan Konsumen dan data penjualan ritel menunjukkan perlambatan aktivitas ekonomi nasional cukup terasa tahun ini. Situasi tersebut membuat investor meminta premi risiko lebih tinggi terhadap aset Indonesia di pasar global.
Tekanan tambahan datang dari keputusan Morgan Stanley Capital International atau MSCI terhadap sejumlah saham Indonesia besar. MSCI resmi mengeluarkan beberapa saham nasional dari indeks global mereka pada Mei 2026 perdagangan internasional. Kebijakan tersebut memicu arus keluar dana asing sekaligus memperburuk sentimen pasar keuangan domestik sejak pekan lalu.
Pasar obligasi nasional ikut mengalami tekanan seiring depresiasi rupiah dan meningkatnya kekhawatiran investor asing global belakangan. Yield obligasi pemerintah tenor sepuluh tahun diperkirakan naik akibat meningkatnya permintaan premi risiko pasar domestik. Investor terlihat mulai berhitung hati-hati sebelum menempatkan modal pada aset Indonesia beberapa waktu mendatang perdagangan.
Meski tekanan cukup besar, konsensus pasar masih memperkirakan Bank Indonesia menahan suku bunga acuan bulan Mei. Bank sentral dinilai masih memiliki ruang menjaga pertumbuhan ekonomi selama inflasi belum bergerak terlalu agresif nasional. Namun ruang kebijakan longgar diperkirakan menyempit jika harga minyak bertahan tinggi lebih lama ke depan.
Pengamat pasar menilai pelemahan rupiah kali ini terasa berbeda dibanding tekanan beberapa bulan perdagangan sebelumnya domestik nasional. Selain sentimen eksternal, investor mulai mencermati transparansi pasar modal dan free float saham Indonesia lebih serius. Kekhawatiran tersebut membuat pasar bergerak sensitif terhadap isu global maupun kebijakan indeks internasional besar.
Pagi tadi, rupiah bahkan sempat menyentuh level terlemah sepanjang sejarah perdagangan modern pasar keuangan nasional Indonesia. Posisi mata uang Garuda berada dekat area Rp17.610 hingga Rp17.650 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan pagi. Situasi itu membuat pelaku pasar terus memantau langkah Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar domestik.
Di tengah tekanan besar tersebut, aktivitas perdagangan valas masih terlihat ramai sepanjang sesi pembukaan pasar pagi hari. Investor asing maupun domestik tampak sibuk menyesuaikan portofolio menghadapi ketidakpastian global semakin tebal beberapa hari terakhir. Pasar seperti menunggu badai berikutnya sambil berharap angin panas segera berubah menjadi hujan penyejuk. R-02

