Rupiah Pecah Rekor Terburuk, Prabowo Langsung Panggil Bos BI dan Menkeu ke Istana
Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto saat konfresinsi pers di Istana Negara. (ist)
JAKARTA, SabangMerauke News - Nilai tukar rupiah akhirnya jatuh menuju level terburuk sepanjang sejarah perdagangan pasar keuangan nasional, Senin, 18 Mei 2026. Dolar Amerika Serikat ditutup pada posisi Rp17.656 setelah tekanan global menghantam pasar domestik sepanjang awal pekan kemarin. Situasi tersebut langsung memicu gerak cepat Presiden Prabowo Subianto untuk memanggil petinggi ekonomi menuju Istana Negara Jakarta.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa terlihat tiba sekitar pukul 16.00 WIB membawa sejumlah dokumen ekonomi penting nasional. Tak lama berselang, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo ikut memasuki kawasan Istana Negara tanpa banyak komentar kepada wartawan. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto juga tampak hadir sambil membawa map tebal menuju ruang rapat.
“Nggak usah takut, fundamental ekonomi bagus, fiskal juga masih kuat,” ujar Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Senin, 18 Mei 2026. Pernyataan singkat tersebut langsung menyebar cepat ketika pasar keuangan masih dipenuhi kepanikan investor domestik dan asing. Banyak pelaku pasar mulai menunggu arah kebijakan baru pemerintah menghadapi tekanan besar terhadap rupiah.
Perry Warjiyo Pilih Senyum
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memilih irit bicara ketika dicegat wartawan menjelang memasuki area Istana Negara sore kemarin. Perry hanya tersenyum sambil mengucapkan terima kasih tanpa menjelaskan isi pembahasan bersama Presiden Prabowo Subianto. Sikap santai tersebut justru memancing perhatian publik ketika rupiah masih terus terseret tekanan pasar global.
Nilai tukar rupiah tercatat melemah 1,08 persen pada perdagangan spot menuju level Rp17.656 per dolar Amerika Serikat. Angka tersebut resmi menjadi posisi penutupan terburuk sepanjang sejarah pasar keuangan Indonesia modern hingga hari ini. Tekanan besar terlihat menghantam rupiah, saham domestik, hingga pasar obligasi nasional secara bersamaan.
Harga minyak dunia ikut memperkeruh suasana setelah sempat menyentuh level US$111 per barel perdagangan internasional kemarin. Lonjakan harga energi dipicu meningkatnya konflik geopolitik Timur Tengah yang mengganggu distribusi minyak dunia beberapa pekan terakhir. Negara berkembang pengimpor minyak seperti Indonesia akhirnya ikut terkena tekanan cukup berat.
Investor Memburu Dolar
Pelaku pasar global perlahan beralih menuju dolar Amerika Serikat demi mencari aset paling aman menghadapi ketidakpastian ekonomi dunia. Arus modal asing keluar dari negara berkembang mulai terlihat meningkat sepanjang Mei 2026 termasuk menuju pasar Indonesia. Situasi tersebut membuat tekanan terhadap rupiah terasa jauh lebih besar dibanding mata uang Asia lainnya.
Meski mayoritas mata uang Asia ikut tertekan, rupiah tercatat menjadi salah satu mata uang dengan pelemahan terdalam kawasan regional. Yuan China dan baht Thailand masih mampu bertahan ketika rupiah terus tergelincir sepanjang perdagangan domestik awal pekan. Kondisi tersebut membuat persepsi risiko terhadap aset Indonesia ikut meningkat cukup tajam.
“Fed Fund Rate tampaknya belum turun sehingga yield Treasury terus naik,” ujar Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo saat rapat Komisi XI DPR RI. Perry menjelaskan investor global mulai memburu obligasi Amerika Serikat dengan imbal hasil jauh lebih menarik. Situasi tersebut membuat banyak mata uang emerging market kehilangan tenaga menghadapi dolar Amerika Serikat.
DPR Tekan Bank Indonesia
Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun ikut memberi sorotan keras terhadap pelemahan rupiah beberapa hari terakhir. DPR meminta Bank Indonesia membawa kembali rupiah menuju kisaran Rp16.500 sesuai asumsi makro APBN tahun 2026 mendatang. Permintaan tersebut muncul setelah rupiah belum pernah menyentuh target pemerintah sejak awal tahun berjalan.
“Kita minta rupiah kembali menuju level Rp16.500 sesuai kesepakatan APBN,” ujar Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun. Politikus Golkar tersebut menilai pelemahan rupiah mulai memberi tekanan besar terhadap aktivitas impor industri nasional. Sejumlah sektor manufaktur mulai menghadapi lonjakan biaya bahan baku akibat kurs dolar terus meningkat.
Perry Warjiyo mencoba memberi sinyal optimistis mengenai arah rupiah beberapa bulan mendatang kepada anggota DPR RI kemarin. Gubernur BI memperkirakan rupiah mulai menguat kembali memasuki periode Juli hingga Agustus tahun 2026 mendatang. Target penguatan diprediksi bergerak menuju kisaran Rp16.200 sampai Rp16.800 per dolar Amerika Serikat.
“Juli dan Agustus rupiah diprediksi mulai menguat kembali,” kata Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo di Jakarta, Senin, 18 Mei 2026. Perry menyebut pola penguatan biasanya muncul ketika tekanan global mulai mereda memasuki pertengahan tahun berjalan. Pernyataan tersebut sedikit menenangkan pasar meski tekanan dolar masih terasa sangat kuat.
Bank Besar Jual Dolar Mahal
Tekanan pasar mulai terlihat pada kurs jual dolar sejumlah bank besar nasional perdagangan Senin sore kemarin. HSBC tercatat menjual dolar Amerika Serikat pada kisaran Rp17.870 per dolar sepanjang perdagangan domestik. UOB juga membanderol kurs jual dolar mencapai Rp17.830 per dolar Amerika Serikat kepada nasabah.
Bank BCA memasang kurs jual e-rate mencapai Rp17.673 per dolar Amerika Serikat sepanjang perdagangan kemarin sore. Bank Mandiri dan BNI juga ikut menaikkan kurs jual dolar mengikuti tekanan pasar global yang masih agresif. Kenaikan kurs bank menunjukkan permintaan dolar meningkat tajam sepanjang perdagangan domestik awal pekan.
Tekanan terhadap rupiah juga mulai terasa pada pasar obligasi nasional beberapa hari terakhir perdagangan domestik. Yield Surat Utang Negara tenor panjang terus naik mengikuti meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal nasional. Situasi tersebut membuat biaya utang pemerintah berpotensi ikut meningkat sepanjang tahun anggaran berjalan.
BI Didesak Naikkan Suku Bunga
Bank Indonesia sebenarnya sudah menggelontorkan berbagai langkah intervensi demi menjaga stabilitas pasar keuangan nasional beberapa bulan terakhir. Cadangan devisa tercatat terkuras lebih dari US$10 miliar guna menopang stabilitas nilai tukar rupiah domestik. BI juga memperbesar penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI menjaga likuiditas pasar.
“Kenaikan BI Rate dibutuhkan untuk mengurangi distorsi suku bunga sektor perbankan,” ujar Strategist Mega Capital Sekuritas Lionel Priyadi. Pernyataan tersebut memunculkan spekulasi pasar mengenai peluang kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia waktu dekat. Banyak pelaku pasar menilai langkah agresif diperlukan demi meredam tekanan terhadap rupiah.
Pengamat ekonomi Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipicu ekspektasi suku bunga tinggi Amerika Serikat lebih lama lagi. Harga energi mahal membuat inflasi Amerika Serikat sulit turun menuju target Federal Reserve beberapa waktu mendatang. Akibatnya, investor global lebih nyaman menempatkan dana menuju aset berbasis dolar Amerika Serikat.
Purbaya Tetap Santai
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan anggaran subsidi energi nasional masih aman meski rupiah terus mengalami pelemahan tajam. Pemerintah disebut sudah memperhitungkan perubahan kurs dalam penyusunan skenario APBN nasional beberapa waktu terakhir. Purbaya menolak menjelaskan detail asumsi kurs terbaru demi menghindari salah tafsir pasar.
“Kalau saya senyum berarti ekonomi bagus, nanti rupiah juga ikut bagus,” ujar Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sambil tersenyum. Pernyataan santai tersebut langsung viral media sosial ketika publik masih cemas melihat rupiah terus melemah. Banyak investor berharap pemerintah segera mengeluarkan langkah konkret meredam kepanikan pasar domestik.
Pasar keuangan nasional masih menghadapi tekanan besar akibat kombinasi sentimen global dan arus modal asing keluar domestik. Investor ritel mulai berhati-hati setelah pasar saham serta obligasi bergerak liar sepanjang perdagangan beberapa hari terakhir. Perhatian publik akhirnya tertuju penuh pada hasil rapat ekonomi tertutup di Istana Negara Jakarta. R-02

