Pesulap Merah Bongkar Rahasia Gunung Kawi, Fakta Sebenarnya Bikin Netizen Syok!
Fenomena Gunung Kawi di Kabupaten Malang. Foto: Dok SM News
JAWA TIMUR, SabangMerauke News - Fenomena Gunung Kawi di Kabupaten Malang kembali menjadi sorotan publik setelah YouTuber sekaligus pesulap terkenal, Marcel Radhival atau yang dikenal dengan julukan Pesulap Merah, turun langsung menelusuri lokasi yang selama ini identik dengan ritual pesugihan dan praktik mistis.
Kedatangannya ke Keraton Gunung Kawi bukan sekadar konten hiburan. Marcel mengaku ingin menjawab rasa penasaran netizen terkait isu tumbal, pesugihan, hingga dugaan pemujaan makhluk gaib yang sejak lama melekat pada kawasan tersebut. Namun hasil penelusurannya justru menghadirkan fakta berbeda dari anggapan publik selama ini.
Dalam penelusuran itu, Marcel menemui langsung juru kunci atau kuncen Keraton Gunung Kawi. Ia menggali informasi mengenai ritual yang biasa dilakukan para peziarah dan aktivitas yang berlangsung di lokasi tersebut.
Menurut Marcel, juru kunci berbicara sangat terbuka mengenai praktik yang ada di Gunung Kawi. Bahkan, beberapa nama tokoh publik disebut pernah datang ke lokasi itu. Namun Marcel menegaskan dirinya tidak bisa memastikan seluruh klaim tersebut benar adanya.
“Banyak netizen ngajak saya untuk ungkap pesugihan Gunung Kawi apa pakai tumbal dan semacamnya,” ujar Marcel dalam penelusurannya.
Dari hasil percakapan dengan juru kunci, Marcel menyimpulkan bahwa ritual di Gunung Kawi lebih mengarah pada tradisi kejawen dan ngalap berkah, bukan praktik pemanggilan setan seperti yang selama ini dipercaya sebagian masyarakat.
Para peziarah disebut biasanya membawa bunga dan dupa sebagai sarana menyampaikan doa serta harapan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hal itu menurut Marcel merupakan bagian dari tradisi spiritual masyarakat Jawa yang sudah berlangsung turun-temurun.
Meski demikian, Marcel tetap menyoroti adanya praktik-praktik yang menurutnya keluar dari ajaran Islam. Saat memasuki beberapa area di Keraton Gunung Kawi, ia menemukan sesajen, dupa, patung, susunan batu hingga gua yang dipenuhi persembahan.
Tak hanya itu, Marcel juga menemukan buku tamu berisi nama-nama pengunjung yang datang untuk mencari peruntungan dan kelancaran usaha. Penemuan tersebut membuatnya semakin memahami bagaimana kuatnya kepercayaan masyarakat terhadap aura mistis Gunung Kawi.
Dalam video penelusurannya, Marcel juga mendatangi makam-makam yang berkaitan dengan tradisi kejawen. Ia menilai ada sebagian praktik yang bertentangan dengan keyakinan agama tertentu, terutama jika sampai meminta berkah kepada makam.
“Kalau kita yang muslim ya tentu tidak boleh menjalankan hal semacam itu,” kata Marcel saat menjelaskan pandangannya terkait ritual kejawen tersebut.
Meski mengkritisi praktik spiritual tertentu, Marcel menegaskan kedatangannya bukan untuk merusak budaya ataupun menghina tradisi masyarakat setempat. Ia justru mengajak publik agar bisa membedakan antara pelestarian budaya dengan praktik penipuan berkedok mistis.
Menurutnya, berpikir logis sangat penting agar masyarakat tidak mudah percaya terhadap janji kekayaan instan atau pesugihan abal-abal yang sering dimanfaatkan oknum tertentu.
Kehadiran Pesulap Merah ternyata mendapat respons positif dari pengelola dan sesepuh kawasan Keraton Gunung Kawi. Mereka menyambut baik edukasi yang dilakukan Marcel karena dianggap mampu meluruskan stigma negatif yang selama ini melekat pada kawasan tersebut.
Di balik citra mistisnya, Gunung Kawi ternyata juga menyimpan nilai sejarah dan toleransi yang cukup kuat. Kawasan itu dikenal sebagai tempat ziarah budaya yang dikunjungi masyarakat dari berbagai latar belakang agama dan kepercayaan.
Menurut penuturan juru kunci, pusat kawasan Keraton Gunung Kawi merupakan tempat yang berkaitan dengan tokoh leluhur dari masa Kerajaan Kediri. Banyak peziarah datang untuk berdoa, bertawasul, atau mencari ketenangan batin.
Menariknya, di kompleks tersebut juga berdiri sejumlah rumah ibadah dari berbagai agama yang hidup berdampingan. Hal itu memperlihatkan sisi lain Gunung Kawi yang jarang terekspos dibanding cerita pesugihan dan ritual mistis yang telanjur viral di masyarakat.
Setelah melakukan penelusuran panjang, Marcel akhirnya menyimpulkan bahwa Gunung Kawi bukan sarang jin ataupun pusat pemujaan setan seperti yang sering dibayangkan publik. Ia justru melihat tempat tersebut lebih sebagai kawasan budaya dan spiritual kejawen.
Meski begitu, Marcel tetap mengingatkan masyarakat agar tidak menghabiskan tenaga, waktu, dan biaya demi mengejar kekayaan instan lewat ritual yang bertentangan dengan keyakinan masing-masing.
Ia pun menyarankan masyarakat untuk tetap berdoa sesuai ajaran agama masing-masing jika ingin memperoleh rezeki dan keberkahan hidup.
Pada akhirnya, penelusuran Pesulap Merah di Gunung Kawi bukan hanya membongkar mitos lama, tetapi juga membuka diskusi baru tentang batas antara budaya, spiritualitas, dan kepercayaan masyarakat modern terhadap hal-hal mistis. (R-05)

