Harga Cabai Meledak, Beras Merangkak Naik, Emak-Emak Mulai Panik di Pasar Tradisional
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan (kanan) dan Menteri Perdagangan Budi Santoso (kiri) saat meninjau di Pasar Palmerah, Jakarta, Rabu, 13 Mei 2026. (sumber: rri.com)
JAKARTA, SabangMerauke News - Harga pangan nasional kembali bikin napas dapur tersengal. Cabai rawit merah melesat sampai Rp69.100 per kilogram saat beras perlahan merangkak naik. Nilai tukar rupiah ikut melemah menuju Rp17.500 per dolar Amerika Serikat sehingga pasar tradisional mulai terasa makin panas.
Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional milik Bank Indonesia mencatat lonjakan beberapa komoditas utama sejak Rabu pagi, 13 Mei 2026. Kenaikan paling mencolok terjadi pada kelompok cabai yang mendadak seperti roket kehilangan rem. Kondisi itu mulai memicu kekhawatiran warga berpenghasilan harian di berbagai daerah.
Cabai rawit merah melonjak 6,55 persen atau naik Rp4.250 menjadi Rp69.100 per kilogram. Cabai merah besar ikut menanjak 5,25 persen menjadi Rp54.100 per kilogram pada perdagangan hari ini. Cabai merah keriting juga bergerak liar setelah naik 4,52 persen menuju Rp50.850 per kilogram.
Cabai rawit hijau tidak mau tertinggal dalam arus kenaikan harga pasar tradisional. Komoditas pedas itu naik 2,85 persen atau bertambah Rp1.400 menjadi Rp50.450 per kilogram. Pedagang mulai mengeluhkan pasokan tersendat akibat distribusi dan cuaca tidak menentu.
Harga beras juga bergerak naik meski lajunya tidak segalak kelompok cabai. Beras kualitas bawah II naik 0,69 persen menjadi Rp14.650 per kilogram pada perdagangan pagi. Beras kualitas medium II ikut terdorong naik tipis menuju Rp16.000 per kilogram.
Sementara itu, beras kualitas bawah I masih tertahan stabil pada level Rp14.500 per kilogram. Beberapa jenis beras premium justru mengalami koreksi harga di pasar tradisional. Beras super I turun menjadi Rp16.900 per kilogram setelah terkoreksi cukup dalam hari ini.
Beras medium ikut melemah 1,24 persen menjadi Rp15.900 per kilogram. Penurunan terdalam terjadi pada beras super II setelah turun 2,37 persen menuju Rp16.500 per kilogram. Kondisi itu membuat pasar beras terlihat bergerak tidak seragam dalam beberapa hari terakhir.
Sektor protein hewani menunjukkan pola berbeda dibandingkan dengan kelompok cabai dan beras. Daging sapi kualitas dua naik tipis menjadi Rp139.450 per kilogram setelah bertambah Rp500 dari sebelumnya. Namun, daging sapi kualitas satu justru turun menuju Rp146.350 per kilogram.
Harga ayam ras segar dan telur ayam ras malah kompak mengalami penurunan cukup dalam pekan ini. Daging ayam turun 3,07 persen menjadi Rp37.900 per kilogram pada pasar tradisional nasional. Telur ayam ras anjlok 6,08 persen sehingga menyentuh harga Rp29.350 per kilogram.
Bawang merah dan bawang putih juga mengalami pelemahan harga secara nasional. Bawang merah ukuran sedang turun menjadi Rp45.800 per kilogram setelah terkoreksi Rp550 dari harga sebelumnya. Bawang putih ukuran sedang ikut melemah menuju Rp38.350 per kilogram.
Minyak goreng dan gula pasir terlihat menjadi kelompok pangan paling adem pada pekan ini. Minyak goreng curah turun 1,21 persen menjadi Rp20.350 per kilogram di pasar tradisional Indonesia. Minyak goreng kemasan bermerek satu ikut turun menjadi Rp23.350 per kilogram.
Minyak goreng kemasan bermerek dua hanya turun tipis menuju Rp22.950 per kilogram. Gula pasir lokal ikut terkoreksi menjadi Rp18.950 per kilogram setelah turun Rp250 dari sebelumnya. Gula premium juga melemah menuju Rp19.900 per kilogram.
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, mulai menyiapkan langkah antisipasi menghadapi gejolak harga pangan nasional. Pemerintah akan menurunkan subsidi saat harga melampaui batas HET maupun HAP di lapangan. Langkah cepat disiapkan agar lonjakan harga tidak makin menekan daya beli masyarakat.
“Kita tetap akan jaga kalau harga melampaui HET atau HAP,” ujar Zulkifli Hasan, Rabu, 13 Mei 2026. “Pemerintah akan turun tangan memberikan subsidi agar harga tetap terkendali,” sambungnya ketika meninjau Pasar Palmerah Jakarta pada Rabu pagi, 13 Mei 2026, tadi.
Zulkifli Hasan mengatakan pemerintah pusat dan daerah memiliki anggaran untuk menghadapi gejolak harga pangan nasional. Subsidi dapat diarahkan pada biaya distribusi maupun harga barang agar pasar kembali seimbang. Pemerintah daerah juga diminta bergerak cepat saat menemukan lonjakan harga di wilayah masing-masing.
“Kalau lambat nanti ibu-ibunya sudah mogok lalu semua jadi repot,” kata Zulkifli Hasan. Menurut dia, respons cepat menjadi kunci untuk menjaga stabilitas harga pangan menjelang pertengahan tahun 2026. Perum Bulog dan Badan Gizi Nasional ikut disiapkan untuk menjaga cadangan pangan tetap aman.
Di tengah gejolak pangan nasional, nilai tukar rupiah ikut memperkeruh suasana perdagangan komoditas impor Indonesia. Rupiah dibuka melemah menuju Rp17.500 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Rabu pagi hari ini. Pelemahan kurs dinilai dapat menekan harga kedelai, bawang putih, gandum, serta daging sapi impor.
Menteri Perdagangan, Budi Santoso, menilai kondisi harga bahan pokok nasional sebenarnya masih relatif stabil hingga pertengahan Mei 2026. Pemerintah terus memantau pasokan dan distribusi agar gejolak harga tidak melebar ke banyak daerah. Penyerapan pangan melalui program Makan Bergizi Gratis juga terus diperkuat pemerintah pusat.
“Untuk harga telur masih Rp27 ribu per kilogram dan berada di bawah harga acuan,” ujar Budi Santoso. Mendag mengatakan pasokan beras SPHP serta MinyaKita masih tersedia cukup dalam beberapa wilayah nasional. Distribusi menuju kawasan timur Indonesia juga mulai diperkuat bersama Perum Bulog dan BUMN pangan.
Meski begitu, warga mulai merasakan tekanan belanja rumah tangga akibat kenaikan beberapa bahan pangan utama nasional. Sebagian pembeli mulai mengurangi pembelian cabai serta beralih mencari bahan alternatif yang lebih murah di pasar. Kondisi itu terasa makin berat saat kenaikan terjadi hampir bersamaan dalam waktu berdekatan. R-02

