Tangis John McGinn Pecah, Aston Villa Akhiri Kutukan 44 Tahun Tanpa Trofi Eropa
Gelandang Aston Villa, John McGinn (kanan) merayakan kemenangan usai final UEFA Europa League bersama kedua anaknya.(AP Photo)
TURKI, SabangMerauke News - Aston Villa akhirnya keluar dari lorong panjang penuh debu kegagalan Eropa. Klub asal Birmingham itu menghancurkan Freiburg 3-0 pada final Liga Europa 2025/2026 di Tupras Stadium, Kamis, 21 Mei 2026 dini hari WIB. Kemenangan itu mengakhiri puasa trofi Eropa selama 44 tahun sekaligus menghidupkan lagi kenangan emas 1982.
Malam di Istanbul terasa seperti pesta yang lama tertunda. Ribuan suporter Aston Villa bernyanyi tanpa henti sejak peluit pertama berbunyi. Freiburg seperti tamu salah alamat ketika Villa mulai menggila di lapangan.
Pelatih Aston Villa, Unai Emery, kembali menunjukkan sentuhan aneh nan mematikan di Liga Europa. Pria Spanyol itu kini mengoleksi lima gelar Liga Europa sepanjang kariernya. Rekor itu membuat Emery semakin sulit disentuh pelatih lain.
“Kami bermain dengan keberanian dan mental juara,” ujar Unai Emery usai pertandingan. Emery terlihat tenang meski para pemainnya sudah berhamburan merayakan kemenangan. Wajahnya seperti orang yang memang sudah tahu akhir cerita sejak awal.
Aston Villa langsung menginjak gas sejak menit pertama. Gelandang agresif mereka membuat Freiburg sulit bernapas sepanjang babak awal. Wakil Jerman itu bahkan kesulitan menyusun tiga operan rapi secara beruntun.
Peluang pertama datang pada menit ketiga lewat Morgan Rogers. Namun, kiper Freiburg, Noah Atubolu, masih mampu menepis bola keras yang mengarah ke sudut gawang. Stadion sempat bergemuruh sebelum akhirnya kembali menunggu ledakan berikutnya.
Freiburg sempat mencoba melawan melalui Nicolas Hofler. Sayangnya, lini tengah Aston Villa tampil terlalu disiplin dan agresif. Emiliano Martínez juga tampil dingin seperti satpam bank menjelang tengah malam.
Gol pertama akhirnya lahir pada menit ke-41. Youri Tielemans menyambar umpan Morgan Rogers lewat tendangan voli keras. Bola meluncur deras ke sudut kiri gawang Freiburg tanpa mampu dihentikan.
Suporter Aston Villa langsung meledak. Tribun stadion berubah seperti konser musik rock tengah malam. Para pemain Freiburg hanya saling memandang dengan wajah kosong.
Belum sempat Freiburg bangkit, Villa kembali menghantam menjelang turun minum. Emiliano Buendia mencetak gol indah lewat sepakan melengkung dari luar kotak penalti. Bola meluncur cantik sebelum bersarang di pojok atas gawang.
Babak pertama ditutup dengan sorakan panjang pendukung Villa. Freiburg berjalan menuju ruang ganti dengan langkah berat dan wajah kusut. Mereka seperti baru dihantam badai dari dua arah berbeda.
Kapten Aston Villa, John McGinn, menjadi sosok paling emosional malam itu. Gelandang Skotlandia tersebut tampil penuh energi sepanjang pertandingan. Ia terus berteriak memberi semangat meski timnya sudah unggul nyaman.
“Sejujurnya saya masih sulit percaya,” kata John McGinn kepada TNT Sports. McGinn mengaku perjalanan Aston Villa terasa seperti dongeng liar. Ia bahkan sempat hampir menangis sebelum laga berakhir.
Menurut McGinn, Aston Villa pernah berada dalam kondisi menyedihkan beberapa tahun lalu. Klub itu sempat berkutat di kasta bawah sepak bola Inggris. Kini, mereka justru berdiri di singgasana Eropa.
“Ini malam paling membanggakan sepanjang karier saya,” ujar John McGinn. Kalimat itu keluar sambil matanya berkaca-kaca di tengah pesta pemain Aston Villa. Rekan setimnya langsung memeluk sang kapten.
Memasuki babak kedua, Aston Villa tetap bermain ganas. Emery tidak meminta timnya bertahan meski unggul dua gol. Freiburg akhirnya benar-benar tenggelam dalam tekanan.
Gol ketiga lahir pada menit ke-58 lewat Morgan Rogers. Penyerang muda itu menyambar umpan rendah Buendia dari sisi kiri. Sepakannya menghantam tiang dekat sebelum merobek gawang Freiburg.
Skor 3-0 membuat pertandingan praktis selesai lebih cepat. Suporter Villa mulai bernyanyi sambil mengangkat syal tinggi-tinggi. Beberapa fans bahkan terlihat menangis di tribun stadion.
Freiburg sebenarnya mencoba menyerang menjelang akhir pertandingan. Namun, lini belakang Aston Villa tampil terlalu rapat dan disiplin. Emiliano Martinez juga menepis beberapa peluang dengan santai.
Ketika peluit panjang berbunyi, para pemain Villa langsung berhamburan ke tengah lapangan. McGinn jatuh terduduk sambil menutup wajah menggunakan kedua tangan. Momen itu menjadi gambar paling emosional malam tersebut.
“Ini terasa luar biasa bagi klub dan suporter,” ujar McGinn lagi. Ia mengaku menikmati setiap detik di final Eropa pertamanya. Pada usia 31 tahun, momen itu terasa seperti mimpi yang terlambat datang.
Keberhasilan Aston Villa juga mempertegas status Unai Emery sebagai spesialis Liga Europa. Sebelum bersama Villa, Emery tiga kali menjadi juara bersama Sevilla. Ia juga pernah membawa Villarreal mengangkat trofi sama.
Kini Aston Villa menjadi korban terbaru dari sihir kompetisi Eropa milik Emery. Pelatih itu seperti punya peta rahasia menuju trofi Liga Europa. Setiap timnya selalu berubah ganas ketika masuk fase gugur.
“Para pemain tampil sempurna malam ini,” ujar Emery selepas laga. Ia memuji karakter timnya sepanjang perjalanan kompetisi musim ini. Emery juga menyebut dukungan fans Aston Villa sangat luar biasa.
Trofi ini terasa sangat mahal bagi Aston Villa. Klub tersebut terakhir kali merasakan kejayaan Eropa saat menjuarai Piala Champions 1982. Setelah itu, Villa lebih sering menjadi penghuni lorong gelap sepak bola Inggris.
Kini semuanya berubah di bawah tangan Emery. Aston Villa kembali menjadi pembicaraan Eropa setelah puluhan tahun tenggelam. Birmingham malam itu berubah seperti kota yang baru memenangkan lotre raksasa.
Kemenangan Aston Villa juga membuka peluang besar bagi klub Inggris lain. Premier League kini berpotensi mengirim enam wakil ke Liga Champions musim depan. Situasi itu membuat persaingan papan atas Inggris semakin panas.
Namun, malam itu bukan tentang hitungan tiket Eropa. Malam itu milik Aston Villa dan para suporternya. Mereka akhirnya kembali membawa pulang trofi Eropa setelah menunggu hampir setengah abad.
Di tengah pesta kemenangan, John McGinn berdiri sambil memegang trofi tinggi-tinggi. Sorot lampu stadion memantul di wajahnya yang masih basah air mata. Istanbul akhirnya menjadi kota saksi kebangkitan liar Aston Villa. R-02
BERITA TERKAIT :
-
UEFA Europa League
Gak Masuk Akal! Cuma Main 10 Orang, Braga Malah Dibantai Freiburg 3-1

