Rupiah Ditutup Menguat Tipis Setelah Sempat Menembus Level Rp17.500 per Dolar AS
Ilustrasi kurs Dolar AS terhadap Rupiah Indonesia. (ist)
JAKARTA, SabangMerauke News - Rupiah akhirnya bernapas tipis sesudah nyaris terpukul menuju jurang terdalam perdagangan modern Indonesia. Nilai tukar rupiah ditutup menguat Rp53 menuju level Rp17.476 per dolar Amerika Serikat menjelang libur panjang nasional pekan ini, Rabu, 13 Mei 2026. Meski menguat tipis, tekanan besar masih membayangi pasar domestik sesudah dolar Amerika Serikat terus menggila sepanjang tahun.
Perdagangan pasar valuta asing sejak pagi terasa seperti roller coaster tanpa rem di tengah ketegangan ekonomi global. Rupiah sempat jatuh menuju level Rp17.535 per dolar Amerika Serikat sebelum perlahan berbalik ke area penguatan sore hari. Situasi tersebut membuat pelaku pasar domestik bergerak hati-hati sambil menunggu arah kebijakan global berikutnya.
Data pasar spot menunjukkan rupiah menguat sekitar 0,30 persen dibanding perdagangan sehari sebelumnya pada Selasa pekan ini. Namun secara mingguan, mata uang Garuda masih melemah 0,51 persen dibanding posisi perdagangan Rabu 6 Mei 2026. Tekanan jangka pendek masih terlihat kuat meski Bank Indonesia mulai memperketat langkah stabilisasi pasar domestik.
Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR juga ikut mencatat penguatan perdagangan Rabu sore kemarin. Rupiah versi JISDOR bergerak menuju Rp17.498 per dolar Amerika Serikat dibanding posisi sebelumnya di level Rp17.514. Dalam sepekan terakhir, kurs JISDOR masih mencatat pelemahan sekitar 0,52 persen terhadap dolar Amerika Serikat.
Rupiah kini tercatat menjadi salah satu mata uang emerging market dengan performa terburuk sepanjang tahun 2026 berjalan. Pelemahan rupiah sejak awal tahun sudah mendekati lima persen akibat tekanan global dan sentimen domestik terus memburuk. Di kawasan Asia, posisi rupiah hanya sedikit lebih baik dibanding rupee India sepanjang tahun ini.
Bloomberg mencatat rupee India melemah 6,1 persen sejak awal tahun 2026 hingga perdagangan pertengahan Mei berjalan. Rupiah menyusul tepat di belakangnya dengan tekanan besar akibat kekhawatiran fiskal dan kenaikan harga minyak dunia. Situasi tersebut membuat pasar keuangan Indonesia terlihat lebih rapuh dibanding negara Asia Tenggara lainnya.
Meski begitu, perdagangan Rabu kemarin menghadirkan sedikit ruang bernapas bagi pasar domestik menjelang libur panjang nasional. Rupiah bergerak menguat bersama won Korea Selatan yang naik sekitar 0,32 persen terhadap dolar Amerika Serikat. Baht Thailand, peso Filipina, ringgit Malaysia, hingga yuan China juga ikut bergerak menghijau sepanjang perdagangan.
Sementara itu, yen Jepang justru bergerak melemah sekitar 0,12 persen pada perdagangan pasar Asia hari Rabu kemarin. Dolar Singapura dan dolar Taiwan juga tercatat turun tipis saat investor memburu aset berbasis dolar Amerika Serikat. Indeks dolar Amerika Serikat sendiri menguat 0,22 persen menuju level 98,51 sepanjang perdagangan global.
Research and Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange, Muhammad Amru Syifa, menilai penguatan rupiah dipicu aksi ambil untung. Pelaku pasar mulai melepas dolar Amerika Serikat sesudah penguatannya melonjak tajam beberapa hari terakhir. “Penguatan rupiah terjadi seiring aksi profit taking dolar AS pasca penguatan sebelumnya,” ujar Muhammad Amru Syifa, Rabu, 13 Mei 2026.
Menurut Muhammad Amru Syifa, pasar global sedang menunggu rilis data inflasi produsen Amerika Serikat pekan ini nanti. Investor juga menanti hasil pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing. Pertemuan tersebut dinilai penting karena dapat menentukan arah hubungan perdagangan global beberapa bulan mendatang.
Perwakilan Amerika Serikat dan China sebelumnya bertemu lebih dulu di Seoul untuk mempersiapkan agenda pertemuan kedua pemimpin dunia. Media pemerintah China, Xinhua, menyebut pembicaraan berlangsung jujur, mendalam, serta konstruktif terkait isu ekonomi global. Pasar berharap hubungan dua raksasa ekonomi dunia tersebut tidak kembali memanas seperti beberapa tahun lalu.
Muhammad Amru Syifa menjelaskan bahwa tekanan geopolitik Timur Tengah juga mulai mengubah strategi besar pelaku pasar global saat ini. Sebagian investor melakukan reposisi aset sehingga tekanan terhadap mata uang emerging market sedikit mulai mereda dalam beberapa hari terakhir. Meski begitu, risiko global tetap membayangi pergerakan rupiah dalam jangka pendek sampai menengah.
Bank Indonesia juga mulai memperkuat langkah stabilisasi demi menjaga rupiah tetap bergerak terkendali di pasar domestik nasional. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, memastikan bank sentral tetap optimistis terhadap kekuatan fundamental ekonomi Indonesia. “Rupiah akan stabil dan cenderung menguat karena fundamental ekonomi Indonesia cukup baik,” kata Ramdan Denny Prakoso di Jakarta.
Bank Indonesia memperkuat intervensi pasar valuta asing, menjaga likuiditas pasar uang, dan membeli Surat Berharga Negara sekunder. Langkah tersebut dilakukan demi mengurangi tekanan besar terhadap rupiah sesudah dolar Amerika Serikat terus menguat secara global. Pengawasan pembelian dolar Amerika Serikat dari bank dan korporasi juga diperketat sepanjang pekan berjalan.
Ramdan Denny Prakoso menjelaskan bahwa kebutuhan dolar Amerika Serikat di dalam negeri memang sedang meningkat cukup signifikan belakangan ini. Permintaan datang dari pembayaran utang luar negeri, repatriasi dividen, hingga kebutuhan masyarakat menjelang musim umrah dan haji. Kondisi tersebut membuat tekanan permintaan dolar meningkat tajam dibandingkan dengan beberapa bulan sebelumnya.
Meski berada dalam tekanan besar, Bank Indonesia tetap mencatat arus modal asing mulai kembali masuk ke pasar domestik. Awal triwulan kedua 2026 menghadirkan aliran modal asing sekitar 3,3 miliar dolar Amerika Serikat menuju pasar nasional. Sebelumnya, pasar Indonesia sempat mengalami arus keluar modal asing sebesar 1,7 miliar dolar Amerika Serikat.
Cadangan devisa Indonesia per April 2026 juga masih berada pada level cukup tebal untuk menopang stabilitas ekonomi nasional. Posisi cadangan devisa tercatat mencapai 146,2 miliar dolar Amerika Serikat hingga akhir April tahun ini. Angka tersebut dinilai cukup kuat menopang kebutuhan impor dan pembayaran utang luar negeri Indonesia.
Tekanan terhadap rupiah juga datang bersamaan dengan guncangan besar pasar saham domestik sepanjang perdagangan pekan ini. Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG sempat longsor hampir dua persen menuju level terendah sejak April 2025. Situasi tersebut terjadi sesudah MSCI menghapus beberapa saham Indonesia dari indeks globalnya.
Head of Research Kiwoom Securities Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menilai kondisi pasar domestik masih berada dalam fase sensitif. “Kegelisahan investor meningkat setelah USD/IDR menembus level psikologis Rp17.500 menjelang libur panjang,” ujar Liza Camelia Suryanata. Menurut Liza, sentimen pasar Indonesia kini berbeda dibandingkan dengan mayoritas negara Asia lainnya.
Beberapa negara emerging market Asia justru menikmati sentimen positif dan aliran dana masuk sepanjang perdagangan pekan ini berlangsung. Won Korea Selatan tampil kuat sementara indeks Kospi melonjak lebih dari dua persen perdagangan harian. Ringgit Malaysia juga bergerak stabil berkat dukungan harga komoditas dan kondisi fiskal relatif terkendali.
Sebaliknya, pasar Indonesia masih dibayangi isu disiplin fiskal, regulasi pasar modal, dan independensi bank sentral nasional belakangan ini. Moody’s bahkan telah menurunkan outlook kredit Indonesia menjadi negatif beberapa waktu lalu demi merespons kondisi ekonomi domestik. Situasi tersebut memperbesar kecemasan investor asing terhadap arah kebijakan ekonomi nasional saat ini.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, meminta masyarakat tidak panik menghadapi tekanan besar terhadap nilai tukar rupiah pekan ini. Menurut Purbaya, kondisi ekonomi Indonesia tidak akan kembali jatuh seperti pada masa krisis moneter tahun 1998 silam. “Enggak perlu panik karena fondasi ekonomi Indonesia masih bagus,” ujar Purbaya Yudhi Sadewa di Jakarta Selatan.
Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa pemerintah sedang menyiapkan langkah tambahan untuk membantu stabilitas pasar keuangan domestik nasional saat ini. Dukungan tersebut dilakukan melalui intervensi pasar obligasi memakai skema Bond Stabilization Fund atau BSF pada beberapa waktu mendatang. Strategi tersebut diharapkan mampu menjaga yield obligasi tetap terkendali dan mencegah arus keluar modal asing.
Menurut Purbaya, kenaikan yield obligasi yang terlalu tinggi dapat memicu capital loss investor asing pemegang surat utang domestik nasional. Jika kondisi tersebut terjadi, tekanan terhadap rupiah berpotensi menjadi semakin besar dan sulit dikendalikan dalam waktu singkat. Karena itu, stabilisasi pasar obligasi menjadi fokus penting pemerintah bersama Bank Indonesia beberapa hari mendatang.
Menjelang libur panjang nasional, pasar domestik kini bergerak seperti arena penuh ketegangan dan spekulasi tajam investor harian. Pelaku pasar terus memantau arah suku bunga The Fed, konflik Timur Tengah, serta pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping. Rupiah memang mulai bernapas tipis, namun bayangan dolar Amerika Serikat masih terasa sangat menakutkan. R-02

