Pakar Sebut Rupiah Ambruk Akibat MBG dan Koperasi Merah Putih
Ilustrasi kurs Dolar AS terhadap Rupiah Indonesia. (ist)
JAKARTA, SabangMerauke News - Data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal pertama 2026 yang tinggi tak mampu mengerem pelemahan rupiah. Mata uang Garuda kembali mencetak rekor terlemah baru, terperosok ke level Rp17.424 per dolar Amerika Serikat (AS), Selasa sore, 5 Mei 2026.
Kondisi pasar keuangan domestik tampak sangat rapuh meskipun fundamental ekonomi terlihat sedang tumbuh sangat sehat. Kurs Jisdor Bank Indonesia ikut mencatat angka Rp17.425 yang merupakan posisi terendah sepanjang sejarah nasional. Pelemahan ini terjadi secara beruntun selama lima hari perdagangan terakhir tanpa ada tanda-tanda pemulihan.
Pakar Ekonomi Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, menilai persoalan fiskal lebih memicu pelemahan tajam mata uang. "Bank Sentral itu ibarat mobil, fungsinya menginjak rem atau mengegas," ujar Rahma menjelaskan analoginya. Menurutnya, kegagalan stabilitas kurs saat ini bersumber dari masalah pada mesin utama, yakni kebijakan pemerintah.
Badan Pusat Statistik melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai angka 5,61 persen pada kuartal pertama lalu. Capaian impresif tersebut sebenarnya merupakan pertumbuhan tertinggi sejak periode kuartal ketiga tahun 2022 silam. Namun, investor justru fokus pada defisit anggaran serta keberlanjutan utang yang dianggap sangat berisiko.
Pasar menyoroti agresivitas belanja negara untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta Koperasi Desa Merah Putih. Rahma mempertanyakan sumber pendanaan program raksasa tersebut di tengah kondisi bantalan fiskal yang sangat tipis. Investor asing menjadi sangat sensitif terhadap setiap kebijakan belanja yang dianggap kurang kredibel serta hati-hati.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengungkapkan aliran modal asing sebenarnya masih deras masuk ke Indonesia. Data menunjukkan akumulasi inflow mencapai Rp10,4 triliun neto hingga akhir periode bulan April kemarin. Purbaya optimis bahwa fondasi ekonomi yang bagus seharusnya membuat nilai tukar menguat sesuai kondisi fundamental riil.
Sentimen pasar tetap tertekan hebat setelah pasukan militer AS dan Iran melancarkan serangan baru lagi. Analis mata uang Ibrahim Assuaibi menyebut eskalasi Timur Tengah efektif menghancurkan gencatan senjata yang sempat ada. Kontak senjata di Selat Hormuz memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak mentah dunia dalam jangka panjang.
Militer Amerika Serikat dilaporkan menghancurkan enam kapal serang kecil milik Iran di jalur air strategis. Sementara itu, Iran menargetkan infrastruktur energi di Uni Emirat Arab sebagai balasan atas tindakan tersebut. Gejolak perang ini membuat indeks dolar AS terus menguat perkasa di angka 98,48 hari ini.
Mata uang Asia lain seperti yen Jepang dan rupee India juga ikut mengalami tekanan pelemahan. Hanya beberapa mata uang seperti won Korea dan yuan China yang mampu bertahan melawan dominasi dolar. Bank Indonesia menyatakan terus hadir melakukan intervensi melalui pasar spot maupun obligasi negara secara terukur.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia, Erwin G. Hutapea, memastikan stabilitas nilai tukar tetap terjaga. "Bank Indonesia akan terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik," tegasnya. Intervensi dilakukan secara masif guna meredam volatilitas yang berpotensi merusak iklim investasi dalam negeri sekarang.
Analis memperkirakan pergerakan rupiah pada Rabu, 6 Mei 2026, masih akan berada di zona merah. Level Rp17.420 hingga Rp17.460 diprediksi menjadi rentang pergerakan mata uang Garuda dalam perdagangan besok pagi. Ketidakpastian geopolitik global masih menjadi faktor utama yang sulit diprediksi oleh para pelaku pasar keuangan.
Pemerintah dituntut segera menunjukkan pengelolaan fiskal yang jauh lebih kredibel demi meyakinkan para pemegang modal. Kepercayaan investor menjadi kunci utama untuk menarik kembali dana asing ke pasar saham domestik. Tanpa langkah nyata dari otoritas fiskal, intervensi Bank Indonesia dikhawatirkan hanya akan menggerus cadangan devisa.
Daya beli masyarakat memang masih menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi dengan kontribusi mencapai 54 persen. Belanja pemerintah yang melonjak hampir 22 persen, sayangnya, belum mampu memberikan dampak positif bagi kurs. Sinergi antara kebijakan moneter dan fiskal sangat mendesak dilakukan agar rupiah tidak semakin terpuruk.
Masyarakat diharapkan tetap tenang menghadapi fluktuasi nilai tukar yang sedang terjadi pada awal Mei ini. Pemerintah berjanji akan menjaga stabilitas harga pangan meski tekanan eksternal terhadap kurs rupiah sangat berat. Mari kita pantau bersama bagaimana otoritas berwenang menjinakkan dolar yang kini sedang mengamuk di pasar. R-02

