Serie A Italia
Lazio Hancur di Olimpico, Roma Selangkah Lagi Rebut Tiket Liga Champions
Pemain AS Roma, Gianluca Mancini (kiri), berebut bola dengan pemain Lazio, Tijjani Noslin, dalam pertandingan Serie A, Minggu (17/5/2026) malam WIB. (c) AP Photo
ITALIA, SabangMerauke News - AS Roma mengguncang Stadion Olimpico setelah menekuk Lazio 2-0 dalam Derby della Capitale, Minggu, 17 Mei 2026 malam WIB. Gianluca Mancini berubah menjadi mimpi buruk Lazio lewat dua sundulan tajam dari situasi bola mati mematikan. Tambahan tiga poin membuat Roma makin dekat mengamankan tiket Liga Champions musim depan dari persaingan panas Serie A.
Kemenangan derby terasa penting bagi Roma setelah persaingan empat besar Serie A makin sesak menjelang akhir musim kompetisi. Giallorossi tetap bertahan di posisi keempat klasemen sementara dengan koleksi 73 poin dari 37 pertandingan musim ini. Sementara Lazio tertahan di posisi kesembilan dengan 51 poin dan mulai kehilangan napas menuju kompetisi Eropa.
Roma langsung tancap gas sejak menit awal seperti mesin tua Italia yang mendadak hidup tanpa aba-aba panjang di Olimpico. Peluang pertama muncul lewat sundulan Bryan Cristante pada menit keempat, namun bola melayang tipis di atas mistar gawang. Lazio tampak belum benar-benar panas ketika Roma mulai menebar tekanan dari berbagai sisi lapangan pertandingan.
Wesley Franca ikut membuat lini belakang Lazio bekerja keras sepanjang awal babak pertama berjalan cukup keras dan cepat. Pemain muda Roma tersebut sempat melepas ancaman berbahaya, namun Alessio Furlanetto masih sigap menghalau bola dari gawang Lazio. Roma terus menyerang seperti ombak sore musim panas, datang bergelombang tanpa memberi ruang bernapas kepada lawan.
Lazio mencoba keluar dari tekanan melalui serangan balik cepat memanfaatkan celah pertahanan Roma saat momentum sedikit mengendur perlahan. Matteo Cancellieri sempat melepas tendangan keras menuju gawang Roma pada menit ke-23. Namun, Mile Svilar tampil tenang seperti penjaga malam, lalu mematahkan peluang Lazio dengan penyelamatan penting.
Pertandingan berjalan panas sejak pertengahan babak pertama ketika kedua tim mulai bermain lebih keras dan emosional di lapangan. Lazio bahkan sempat menjebol gawang Roma, namun gol tersebut dianulir akibat posisi offside yang lebih dulu terlihat jelas. Derby ibu kota Italia memang jarang berjalan dingin, apalagi saat tensi klasemen ikut memanaskan suasana stadion.
Kebuntuan akhirnya pecah menjelang akhir babak pertama lewat skenario klasik sepak pojok yang mematikan bagi Lazio malam itu. Gianluca Mancini menyambut umpan Niccolò Pisilli dengan sundulan keras tanpa mampu dibendung kiper Alessio Furlanetto di depan gawang. “Kami bermain penuh energi dan tidak memberi Lazio ruang berkembang,” ujar Gian Piero Gasperini, pelatih Roma.
Gol tersebut membuat Stadion Olimpico bergemuruh seperti mesin kereta tua melintas cepat di tengah malam kota Roma yang panas. Lazio terlihat sedikit goyah setelah kebobolan, sementara Roma makin percaya diri mengontrol ritme pertandingan hingga turun minum. Skor 1-0 bertahan sampai babak pertama selesai, dengan Roma terlihat lebih tajam dalam memanfaatkan peluang.
Memasuki babak kedua, Lazio mencoba menaikkan intensitas permainan demi mengejar ketertinggalan dari rival sekota mereka malam itu. Maurizio Sarri meminta pemainnya bermain lebih agresif dan berani menekan sejak area pertahanan Roma demi mencuri momentum pertandingan. Namun, penyelesaian akhir Lazio terasa tumpul seperti pisau dapur lama yang kehilangan mata tajamnya perlahan.
Roma tetap bermain disiplin sambil menunggu kesempatan menyerang balik lewat kecepatan Paulo Dybala dan Wesley Franca di depan. Dybala hampir menggandakan keunggulan lewat tendangan bebas cantik, namun Furlanetto masih mampu menepis bola keluar lapangan. Lazio terlihat makin frustrasi ketika peluang demi peluang gagal berbuah gol penyama kedudukan sepanjang babak kedua.
Gol kedua Roma akhirnya datang lagi dari resep lama yang kembali sukses membuat pertahanan Lazio kehilangan keseimbangan permainan. Pada menit ke-66, Gianluca Mancini kembali menyundul bola sepak pojok hasil kiriman Paulo Dybala dengan sangat sempurna. Bola sempat disentuh Furlanetto, namun tetap meluncur masuk dan membuat publik Olimpico meledak penuh kegembiraan malam itu.
Mancini berubah seperti menara pengawas di udara, sulit dihentikan oleh pemain bertahan Lazio sepanjang pertandingan derby panas tersebut malam itu. Dua sundulannya terasa seperti palu besar menghantam ambisi Lazio mengejar tiket kompetisi Eropa musim depan mendatang. “Kami tahu laga derby selalu emosional, jadi fokus menjadi hal paling penting malam ini,” ujar Gianluca Mancini.
Tensi pertandingan makin panas setelah gol kedua Roma membuat emosi pemain kedua tim mulai sulit dikendalikan sepenuhnya di lapangan. Keributan pecah pada menit ke-70 ketika Wesley Franca dan Nicolo Rovella terlibat benturan keras di tengah pertandingan. Wasit Fabio Maresca akhirnya mengeluarkan kartu merah langsung bagi dua pemain tersebut demi meredam situasi.
Meski bermain dengan sepuluh pemain, Roma tetap mampu menjaga ritme permainan hingga akhir pertandingan dengan cukup tenang malam itu. Lazio berusaha menekan melalui beberapa serangan cepat, namun pertahanan Roma tampil disiplin dan sulit ditembus sepanjang laga. Mile Svilar juga tampil solid di bawah mistar gawang dengan beberapa penyelamatan penting sepanjang babak kedua.
Statistik pertandingan memperlihatkan Roma tampil jauh lebih efektif dibandingkan Lazio dalam memanfaatkan peluang sepanjang pertandingan derby malam itu. Roma mencatatkan 16 tembakan dengan tujuh mengarah tepat sasaran, sedangkan Lazio hanya menghasilkan dua tembakan akurat. Sepak pojok juga menjadi senjata utama Roma setelah dua gol lahir dari situasi bola mati mematikan.
Kemenangan tersebut membuat Gian Piero Gasperini semakin dekat membawa Roma kembali tampil di Liga Champions musim depan. Setelah beberapa musim naik turun, Roma mulai menemukan irama permainan agresif dan disiplin menjelang penutupan musim Serie A. Gasperini perlahan membentuk Roma seperti tim pekerja keras, tidak banyak bicara, namun memukul lawan secara efektif.
Sebaliknya, Lazio pulang dengan wajah murung setelah gagal memenangkan laga paling emosional bagi publik ibu kota Italia tersebut. Posisi kesembilan membuat peluang tampil di kompetisi Eropa makin menipis menjelang akhir musim kompetisi Serie A musim ini. Maurizio Sarri memiliki pekerjaan berat untuk memperbaiki konsistensi Lazio yang beberapa kali tampil kehilangan arah musim ini.
Malam di Olimpico akhirnya berubah menjadi pesta merah kuning setelah Roma menaklukkan rival sekota dengan cara yang sangat meyakinkan. Dua sundulan Gianluca Mancini menjadi cerita utama derby panas penuh tensi, emosi, dan aroma persaingan klasik kota Roma malam itu. Lazio tumbang, Roma melaju, sementara publik Olimpico pulang membawa senyum lebar menuju mimpi Liga Champions musim depan. R-02

