Rupiah dan Bayang-Bayang Dolar
Ilustrasi rupiah dan dolar. Foto: Istimewa
*Oleh: Suko Wahyudi
SabangMerauke News - Pernyataan bahwa rakyat Indonesia tidak memakai dolar sesungguhnya mengandung dua wajah sekaligus. Pada satu sisi, ia dapat dibaca sebagai bahasa optimisme, sebuah usaha menenangkan kegelisahan publik ketika nilai tukar rupiah menghadapi tekanan global. Tetapi pada sisi lain, pernyataan itu juga menyimpan pertanyaan yang lebih mendasar: benarkah rakyat kecil sungguh hidup jauh dari pengaruh dolar? Ataukah sesungguhnya mereka hanya tidak melihat wajah dolar, tetapi setiap hari hidup di bawah bayang bayangnya?
Rakyat memang tidak membawa dolar ke pasar tradisional. Seorang petani membeli pupuk dengan rupiah. Buruh membeli beras dengan rupiah. Pedagang kecil membayar ongkos angkut dengan rupiah. Namun ekonomi modern bukanlah ruang sederhana yang dapat dipahami hanya dari alat pembayaran yang berada di tangan masyarakat. Ekonomi hari ini bekerja melalui jaringan yang rumit, saling terkait, dan sering kali tidak terlihat oleh mata awam.
Dunia global telah membuat batas antara pasar internasional dan dapur rakyat menjadi semakin tipis. Apa yang terjadi di pusat keuangan dunia dapat bergaung sampai ke warung kecil di desa. Kenaikan dolar mungkin tampak seperti persoalan grafik ekonomi yang jauh dari kehidupan rakyat, tetapi dampaknya perlahan masuk melalui pintu industri, perdagangan, energi, hingga kebutuhan pangan sehari hari.
Di sinilah persoalan bahan baku industri menjadi penting untuk dibicarakan. Banyak sektor industri Indonesia masih bertumpu pada bahan baku impor. Bukan hanya mesin, komponen elektronik, atau teknologi manufaktur, melainkan juga bahan yang dekat dengan kebutuhan harian masyarakat. Ketika dolar menguat, biaya impor meningkat. Ketika biaya meningkat, harga produksi ikut terdorong naik. Dan ketika harga produksi naik, rakyatlah yang pada akhirnya berhadapan dengan konsekuensinya.
Ironi itu tampak jelas pada tahu dan tempe. Dua jenis makanan yang begitu akrab dengan lidah rakyat Indonesia ternyata menyimpan cerita tentang ketergantungan ekonomi yang jarang dibicarakan secara serius. Indonesia adalah negeri tempe, tetapi belum sepenuhnya negeri kedelai. Sebagian besar kebutuhan kedelai nasional masih bergantung pada impor. Artinya, makanan rakyat yang tampak sederhana itu ternyata memiliki hubungan yang panjang dengan dinamika pasar global dan pergerakan dolar.
Ketika dolar menguat, harga kedelai impor ikut bergerak naik. Dampaknya tidak muncul dalam bentuk pidato ekonomi yang rumit, melainkan dalam bentuk tahu yang mengecil, tempe yang menipis, atau harga yang perlahan merangkak naik. Pengrajin tahu dan tempe menghadapi pilihan yang tidak mudah: menaikkan harga dan kehilangan pelanggan, atau mempertahankan harga dengan mengurangi ukuran dan keuntungan. Pada titik inilah rakyat kecil sesungguhnya sedang bersentuhan dengan dolar, meskipun mereka tidak pernah menyimpannya di dompet.
Persoalan ini menunjukkan bahwa kehidupan ekonomi rakyat tidak bisa dipisahkan secara mutlak dari ekonomi global. Memang benar Indonesia memiliki pasar domestik yang besar. Konsumsi rumah tangga menjadi salah satu penyangga ekonomi nasional. Tetapi kekuatan pasar domestik bukan berarti kebal terhadap arus global. Sebaliknya, ketergantungan pada impor bahan baku justru memperlihatkan adanya ruang rapuh dalam bangunan ekonomi nasional.
Karena itu, perdebatan mengenai rakyat memakai dolar atau tidak sesungguhnya bukan soal mata uang. Ini adalah soal bagaimana kita memahami struktur ekonomi Indonesia. Sebuah negara yang masih bergantung pada impor pangan, bahan baku industri, dan berbagai kebutuhan strategis akan selalu memiliki hubungan yang tidak sederhana dengan nilai tukar dolar.
Dalam konteks ini, kritik tidak perlu diarahkan pada optimisme pemerintah semata. Optimisme tetap penting bagi kesehatan psikologis bangsa. Yang perlu dipersoalkan ialah ketika optimisme berubah menjadi penyederhanaan. Sebab realitas ekonomi tidak dapat diatasi hanya dengan bahasa penenang. Rakyat membutuhkan kejujuran intelektual, yakni keberanian mengakui adanya persoalan sekaligus kesungguhan membangun jalan keluar.
Jalan keluar itu bukan sekadar menjaga kurs atau mengelola persepsi publik. Yang lebih mendasar adalah memperkuat basis produksi nasional. Indonesia memerlukan keberanian untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan baku, memperkuat pertanian domestik, membangun industri yang lebih mandiri, dan menempatkan kedaulatan pangan bukan sebagai slogan politik, melainkan agenda ekonomi yang nyata.
Sebab bangsa yang terlalu bergantung pada pasokan luar negeri sesungguhnya sedang membangun rumah dengan fondasi yang mudah diguncang keadaan global. Ketika harga internasional berubah, ketika dolar menguat, atau ketika rantai pasok dunia terganggu, maka dampaknya cepat atau lambat akan mengetuk pintu rumah rakyat.
Pada akhirnya, rakyat Indonesia memang tidak memakai dolar untuk membeli tempe di pasar atau secangkir kopi di warung. Tetapi kehidupan mereka tetap dapat dipengaruhi oleh logika ekonomi yang bergerak bersama dolar. Maka memahami ekonomi nasional tidak cukup hanya dengan melihat mata uang yang dipakai rakyat, melainkan juga dengan membaca jaringan ketergantungan yang membentuk harga, produksi, dan keberlangsungan hidup sehari hari. Di situlah tantangan sesungguhnya sebuah bangsa modern: bukan sekadar hidup tanpa dolar, tetapi membangun kemampuan agar tidak terus menerus ditentukan oleh bayang bayang dolar. (R-03)
*Penulis merupakan Pegiat Literasi, tinggal di Yogyakarta

